Karena teman memasang profil BBM gadis cantik diwisuda, saya jadi
teringat masa saya menutup masa kuliah dengan wisuda yang
memprihatinkan.
Kala itu saya tak punya uang untuk dandan menor
ke salon. Teman kost, dengan baik hati dan suka rela mendandani saya ala
kadarnya. Yang penting bedak dan lipstik. Oles..tempel tepak
tepuk..maka jadilah.
Karena konde juga tak mampu saya sewa,
maka rambut saya nan pendek dan tipis hanya diikat kebelakang lalu di
tekuk, macam pantat ayam baru bertelor.
Bagaimana dengan baju?
Kebaya dan kain saya pinjam dari teman asal Palembang. Agak kedodoran, tapi saya anggap itu bagian dari resiko meminjam.
Sepatu..? Juga pinjam ke teman kost yang lain.
Dengan hak tinggi, terasa gempa setiap kali melangkah.
Setelah
siap, maka bermodal kamera tua ( kala itu kamera masih menggunakan roll film) kami foto-foto lah dengan
pose-pose centil-centil mengenaskan. Berusaha mendongkrak percaya diri
meski berasa rendah diri setengah mati.
Bagaimana cara menuju tempat wisuda di kampus kami tercinta?
Saya nebeng teman yang menyewa angkot. Seperti rombongan emak-emak mau kondangan.
Untunglah
wisuda hanya di gedung kampus..bukan di convention hall nan jauh dan
megah. Karena jika di JHCC atau Balai Sudirman misalnya...wassalam.
Eng ing eng. Begitu tiba di gerbang kampus, saya berjalan tertatih-tatih.Rasanya seperti mau terjerembab.
Alamak banyak sekali tukang foto.
Dan tak satupun dari mereka yang sudi memotret saya. Padahal teman-teman saya langsung jadi incaran blitz kamera.
Mungkin
tukang foto tak yakin saya punya uang untuk membeli hasil jepretan
mereka. Atau dandanan saya tidak ada setelan mau wisuda dan dikira
hanya salah satu anggota keluarga yang mengantar.
Bapak Ibu dan
saudara-saudara (yang kebetulan datang dari kampung ) ternyata sudah
pula menunggu. Dari tatapan ...terlihat mereka begitu nelangsa dengan
tampilan saya.
Sayapun tersenyum malu-malu prihatin.
Tapi
dalam hati saya bangga, setidaknya saya tidak menyia-nyiakan hasil
keringat kedua orang tua dan bantuan saudara-saudara. Saya bisa selesai
kuliah setahun lebih cepat. Alasan utamanya bukan karena saya
pintar..tapi saya memaksakan diri agar orang tua saya tak lama-lama
pusing dengan urusan biaya.
Maka...dengan dandanan ala kadarnya
ini saya melalui prosesi wisuda yang hikmat dan terasa mengharukan.
Terbayang kertas-kertas ujian saya yang buram. Terbanyang perjuangan
membuat skripsi yang dramatis. Semua berputar di kepala saya dengan
gegap gempita.
Lalu....karena dana wisuda yang murah tidak
menyediakan makan siang, maka begitu wisuda dan proses foto resmi wisuda
selesai, kami berombongan menuju rumah saudara di Depok. Kami makan
Indomie rebus ramai-ramai.
Nikmatnya ....
Beberapa minggu kemudian, saya datang lagi ke kampus dengan niatan mengambil hasil foto.
Tapi...malang nian nasib ini. Ternyata hasil fotonya tidak ada.
Ya Tuhan... sedihnya.
Bukan
soal tak melihat hasil fotonya, tapi uang yang sudah saya bayarkan
untuk foto itu adalah hasil kerja keras Bapak menjual bibit ikan ke
pasar.
Rasanya sungguh tak rela.
Dan pihak penyelenggara hanya bisa bilang maaf...Foto tak jadi..uang tak kembali.
