Thursday, 5 June 2014

Surat Untuk Adik Presiden Soeharto : Probosutedjo




Saat itu saya masih SMP, antara tahun 1994/1995. Sekolah memutuskan study tour ke Jakarta. 
Bagi orang kampung seperti saya, kala itu, mendengar kata Jakarta saja sudah merinding (saking kagumnya). Tapi orang tua yang tak punya cukup dana sempat membuat hati saya terluka. 
Amboiiii sedihnya. 


Lalu tanpa sengaja, di majalah lokal terbitan Semarang saya menemukan alamat konglomerat Probosutedjo, adiknya Presiden Suharto. Munculan ide.

Dengan pemikiran polos saya menulis surat untuk Probosutedjo, kurang lebih begini isinya :

Kepada 

Yth : Bapak Probosutedjo
di Jakarta

Saya Mugi Rahayu, siswi SMP, tinggal di satu desa tertinggal di Jawa Tengah. Sekolah saya akan mengadakan study tour ke Jakarta tapi orang tua saya tidak punya uang untuk biayanya. Karena itu saya mohon bantuan Bapak untuk sudi kiranya memberi sedikit bantuan pada saya, Rp. 20.000  saja, agar anak kampung  seperti saya bisa melihat megahnya ibukota.

Mohon maaf atas kelancangan saya

Terimakasih

Mugi Rahayu

Surat saya kirim di kantor pos tak jauh dari sekolah. Tak berharap banyak akan mendapat balasan, karena saya tahu, mungkin sekali surat saya tak akan pernah di baca. Apalagi tulisan tangan saya sangat jelek.
Tapi selang beberapa minggu, saya terhenyak..tak percaya melihat kartu wesel warna kuning nangkring manis di depan kantor Tata Usaha  (TU) dengan nama saya tertulis indah. Dan Olala....ada nominal angka Rp 100.000 di sana.
Weladalah...mau pingsan rasanya. Disaat itu  jumlah Rp.100.000 adalah nilai yang sangat-sangat besar..apalagi bagi anak dari keluarga miskin seperti saya. 

Siapa pengirimnya? Walah..kok bukan Probosutedjo...tapi nama yang sungguh saat ini saya telah lupa. Menurut petugas TU, kemungkinan itu nama pegawai atau ajudan Probosutedjo, karena jika di tulis Probosutedjo maka akan menimbulkan kehebohan.
Dengan kepala pening oleh kebahagiaan yang menumpuk saya lari ke kantor pos untuk menguangkan wesel itu. Dan uang Rp.100.000 mendarat dengan indah di kantong saya. Pulang ke rumah..amboi, bangganya orang tua saya.

Segera saya tulis surat balasan  sebagai ucapan terimakasih. tapi seminggu kemudian surat itu kembali dengan catatan : tidak ada nama yang dimaksud dialamat tersebut. Sungguh mulia penolong saya. Ia bahkan tak bersedia memberi nama yang sebenarnya. 

Uang itu lalu saya gunakan untuk membayar biaya study tour, membeli dua kaos, satu sepatu, dan satu tas punggung. Dan akhirnya dengan bangga dan semua serba baru saya tiba di Jakarta.

Kini 18 tahun sejak wesel itu saya terima, telah  14 tahun saya  tinggal di Jakarta. Pekerjaan saya  sangat memungkinkan untuk bersua Probosutedjo..tapi takdir belum mempertemukan kami.

Semoga suatu saat kami dipertemukan sehingga saya bisa mengucapkan terimakasih yang telah tertunda puluhan tahun. Terimakasih karena telah membagi saya kebahagiaan yang tak terlupakan hingga kini.


Sumber foto : Wikipedia

Wednesday, 4 June 2014

Tidur Berdiri

Ada satu capres yang mengaku saking sibuknya bisa tidur sambil berdiri. Owalah...soal kemampuan tidur berdiri ternyata kami memiliki persamaan ya, hanya saja jumlah tabungan di rekeninglah yang membedakan. Hahaha

Saudara...tidur berdiri sudah lama biasa saya lakukan di kopaja atau di kereta. 

