Monday, 15 September 2014

Kehilangan Bulan Bintang

Di pinggir hutan, dikampung saya yang sunyi, langit malam  sangat mempesona. Seperti di Planetarium, penuh dengan bintang, plus satu bulan benderang. 

Tapi...begitu saya pindah ke Jakarta, langitnya tak saya minati. 
Jarang ada bintang muncul cemerlang. Bulanpun pucat buram, tersembunyi di balik asap knalpot kendaraan ibu kota yang hampir 24 jam tanpa jeda.


Dan...subuh kemarin, dengan tujuan mendapat udara segar,..saya Keni dan Kinan..keluar rumah.. Wow...ternyata ada sisa  purnama. 

Bulan yang pucat muncul disela-sela pohon. Keni meminta saya untuk mengabadikan dengan kamera saku. Hasilnya ya..seperti foto diatas. Maklum... menggunakan kamera saku sederhana. Itupun harus sabar menunggu awan yang sebentar-sebentar menumpang lewa.

Ah..melihat bulan buluk saja Si Ken suka....apalagi jika melihat bulan cerah lengkap dengan gemintangnya.

Indahnya Berbagi

Keluar dari kelas sains, teman-teman Ken terlihat membawa  miniatur pesawat  (terbuat dari kertas tebal). Sementara Ken hanya menenteng tas. 

Ketika saya tanya mana pesawatnya, ia menjawab diberikan ke teman .
Sayapun berpura-pura protes, dan bertanya apa alasan ia bersedia berbagi hasil karyanya.
Begini jawabannya ...
" Sudah lah Bu..tidak apa aku berbagi..tadi Dean (teman sekelasnya) minta pesawat buatanku karena akan diberikan ke adiknya."
Makin proteslah saya.
"Loh..Keni kan punya adik juga..kenapa Keni tidak berikan kepada adik Keni (Kinan)?'
"Tak apa Bu, biar Dean bisa bermain berdua dengan adiknya...Kinan masih kecil, belum mengerti main pesawat ..paling sama Kinan  hanya di gigit-gigit, kan dia apa saja di gigit, "

Mak Jleb..Jleb....
Niat baik Ken, dan logika juga alasan kenapa dia mau berbagi, betul betul membuat saya terharu..

Semoga kelak..sifat murah hati ini akan terbawa kemanapun dia pergi.


Terimakasih Ken

Saturday, 13 September 2014

Krakal : Waktu Serasa Kekal

Pantai Krakal di Gunung Kidul  DIY saya kunjungi puluhan tahun lalu, tetapi indahnya masih saya kenang hingga kini.

Untuk mencapai  Krakal, harus menempuh jalanan berkelok menantang maut dengan sisi kiri dan kanan jurang menganga. Dibutuhkan pengemudi yang handal agar bisa selamat sampai tujuan. 
Rasanya seperti olahraga jantung.
Tapi sebenarnya  perjalanan menegangkan ini bisa sedikit dinikmati, karena dibalik tandusnya lahan-lahan di Gunung  Kidul, ada bukit-bukit kapur, berselang seling dengan teras batu karang. 
Indah.  
Saya bayangkan Krakal dahulu kala ketika masih tenggelam seluruhnya (sebagai dasar laut), kemudian  mengalami proses pengangkatan secara alami, sehinga berubah menjadi dataran tinggi 
Batu-batuan karang yang timbul tenggelam di sela bukit kapur adalah  bekas rumah binatang karang kala itu.

Tapi begitu sampai dipantainya, ketegangan sepanjang perjalanan. terbayar dengan pemandangan mengagumkan.
Langit yang biru, seakan bersentuhan langsung  dengan permukaan laut yang berwarna serupa. Bukit-bukit yang membingkai pantai, menjadi latar yang mengagumkan.
Pasir yang lembut,dan ombak yang membawa aneka flora dan fauna laut membuat pantai ini juga ideal  untuk belajar langsung dari alam.

Puas bermain pasir, sore hari saya harus pulang sebelum jalanan menjadi gelap dan berbahaya 

Wow,,,ternyata perjalanan pulangpun tak kalah indah. Siluet  bukit batu, kebun jagung dan rimbun batang singkong, dipayungi  semburat lagit senja yang memerah,. 