Demikian cerita wisuda saya.Mungkin tak bisa jadi inspirasi...tapi tak usah pula ditangisi.
Betul kata teman saya : Hidup lo berat
Hahahaha...
Sunday, 22 May 2016
Tuesday, 19 April 2016
Aquarium Kaiyukan Yang Menawan
Matahari akhirnya menyapa kulit kami pagi-pagi.
Tujuan hari ini Aquarium Kaiyukan
Halaman aquarium sangat luas. Sejumlah murid taman kanak-kanak nampak berbaris rapi, senam dan bernyanyi.
Mood Ken mulai naik turun. Kakinya yang sakit karena otot kaku (efek terlalu banyak berjalan dan berdiri plus udara dingin) membuat saya harus bersabar menguatkan. Karena sudah jauh-jauh ke Osaka, sayang rasanya jika harus di hotel atau di bus saja.
Masuk ke pintu utama aquarium kami disambut patung ikan super besar, lalu aquarium mirip di Seaworld Ancol plus booth foto. Jika ingin foto dan cetak siapkan sekitar Rp.150.000/lembar.
Setelah foto, pengunjung menaiki eskalator sempit (hanya muat satu orang mirip antrian) dan curam setinggi 8 lantai.
Pemandangan pertama diujung eskalator adalah hutan Jepang. Dibuat semirip mungkin aslinya lengkap dengan berang-berang yang lucu dan menggemaskan.
Selanjutnya kita disuguhi rupa-rupa ikan hingga singa laut dan pinguin yang terlihat sehat dan bahagia.
Lalu setengah perjalanan jelang pintu keluar pengunjung bisa kenikmati aquarium raksana serupa lautan Pasific lengkap dengan ikan-ikan super besar seperti hiu dan paus. Ada 5.400 ton air dengan ke dalaman 9 meter dan panjang 34 m.
Wow..rasanya menenangkan sekali melihat rupa-rupa hewan air ini.
Si Ken sampai susah beranjak.
Jelang pintu keluar ada kolam tempat aneka ikan (bayi hiu, paus dan ikan pari) yang bisa disentuh pengunjung.
Tapi eit...ada aturan yang harus dipatuhi yaitu cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh ikan..plus jangan sentuh mulut ikan.
Di titik ini Si Ken sudah tidak antusias. Dia sudah capek dan terus mengeluh kakinya kesakitan.
Hmmm..aquarium yang sangat indah. Jika suatu saat nanti saya punya kesempatan kembali ke sini...saya akan menghabiskan waktu seharian.
Untuk yang berkunjung ke Osaka..Aquarium Kaiyukan...sangat saya rekomendasikan.
Osaka, 15 Maret 2016
Support by : Boneeto
Universal Studio Osaka.. Olala
Sejak pagi gerimis tak hentinya mengguyur Osaka. Ramalan cuaca mengatakan, cerah akan muncul jelang sore.
Maka dengan menembus rintik -rintik dan menahan udara super dingin 6 derajat kami menuju Universal Studio.
Jarak
dari tempat parkir ke pintu gerbang lumayan jauh, sekitar setengah
kilo meter.Jalan kaki terasa semakin berat karena diterpa hembusan angin
yang terasa membekukan tulang.
Yang pasti begitu sampai di depan gerbang utama, semua langsung sibuk berfoto di bola dunia logo Universal.
Setelah itu barulah kami menuju gate ticket. Lancar tanpa antrian berarti. Mungkin karena masih pagi.
Sampai
di dalam ...hujan makin deras. Kami berpencar dengan waktu dan titik
kumpul yang sudah kami sepakati. Setidaknya kami punya waktu 7 jam untuk
berkeliling. Jam 12 waktu setempat kami sepakat bertemu di wahana Harry
Potter.
Tujuan pertama berdasar rekomendasi guide adalah wahana Spiderman.
Maka
antrilah kami....hampir 3 jam lamanya. Untunglah Ken tidak protes.
