Semula saya menggunakan listrik daya 900 watt. Tapi kok sering sekali anjlok.
Lalu saya berniat pindah ke 1300 watt.Ternyata (kala itu) menurut petugas tidak bisa lagi menggunakan sistem lama. Harus token. Baiklah...maka si meteran tagihan bulanan pun berganti menjadi meteran kekinian.
Tapi....Weladalah.... mengerikan sekali biaya listrik saya.
Dengan pemakaian sama, di 900 watt saya hanya membayar listrik di bawah Rp 300 ribu per bulan tapi sejak beralih ke 1300 watt..tagihan menjadi Rp1 juta. Wajar lah jika tagihan saya naik karena listrik 1300 konon non subsidi..tapi semahal itu kah?
Paling sebal jika tengah malam tiba-tiba meteran berbunyi minta diisi. Rasanya seperti merawat bayi yang kapan saja bisa menjerit menangis meminta susu ketika lapar..kita harus siap kapan saja "menyuapi" token agar Si Meteran diam.
Dan ketika Menteri Rizal Ramli protes soal ini..lahhhh..rasanya seperti mewakili suara hati saya.
Lalu munculah kebijakan masyarakat bebas memilih sistem token atau non token.
Aishhh..terlambat sudah.
Kini semua tetangga kontrakan saya sudah terlanjur beralih ke token.
Maka....Sekarang setiap hari kami menikmati konser gratis dari meteran kami yang "menyanyi" saling bersahutan..
PLN sungguh menghibur...memberi kami musik gratis setiap hari.
Keren lah...kereennnnnnn.
Tit....tit...tit....tit....begitu bunyinya...
Tit.... tit ....tit...emakkkkkkk..minta tokennyaaaaa.....
Lalu saya berniat pindah ke 1300 watt.Ternyata (kala itu) menurut petugas tidak bisa lagi menggunakan sistem lama. Harus token. Baiklah...maka si meteran tagihan bulanan pun berganti menjadi meteran kekinian.
Tapi....Weladalah.... mengerikan sekali biaya listrik saya.
Dengan pemakaian sama, di 900 watt saya hanya membayar listrik di bawah Rp 300 ribu per bulan tapi sejak beralih ke 1300 watt..tagihan menjadi Rp1 juta. Wajar lah jika tagihan saya naik karena listrik 1300 konon non subsidi..tapi semahal itu kah?
Paling sebal jika tengah malam tiba-tiba meteran berbunyi minta diisi. Rasanya seperti merawat bayi yang kapan saja bisa menjerit menangis meminta susu ketika lapar..kita harus siap kapan saja "menyuapi" token agar Si Meteran diam.
Dan ketika Menteri Rizal Ramli protes soal ini..lahhhh..rasanya seperti mewakili suara hati saya.
Lalu munculah kebijakan masyarakat bebas memilih sistem token atau non token.
Aishhh..terlambat sudah.
Kini semua tetangga kontrakan saya sudah terlanjur beralih ke token.
Maka....Sekarang setiap hari kami menikmati konser gratis dari meteran kami yang "menyanyi" saling bersahutan..
PLN sungguh menghibur...memberi kami musik gratis setiap hari.
Keren lah...kereennnnnnn.
Tit....tit...tit....tit....begitu bunyinya...
Tit.... tit ....tit...emakkkkkkk..minta tokennyaaaaa.....
Dan sekarang sampah di rumah saya juga bertambah.... sampah struk token listrik.
No comments:
Post a Comment