Sun set yang syahdu.

Thursday, 11 September 2014

Mayonnaise Superindo Yesssss....


Sejak janin, Ken sudah menyukai kentang. Direbus, di goreng, di panggang.  Kentang selalu enak bukan?
Begitu lahir dan makan  diusia 6 bulan, kentang menjadi makanan yang paling lahap ia santap.
Setelah lepas masa batita, ia memilih kentang goreng sebagai favorite.

Lalu apa teman kentang di piringnya? Saos tomat bukan pilihan utamanya, tapi mayonnaise.
Beragam merk mayonnaise sudah dicoba. Dan yang terakhir ia cicipi adalah Mayonnaise With Eggs private label dari Superindo ( label 365, an tersedia beragam pilihan rasa).



Awalnya saya sangsi dengan rasa dan kualitasnya. Agak khawatir Ken tidak akan menyukainya. Tapi berhubung harganya sangat terjangkau  ( Rp. 29.000/500 ml, jauh lebih murah dari merk komersin lain), saya penasaran ingin mencobanya.
Dan ...ternyata...Ken suka. Satu piring ketang goreng ia lahap dengan 5 sendok makan mayonnaise....syukurlah..lega rasanya.

Jujur..selama ini tidak bergitu tertarik dengan private label yang banyak di keluarkan oleh sejumlah minimarket/supermarket. Harganya memang dibawah harga non private label, karena itu saya khawatir kualitasnya tidak bagus. Dan rupanya ke khawatiran saya tidak beralasan. Mayonnaise 365 contohnya

Jadi mulai hari ini saya tidak ragu lagi mencoba private label.
Lebih hemat loh.....

Coba yuk



Bintang dan Nasi Goreng


Setelah bertahun-tahun Ken tidak mau makan nasi, dua hari lalu, tiba-tiba, ia meminta dibuatkan bekal nasi goreng untuk ke sekolah. Sayapun girang bukan kepalang.
Seperti orang kesurupan jin baru gajian, saya pun memasak nasi goreng. Sambil merapal sedikit kalimat penyemangat (masak dengan happy akan menghasilkan makanan yummy), saya memotong aneka jenis sayur dan ikan (brokoli, sawi, wortel, buncis, dan salmon).

Maka jadilah Nasi Goreng Ikan Salmon Mix Vegetables.
Sambil tersenyum-senyum sekaligus  cemas saya buatlah bento nasi goreng. 

Begitu Ken berangkat kesekolah, sayapun berharap semoga rasa nasi goreng rock and roll saya mengena di lidahnya. Tak muluk berharap nasi  habis, tersisa separuhpun saya sudah akan tertawa senang.

Dan..eng ing eng... "keajaiban" pun terjadi. Di jalan pulang, Si Ken berkata..." Bu, nasi gorengnya enak banget...besok bikin lagi ya..nasinya hampir habis loh"
Wow...tubuh saya serasa ringan..melayang ke atas awan Comulus dan Nimbus.

Mungkin itu hanya nasi goreng tanpa resep resmi, nasi goreng dadakan. Nasi goreng yang saya bikin dengan memasukan segala bahan makanan yang ada di kulkas. Tapi...ternyata..bahagia itu....sederhana ya.




Dan hari ini..terungkaplah rahasia di balik permintaan nasi gorengnya....ternyata guru di sekolahnya meminta semua anak untuk membawa bekal nasi, dan siapa yang bisa menghabiskan akan mendapat bintang.

"Bu..dua hari ini, Keni sudah usaha keras menghabiskan nasi.,,tapi selalu masih ada sisa sedikit...satu sendok. Dan karena Keni sudah kenyang sekali, Keni tak bisa habiskan, Jadinya....Keni tak dapat bintang"

Owalah..ternyata ada udang di balik bakwan.....ada maksud mendapat bintang sehingga mendadak dia suka nasi.
Dalam hati...saya berjanji..esok akan sedikit mengurangi porsi bekalnya...agar Ken dapat bintang.

Dan bagi saya pribadi..atas usaha Ken (menyukai nasi)...jika bisa... saya ingin  berikan bintang diseluruh semesta raya...untuknya.




