Saturday, 3 August 2019

Terimakasih Go-Food

Sabtu siang ini, saya kebingungan mau masak apa. Uang di tangan sisa Rp 15 ribu. 
Iseng saya cek akun Gojek suami yang belum pernah dipakai sekalipun. Dan teringat akan iklan di televisi yang menyampaikan Gojek memberikan voucher diskon  yang lumayan besar bagi pengguna  Go-Food pertama.
Saya pun kemudian mencari menu yang jaraknya terdekat saja dan harganya sesuai dengan uang saya.
Nemulah saya Menu Bawal Bakar  di Rumah Makan Ayam Bakar Gendhis di Jalan Baung Jagakarsa. Perporsi Dikson dari Rp 15 ribu menjadi Rp13.500. Nah pas ini.

Utak-atik utak atik....emejinggggg..emejing..saya bisa memesan 2 porsi Bawal Bakar (tanpa nasi), hanya Rp 12 ribu dengan rincian : harga ayam Rp 13.500 X 2 = Rp27.000, dipotong  diskon dari kupon Rp20.000. Emejingggg..saya hanya bayar 2 porsi Bawal Bakar Rp7.000 dan ongkos kirim Rp 5000.

Uang Rp 15 ribu saya berjaya untuk mendapatkan 2 Porsi Bawal Bakar!


Sekitar 15 menit...bawal bakar sudah ada ditangan. Cuss saya hanya bayar Rp 12.000 dan  Rp 3000  buat tips si Abangnya.Passss.

Dan wow..rasanya enakkk banget. Bawalnya segar dan gurih.
Dua ekor bawal ludes dalam lima menit dimakan Keni tanpa nasi. Saya kebagian nicip sedikit...dan Keni berkali-kali bilang sangat enak dan menyarankan besok-besok pesan lagi.

Baiklah...Bawal Bakar ludes..saya makan nasi dari magic com plus sambal dan daun selada  bawaan si bawal. Enakkkk banget.

Terimakasih Abang Gojek...Go Food.... Hanya dengan 15 ribuuuu..kami bisa dapat makanan enak. Dan menu Bawal Bakar di Warung Makan Ayam Bakar Gendhis di Jalan Baung, Jakarta Selatan ...recomenden banget. 

Cuss cobalah.


Friday, 12 July 2019

Bakmie Paling Enak di Bojong Gede

Untuk kamu penyuka  Bakmie yang tinggal di Bojong Gede dan sekitarnya, saya punya rekomendasi Bakmie super enak.
Namanya Mie Ayam Bangka Mie Bangkid. Alamatnya di Kampung Lio Lebak RT 02 RW 02.
Kalau dari stasiun Bojong Gede enggak jauh loh, tinggal pakai ojek online aja..gampang. Kalau mau pakai angkutan kota naik yang nomor 117 ya..hanya lima menit sudah sampai.

Ini ya daftar harganya :
Bakmie Polos Rp 13 ribu
Bakmie Pangsit Rp 17000
Bakmie Bakso Rp 17000
Bakmie Komplit (Pangsit +Bakso ) Rp 17000

Untuk yang ingin menu lain juga ada pilihannya ya, ada Kwetiau, Pangsit  dan Bihun, ini daftar harganya ya:

Kwetiau Polos Rp 13000
Kwetiau Pangsit Rp 17000
Kwetiau Bakso Rp 17000
Kwetiau Komplit (Pangsit +Bakso ) Rp 17000


Bihun Polos Rp 13 000
Bihun Pangsit Rp 17 000
Bihun Bakso Rp 17 000
Bihun Komplit (Pangsit + Bakso ) Rp 17000

Pangsit Kuah Polos Rp 13.000
Pangsit Bakso Kuah Rp 17.000

Untuk yang males gerak, bisa juga kok di pesan melalui aplikasi Gojek Go-Food.

Yuk cobain...

Beli Beras Majalengka Yuk

Beras diambil langsung dari petani.
Yuk bantu memakmurkan petani, memotong   rantai distribusi yang panjang dan mahal, memotong lingkaran tengkulak.

Beli beras di  PB Sri Nurcahya
Blok Caringin no 4 RT/RW 002/001, Baturuyuk Dawuan Majalengka, Jawa Barat  45453
Telepon  (0233) 884148
HP : 082240123567

Berad tersedia dalam lemasan  5kg, 10 kg, dan 25 kg.

Harga Rp 8000 - Rp 9000/kg

Harga bisa berubah sesuai harga gabah ya..

Tersedia juga beras ketan, beras merah, beras menir dan  dedak.



Yuk bantu petani lokal berjaya di negeri sendiri.

Tuesday, 2 July 2019

Sahabat

Saya menemukan kalimat ini di Facebook :

"Jangan risau jika setengah orang menjauh darimu,menghindar darimu. Percayalah, itu semua Alloh yang mengatur. Insyaalloh kamu akan didatangi orang-orang yang lebih baik dan ikhlas bersamamu"

Saya menangis membaca kalimat ini. 