Apakah saya tidak khawatir jatuh? Perlukah saya baju kepongpong (hahaha..korban iklan)? Tidak. Karena saking banyaknya orang di kereta dan kopaja maka badan akan terhimpit di sana sini. Alhasil badan saya akan tegak berdiri, dan tidur nyenyakpun tak masalah. Hahaha

Kadang memang ada sih penumpang yang kasihan melihat derita saya dan bersedia memberi bangku untuk saya tidur lebih baik, tapi itu hanya satu diantara 1000 orang. Selebihnya ya...tak rela karena mereka mungkin lebih menderita dari saya. Hahaahahha. 



Soal tidur diangkutan sayalah jagonya. Mau tidur berdiri oke, tidur duduk ya lebih oke. Tidur tengkurep? ya ndak boleh.. Hahahahha.

Bahkan saking lelapnya pernah saya dibangunkan oleh kernet metromini di terminal. Gemana tidak ngantuk bang.....wong saat itu saya berangkat dari rumah jam 3.30 WIB  karena jam 4.30 saya sudah harus duduk manis di kantor (ini terjadi ketika saya masih bekerja di salah satu radio).


Dan karena tidur nyenyak pula, saya sering ke bablasan. Bangun-bangun clingak clinguk kaya monyet nyari musuh ..bingung karena tidak tahu dimana berada. Hahaha

Begitulah..saudara..jika suatu saat anda naik angkutan umum dan ada seorang yang tidur pules ..mungkin itu adalah saya.Kasihan ya...?
Hahahhah



Sumber foto : www.tribunnews.com

Bali, Bedugul, Tawuran


Ketika orang sudah wara wiri ke Bali, dengan menahan malu saya mengakui.....saya ke Bali baru sekali, ketika saya masih "muda" kala SMA. Embel-embelnya juga untuk study tour, bukan happy tour.
Tak ada foto yang berhasil saya amankan ketika kesana. Entah dimana dan entah kenapa.

Kenangan Bali masih saya ingat sebagian. Kenangan itu menyelip diantara sekian banyak pikiran tentang tagihan-tagihan saya yang menuntut pelunasan. Hahahha

Tabanan, Pasar Sukowati, Tanah Lot, Bedugul, Kintamani, Pantau Kuta, Sangeh dan satu pabrik tekstil di Denpasar (saya lupa namanya) adalah tempat-tempat yang saya datangi.

Di Bedugul paling saya ingat..kenapa? Karena di sana terjadi tawuran antara beberapa teman saya dengan sejumlah siswa STM dari Semarang. Bus kami jadi sasaran kemaran darah muda (hahaha ..kaya lagi Bung Rhoma). Gara-garanya sepele, karena kembang sekolah kami yang cantik jelita di goda oleh mereka. Akibat tawuran inilah kami bisa merasakan "diamankan" polisi untuk pertama kalinya. Untung anggur dan salak Bali sudah terbeli. Hahahah

Empat rombongan bus kami di giring ke lapangan yang luas, lalu satu persatu kami diharuskan membongkar barang bawaan. Ya elah pak polisi..ndak bakal lah menemukan narkoba di tas saya...paling nemuinnya rebusan ketela. Hahhaha.

Bahkan ketika saya ijin mau ke toilet, bapak polisi dengan muka garang melarang. Mungkin dikiranya saya mau buang barang bukti. Lhaaa..yang ada mah sy mau buang air seni.

Setelah memohon-mohon, akhirnya saya di perbolehkan ke toilet dengan dikawal polisi..pria...owalahhh..ibu polwan kemana?.

Setelah berjam-jam di tahan akhirnya kami boleh pulang.
Pak Sopir kami yang semula jenaka laksana Mandra menjadi bermuram durja. Mungkin dia merenungi nasib kaca busnya yang pecah oleh lemparan batu bata.

Bali, pertengahan Juli 1997


Sumber foto : www.fotowisata.com

Tuesday, 3 June 2014

Filosofi Nini


Ketika SD saya sering membantu Nini (nenek) memanen padi. Bukan sawah sendiri, tapi sawah orang lain.