History of........


Saya pecinta sejarah. Menurut teman saya, itu artinya saya susah move on. Padahal sejarah itu penting loh. Nggak akan ada hari ini kalau tidak ada masa lalu kan?

Ketika SD, SMP dan SMA, saya hanya belajar sejarah lewat buku. Bisa di bilang, dari sekian banyak buku pelajaran, hanya buku sejarah yang sering saya baca. Apalagi di usia itu ingatan saya sedang tajam-tajamnya, sehingga sejarah kerajaan ini...kerjaaan itu...bahkan raja pertama sampai yang kesekian dari kerajaan ini dan itu, saya hapal di luar kepala.

Kenapa saat itu saya hanya belajar lewat buku? Karena di daerah tempat saya tumbuh tidak ada museum, akses ke televisi terbatas dan mana ada radio yang rajin membahas museum? Untuk mendapat koran saja saya harus ke kota kabupaten, berjalan 10 km dan naik kendaraan 20 menit.

Nah..begitu kuliah, saya hijrah ke Jakarta. Di kota penuh sesak ini, saya mengalami "kekagetan museum", karena museum ada di mana-mana, tinggal pilih saja.
Sayapun  terjangkiti "demam masa lalu". 

Disaat jeda kuliah, saya keliling dari museum ke museum. Bisa berjam-jam. 
Semua benda yang saya lihat seakan membawa saya ke masa mereka berjaya dan hidup laksana film yang bisa di putar ulang. 
Saat saya berdiri di depan Borobudur, maka yang saya bayangkan adalah bagaimana suasana di sana di jamannya. Saat melihat sebuah guci keramik, pikiran saya akan melayang ke siapa kah yang membuat, bagaimana ini di buat,dan difungsikan sebagai apa? 
Jika pernah melihat film Night at Museum..ya kira-kira seperti itulah. Semua benda yang saya lihat seolah hidup kembali dan menyedot saya ke masanya.

Kini, setelah menikah dan punya anak, keinginan untuk ke museum, terpaksa saya "museumkan" sementara
Dan saya berharap, kelak bisa mendatangi museum lebih banyak...tidak hanya di Indonesia tapi juga ke negara-negara tetangga. 

Jadi, jika di tahun 2034 kelak , anda melihat ada nenek-nenek  duduk terpekur di museum...
Mungkin itu saya.

Tuesday, 9 September 2014

Sahabat Filsafat

Semasa kuliah saya memiliki sahabat yang sangat menyukai filsafat. Sering ia berjam-jam menelpon saya hanya untuk membicarakan apa itu persahabatan, apa itu teman, apa itu cinta dan apa itu sengsara. 
Saking "berat"nya obrolan kami, orang yang tidak sengaja curi dengar, akan menyunggingkan senyum sebal. 
Mungkin dalam hati orang itu berkata " Ngomongin apa sih ini orang..belagu amat...(istilah jaman sekarang ..lebay)"

Saya pernah diajak ke rumahnya yang luas, ke rumah kakaknya, diajak ke toko batik Ibunya, dan pernah diajak pula ke deretan tempat kos puluhan kamar milik orang tuanya.
Setiap saya jalan dengannya, saya bisa terjemahkan tatapan orang-orang "Kok mau-maunya cowok ini berteman dengan cewek dekil kampungan berpenampilan ala tukang gali bangunan? "

Selama bersahabat dengan saya, ia pernah punya seorang pacar cantik berjilbab. Saya pribadi tak mengenal pacarnya dengan baik, hanya mengenalnya secara fisik di kampus. Iapun tak pernah memperkenalkan pada saya. Hingga kemudian dia jatuh cinta pada teman saya.
Entah bagaimana akhir percintaan mereka ini..saya tidak tahu pasti, karena kemudian saya terpaksa harus meninggalkan kampus (karena sudah wisuda). Sementara mereka berdua masih betah disana.

Kini sepuluh tahun berlalu..sekalipun kami belum pernah bertemu. 

Sebenarnya.....saya rindu berbicara dengannya...(sahabat filsafat saya..)
Apakah dia disana (entah dimana) telah menemukan teman bicara? 

Semoga saja....