Terima kasih....terimakasih saya ucapkan untuk "pemilik" kalimat ini.

Kalimat ini menjadikan saya teringat kebaikan sahabat-sahabat saya, baik yang masih bersama saya ataupun yang sudah "pergi".
Insyaalloh saya  hanya mengingat kebaikan karena sesungguhnya mereka tidaklah pernah memperlakukan saya buruk. 

Pelajaran yang bisa saja terima adalah, pergunjingan, sangkaan buruk dan sikap dingin, bisa saya terima karena saya berpikir, sikap itu berasal dari ketidak tahuan mereka. Itu saja.

Segala keihklasan menerima  perlakuan buruk, hinaan dan cacian adalah obat yang sangat ampuh untuk saya bisa belajar bagaimana menghadapinya. Juga sebagai pendorong agar saya makin dekat dengan Alloh SWT,karena sebaik-baiknya tempat mengadu adalah Alloh.

Saya juga teringat perkataan sahabat saya : Saya membatasi pergaulan, karena banyak teman menurut saya sangat berbahaya. 


Masyaalloh....teman datang dan pergi, tapi sahabat sejati akan ada bersamamu,menunjukanmu kebaikan. Ia akan mengatakan dimana dan apa sisi terburukmu, tapi tidak pernah meninggalkanmu.

Dan untuk yang masih bersama saya ataupun yang telah "pergi", saya ucapkan terimakasih,
kalian adalah guru kehidupan yang hebat.

Kalian selalu ada dalam doa saya.




Saturday, 22 June 2019

Pantai Indah Yang Belum Indah

Januari lalu, Kinan merengek minta ke pantai. Tapi kami tak langsung bisa kabulkan. Selain jauh, kami juga susah mencari waktu.
Selama kami belum kabulkan, Kinan rajin melihat pantai-pantai di Youtube...mungkin pasir dan debur ombak sangat menarik baginya.
Hingga kemudian kami merasa harus segera mewujudkan keinginannya, setidaknya sebagai kado ulang tahun ke 5.


Pergilah kami naik motor. Perjalanan lebih dari satu jam. Sepanjang  jalan Kinan bernyanyi riang, mungkin bayangan pantai biru berpasir indah menari-nari di depan mata.

Tibalah kami di Pantai Indah...sekitar jam 13.00 WIB.
Kinan bengong..kok jauh dari yang dia lihat di Youtube. Pantai berpasirnya sempit, pasirnya enggak sebanyak dan  tidak empuk  untuk bisa di aduk agar bisa membuat istana pasir.
Ia pun ragu masuk ke air.. Lah..mana ombaknya? Airnya setenang air kobokan. 
Lalu saya pun membujuknya untuk turun ke air. Berhasil.

Awalnya terlihat ragu. Kemudian dia  berani  mencoba menyelam. Namun saat kepalanya kembali muncul ke permukaan air..ada sampah plastik yang melambai-lambai ditangannya, juga bangkai ikan kecil.
Wadawwwww......saya jadi merasa bersalah.

Tak sampai  10  menit di air, Kinan minta pulang. Sendok pasir yang kami bawa tak disentuhnya. Mungkin bagi Kinan lebih seru mandi di empang  neneknya di kampung (dia bisa tuh sejam  berendam di empang  neneknya yang berair bening dengan sumber air dari bawah hutan bambu).

Pantai Indah yang tak indah.

Maka pulanglah kami.

Dalam perjalanan pulang saya bertanya.... "Asyik enggak pantainya?" Kinan hanya terdiam membisu. 

Hmmmm, niat membahagiakan dengan pengalaman pertama ke pantai ternyata mengecewakan. 


Maaf ya Kinan...besok-besok berendam di bak mandi saja ya...enggak ada sampahnya kok. 


Oh Iya...Selamat ulang tahun ke 492  Jakarta , semoga pantainya makin indah ya..






Tuesday, 7 May 2019

Wanita Malam



Setelah sekitar tiga tahun bekerja dengan jam waktu normal, mulai hari ini, di hari ramadhan kedua, saya diberi kesempatan untuk kembali bekerja shif malam. 
Rasanya campur aduk. Tanpa bermaksud mengeluh, saya hanya ingin berkata..rasanya sedih. 
Saya tinggalkan anak-anak diwaktu yang biasanya mereka menunggu saya pulang. Dan mereka akan kembali merasakan tidur tanpa ibunya. 

Saat berjalan dari rumah menuju stasiun KRL, rasanya aneh. Sebelumnya, jam mendekati  magrib saya berjalan pulang dari stasiun ke rumah, tapi kini sebaliknya, saya susuri trotoar, meninggalkan rumah menuju stasiun. 