Sudah menjadi tradisi di kampung kami, ketika padi menguning, maka kami akan membantu memanen padi dengan sistem bagi hasil.
Panas terik dan rasa gatal terkena buluh batang padi tak kami hiraukan. Yang penting esok perut kita dijamin kenyang.

Menyabit padi menjadi bagian terberat. Dan merontokan padi menjadi bagian paling menyenangkan. Puas rasanya ketika melihat gabah menggunung walau badan kurus saya serasa ikut terbanting-banting dipematang sawah.

Tapi hal paling menyedihkan bagi saya adalah ketika tiba saat bagi hasil. Gabah yang susah payah kami rontokan dengan segera menyusut masuk ke dalam karung si empunya sawah. Hanya 10persen yang akan menjadi bagian saya dan Nini.


Saya pernah memprotes pembagian hasil ini, dan Nini memarahi saya.
"Sudah diperbolehkan membantu memanen dan mendapat bagian juga berkah. Jangan serakah"

Aihhhh.. kami pulang dengan badan gatal.

Sekilas saya melirik bayangan wajah saya di kolam ikan dan bertanya-tanya....serakahkah saya?


Monday, 2 June 2014

Menolak Gondrong


Saya lebih suka si Ken berambut gondrong. Lebih enak dilihat. Tapi bapaknya tidak suka. Jadi begitu rambut Si Ken gondrong maka akan terjadi perdebatan antara saya dan bapaknya memperebutkan keputusan Si Ken potong rambut atau tidak.
Lebih sering ya saya kalah. Begitu saya pulang kantor, pemandangan cukur mencukur di depan pintupun tak jarang saya saksikan. Hal ini terjadi karena si Ken lebih memilih " Salon Bapak" alias di cukur bapaknya sendiri ketimbang cukur di salon.

Heits...paling aneh kalau lihat Si Ken habis potong rambut. Mirip banget mas-mas jelang remaja. Imutnya akan hilang entah kemana. Badannya yang bongsor mendukung dia seperti badan anak SMP padahal masih TK... Hahaha.

Tapi tiga hari lalu Si Ken ngotot banget minta potong rambut. Ketika saya tanya alasannya apa, jawabannya pendek


" Ya pingin potong aja, kan sudah gondrong",

Dan hari ini..eng ing eng.. Saya memergoki Si Ken mematut-matut diri di depan kaca, sambil menyibak-nyibak rambutnya samping dan belakang.
"Tuh kan Bu..panjang.Potong dong Bu"
"Kok dipotong..kan bagusan panjang. Keni jadi kelihatan imut" jawab saya sambil juga ikut mematut matut diri.
"Habisnya..kalau panjang gini kaya perempuan Bu"

Hahah..saya tertawa geli "Siapa bilang?"
"Imun Bu.."

Hahha..saya makin tertawa geli...ternyata ini alasan dia ngotot minta potong rambut... dikatain rambutnya panjang sama cewek.

Siapa Imun? Imun adalah temen sekelas yang sangat Ken sukai

Olala..

Sunday, 1 June 2014

Air Mata Untuk Si House Keeper

Ketika saya masih pekerja lapangan, saya sering naik ojek dari Blok M-Lenteng Agung dan sebaliknya. Cara ini saya tempuh agar saya tidak gila menahan macet di dalam kopaja. 
Dan yang namanya tukang ojek, pasti macam-macam karakternya, ada yang baik/ramah, ada yang cuek/pendiam, ada yang menyetir kasar ada pula menyetir halus. 
Tapi, sekali saya temui tukang ojek yang galau. Waduh....mak..bagaikan saya ini sahabatnya, dia curhat sepanjang perjalanan. Saya yakin, saat orang yang melintas melihat pasti mereka menduga kami ini sahabat karib.
Hahaha....

Berikut beberapa potongan dialognya :

"Mba, house keeper  itu apa ya?"

Saya sebenarnya ingin tertawa, tapi saya tahan.

