Friday, 9 November 2018

Kenapa Saya Berjilbab?

Kenapa kamu memutuskan berjilbab?
Pertanyaan itu banyak disampaikan ke saya.
Mereka mungkin mengharapkan cerita dramatis dan cerita penuh pengalaman religius.
Tapi saya tidak punya cerita itu.
Bahkan ada yang menduga saya sedang dirundung masalah besar, masalah rumah tangga dan ekonomi, sehingga saya mencoba mencari ketenangan dengan berjilbab. Mungkin ada yang senang ya jika saya memiliki masalah ekonomi dan keluarga. Lumayan lah  buat bahan obrolan sambil makan-makan.
Tapi...bukan itu pemicunya.

Saya jadi bahan pergunjingan pun saya tahu.

Tapi tak apa. Kata temen saya yang baik hati..anggap itu ujian orang berhijab.

Meski awalnya sempat kaget dengan pergunjingan itu, tapi saya mencoba memaafkan. Sungguh saya tidak marah. Saya mendoakan mereka mendapat rejeki melimpah. Doa tulus dan ikhlas dari saya.

Lalu kenapa saya berjilbab?
Saya memutuskan berjilbab butuh proses panjang. Maju mundur..pakai  sekarang, atau nanti..siap..tidak. Begitu terus tiap hari.
Ibu saya juga sering berkirim pesan pendek atau telepon menyarankan saya berjilbab. Dan saya jawab : iya Insyaalloh


Hingga pagi itu 18 Oktober 2018, bangun tidur saya mendapat SMS dari Ibu. Panjang sekali. Isinya  sebenarnya pengulangan dari apa yang sudah disampaikan sebelumya. Kurang lebih bagaimana Islam mewajibkan wanita berhijab dan apa resiko jika tidak menutup aurat.

Dan setelah membaca pesan Ibu hati saya tergerak  untuk mencari kerudung di lemari.
Tak banyak yang saya punya hanya tiga.

Bismillah..sejak itu saya berjilbab.
Dan Alhamdulilah teman-teman di kantor mendukung saya dengan memberi begitu banyak kerudung dan baju panjang.
Terimakasih yang tak terhingga semoga Alloh membalas kebaikan kalian semua ya...dan mendapat balasan dari Alloh berlipat.

Jadi alasan saya berhijab karena perintah agama. Itu saja.

Lalu..sama seperti yang dirasakan olah wanita berhijab lainnya, dengan berhijab saya merasa lebih tenang dan khusuk beribadah. Juga saya berusaha menjaga perilaku. 

Mulai dari hal-hal kecil..misalnya...tidak bergosip.

Hal yang terlihat sederhana tapi berat loh.

Coba dalam sehari saja..bisakah kita menahan diri tidak bergosip, tidak membicarakan keburukan dan aib orang lain?

Kini saya lebih memilih menjadi pendengar atau kalaupun harus bicara ya membicarakan diri sendiri seperlunya.
Kata orang bijak..bicaralah yang baik atau diam. Indah sekali ya ..Jika semua orang berusaha melakukan hal tersebut, pasti sejuk sekali dunia ini.


Semoga lidah saya selalu terhindar dari perkataan buruk.


Aamiin

No comments:

Post a Comment