Jalanan sepi, karena saat saya berangkat adalah waktunya orang berbuka puasa. Kereta juga lega. 

Ada rasa tak rela meninggalkan zona nyaman. Tapi saya mencoba melihat hal baiknya saja. Pagi hingga sore saya bisa membersihkan dan merapikan rumah tanpa harus membagi perhatian dengan anak-anak, karena mereka sekolah. 
Hanya saja, waktu dengan mereka memang akan menjadi jauh berkurang. 
Tapi setidaknya nanti pulang kantor, adalah saatnya waktu sahur, jadi tidak mungkin ada yang akan sahur "kesiangan".
Lalu kapan saya tidur? Ah  jangan ditanya. Saya bisa tidur dimana saja dan kapan saja, dalam suasana apa saja.

Saat keluarga bertanya.."Kenapa kamu harus kerja malam, apakah sudah tidak ada karyawan laki- laki yang bisa bekerja malam? "
Saya hanya menjawab..."Tidak apa, saya harus bersyukur masih bisa bekerja. Nikmati saja suka dukanya. Yang penting semoga saya diberi kesehatan agar bisa bekerja dengan baik".

Tapi ada juga loh yang tertawa terbahak-bahak begitu tahu saya kembali ditempatkan di shif malam.
"Aih..pulang pukul 01. 30  pagi....wkwkkw..lo kembali jadi wanita malam dong. Ah..nggak akan laku..bencong-bencong deket kantor lebih cakep dibanding lo"

Ish..mulut teman saya ini emang kejam. 
Tapi kenapa saya mesti marah. Banyak orang diluar sana yang bekerja malam..malah lebih berat dibanding saya.  Setidaknya saya hanya perlu duduk di depan komputer. 

Saya jadi teringat saat shift malam dulu, setiap saya pulang dini hari dan melewati Pasar Kramat Jati, melihat wanita- wanita hebat dan kuat duduk diantara sayur dan ikan-ikan, saya merasa oke..karena banyak teman senasib...

Nah..para wanita  malam..saya kembali nih...wkwkkwkw

Monday, 29 April 2019

Tragedi Pecahnya Dua Botol Sirup



Saat  di dalam sebuah minimarket, tiba-tiba terdengar suara  benda jatuh lumayan keras. Asalnya dari dua botol sirup yang pecah. Penyebabnya tersenggol oleh tas seorang ibu (saya kira usianya 50 an tahun). Pecahan beling pun bertebaran di mana-mana. 

Anehnya  Si Ibu Pemecah Dua Botol Sirup ini, diam saja. Dia hanya mengangkat botol sirup  yang pecah lalu meletakan lagi. SPG minimarket yang saat itu tepat berada di sampingnya pun terkesima tapi diam. Mungkin Si SPG ini tidak enak untuk menegur apalagi meminta tanggung jawab.

Lalu, bagaimana Si Ibu Pemecah?
Sebenarnya dia ke dalam minimarket tujuannya apa juga tidak jelas, sejak masuk ia hanya sibuk dengan gadget tanpa memilih barang. Saking seriusnya dengan gadget sampai-sampai ia tidak hati-hati dan menyenggol botol sirup. Saya duga ia hanya ingin berteduh sambil menunggu ojek online (karena saat itu hujan deras). Si Ibu  ini dengan tanpa berkata maaf sedikitpun, lalu tetap berada di dalam minimarket 2 menit,lalu bergeser ke pintu, lalu pergi.

Setelah Si Pemecah tak terlihat,kasir perempuan bersungut-sungut dan menegur SPG lainnya " Ke mana Si Ibu itu, kok tadi enggak ditegur. Harusnya dia bayar barang yang ia pecahkan. Dua botol sirup pula!"
Saya pun heran, kenapa Si Pemecah ini diam saja?

Saya mencoba berpikir positif, mungkin saja ia tidak punya uang untuk membayar sirup yang ia pecahkan. Tapi alasan itu tidak berarti lari begitu saja dari tanggung jawab. Setidaknya berkatalah maaf. Kasihan, kasir dan SPG harus patungan untuk mengganti barang yang pecah.
Dan kalau dari cara berpakaian, Si Pemecah ini terlihat orang yang mampu (sehat, rapi, bersih, dan badan terawat di usianya yang mulai senja).

Saya jadi teringat saat kuliah dulu. Waktu itu saya pulang kampung dan ingin membeli oleh-oleh di pusat jajanan di ibu kota kabupaten. Tanpa sengaja saya menyenggol sebotol madu yang harganya aduhai ( seharga tiket bus pulang pergi). Dan saya bertanggung jawab dengan meminta maaf dan membayar madu itu, meski harus kehilangan sebagian uang kuliah.

Lalu, kenapa Si Ibu Pemecah Botol Sirup itu tidak mau melakukan hal serupa? Setidaknya....minta maaf.


Kadang kenapa kata "maaf" begitu sulit ya?