"Oh, ya..semacam penata, perawat  rumah atau apartemen dan hotel  bisa juga.. gitu lah bang.." Saya mencoba mencari padanan kata sehalus mungkin.

" Iya..istri saya tuh  ngakunya kerja jadi house keeper, demikian juga selingkuhannya. Dia sering memberi saya penjelasan dengan bahasa-bahasa aneh keinggris-inggrisan yang saya tidak mengerti mba. Pokoknya sekarang istri saya sangat gaya dah..Mentang-mentang saya hanya kerja begini, saya direndahkan, tidak dianggap.
Maaf ya mba saya cerita begini..saya sudah nggak kuat dan tidak tau harus cerita sama siapa. Mba kerja di radio kan? Biasanya kalau radio ada acara yang curhat-curhat gitu kan mba? Jadi bolehlah saya curhat sama mba, anggap saja saya pendengar radio yang lagi curhat"


Yaelah bangggg..radio saya kan radio berita, kalau radio yang curhat begituan radionya tetangga..hahaha


Bla..bla..bla. Suara si abang timbul tenggelam diantara suara deru kendaraan, klakson dan terompet tukang roti, hingga cerita selanjutnya yang sampai ke telinga saya juga hanya sepotong-sepotong terdengar.
Saya yang takut salah berkomentar hanya menjawab dengan kalimat -kalimat pendek " Oh gitu bang..Oh..gitu bang.."demikian seterusnya.

Hingga kemudian terdengar suara adzan magrib, si abang ojek minta ijin berhenti sebentar
"Maaf ya Mba, saya ijin buka puasa sebentar, hanya minum air putih kok. Saya muasain istri saya mba, sy berdoa agar istri saya segera sadar dan sakit hati saya hilang"

Waduh..sy lihat si abang ojek itu menangis.

Sejenak saya bengong.

Dalam hati..dengan sangat tulus, saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan doanya.
Sabar ya bang.....



Jakarta, 2005

Saldo Oh Saldo




Pernahkan anda berdiri termangu di depan ATM, terpaku melihat saldo yang sudah minimum alias tidak lagi bisa ditarik? Saya pernah, bahkan sering. Hahaha
Malah kadang saya iseng cek saldo (meski jelas- jelas saldo kosong) dan berharap tiba-tiba saya melihat ada angka 5 dengan 9 nol yang berbaris. Amboi..indahnya jika punya uang sebanyak itu ....tidur akan nyenyak, makan enak dan senyumpun akan mengembang laksana rengginang mekar dipenggorengan.

Bicara soal uang, adakah orang yang tak butuh uang? Ada. Orang yang tinggal di hutan dan terisolir dari dunia luar, tak butuh uang. Kebutuhan dasar hidup mereka telah di penuhi oleh alam dan juga di dukung sistem barter.

Lalu siapakah orang yang tidak dapat hidup tanpa uang? Banyak..banyak sekali. Terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Segala kebutuhan dasar harus dipenuhi dengan sejumlah uang. Hanya bersin dan kentut yang gratis..selebihnya bayar.
Lalu apa yang dilakukan orang kota bila sadonya nol. Cara termudah adalah pinjam. Hahaha... ini sering saya lakukan ( saudara-saudara saya mungkin sudah bosan memberikan piutang). Cara tercepat memang meminjam saudara atau teman. Jangan pinjam ke bank (KTA) karena akan keburu anda mati itu pinjaman baru keluar.

Cara kedua adalah menjual barang. Tapi ini juga tak mudah karena perkara menjual itu menurut saya tidaklah gampang, apalagi ketika kita sudah tidak punya lagi barang yang layak jual hahaha.

Cara ketiga adalah berdoa
Jangan remehkan kekuatan doa. Karena meremehkan doa berarti meremehkan Tuhan. Percayalah Tuhan selalu menolong kita dengan beragam cara. Berdoalah agar Tuhan memberi kita rejeki dari sumber yang tidak di duga.

Dan tahukan anda, saudara saat saya menulis ini..mulut saya juga komat kamit berdoa sambil menangis di depan ATM.
Mangharapkan rejeki yang tak terduga.

Hahahah..