Padahal pertunjukan 3Dimensi yang kami tonton hanya sekitar 5 menit!
Ya lumayan lah...setidaknya ngalamin diselamatkan Spiderman dari serangan musuh.
Pokoknya,
diujung antrian yang berasa sepanjang Tembok Cina, kami dibagikan
kacamata 3 dimensi, lalu dipersilahkan duduk manis dibangku kapasitas 12
orang (yang dibentuk menyerupai mobil) dan wus..wus. Spiderman sempat
nangkring di depan kami, dan berbicara kepada kami menggunakan bahasa
Jepang..entahlah apa yang dikatakan mas Spider pada kami. Mungkin ia
berkata..."Apapun yang terjadi tenang..ada Aku yang akan melindungi dan
menyelamatkanmu..." So sweet.
Maka jungkir balik plus melompat
ke sana kemari lah Spiderman menyelamatkan kami dari serangan musuh.
Ketika kami di serang dengan api maka ada hembusan udara hangat..dan
ketika kita diserang dengan air, maka ada titik air sungguhan menimpa
kami. Paling menegangkan ketika kami seolah jatuh dari gedung
bertingkat....rasanya seperti naik roller coaster... wussssss..jatuh
dari ketinggian lalu...sretttttt...detik terakhir sebelum terhempas,
kami diselamatkan oleh jaring Mas Spider.
Hahaha.. menyenangkan..tapi sayang kenapa durasinya tidak 30 menit ya...? Tidak sebanding dengan capek antrinya.
Jadi komennya...seru sih, tapi tetap tak sebanding dengan capek antrinya.
Baiklah..kami
harus segera keluar. Begitu turun dari bangku, kami disambut mbak-mbak
yang menawaran cuci cetak foto seru kami ketika di dalam.
Muahalnya...Rp.150.000.
Tapi demi sebuah kenang-kenangan..dengan berat hari tercetaklah foto kami.
Nampak saya dan Ken sedang tersenyum lebar di sana.
Segera
saya ajak Ken keluar dari Wahana, karena sebelum pintu keluar ada
rupa-rupa makanan dan souvenir Spiderman yang harganya jauh dari
jangkauan kantong saya.
Hahaha
Osaka 14 Maret 2016
Di sponsori oleh : Boneeto
Monday, 18 April 2016
Melawan Lupa
Saya itu jagonya lupa. Mungkin kalau ada lomba balap lupa, saya bisa juara atau minimal finalis.
Bila keluar rumah, sekian menit kemudian pasti saya kembali dengan alasan ada yang tertinggal.
Paling sering..HP.
Tapi, saat kami pergi sekeluarga, benda yang paling sering alpa saya bawa adalah tas.
Padahal di tas terdapat segala macam peralatan "tempur". Mulai dari dompet sampai makanan dan baju ganti anak-anak.
Hal konyol menyangkut lupa juga saya alami sewaktu Ken pertama masuk sekolah dasar.
Saking semangatnya, menggunakan motor, melesatlah kami menembus kemacetan.
Segala macam wejangan saya sampaikan pada Ken.
Belajar yang benar, hormati dan dengarkan kata guru, konsentrasi, sayangi teman-teman. Bla..bla..bla
Begitu sampai di gerbang sekolah..eng ing eng.
Kok tasnya Ken tidak terbawa.
Gubrak...
Pernah juga kami berempat pergi tanpa tujuan. Pokoknya muter-muter sajalah.
Hingga kemudian Ken minta beli somay. Begitu tiba waktu membayar....loh mana tasnya?
Ternyata tas tak terbawa.
Padahal dompet dekil tua saya ada di dalamnya.
Beuhh...
Dan kemarin, kami berniat kembali berputar-putar. Begitu sampai di luar pintu pagar, saya tengok bagian depan motor. Wah ...kosong..tak ada tas di sana.
Sayapun ngomel panjang lebar ke suami
"Kan tadi sudah saya bilang. Tolong bawakan tas. Jangan sampai deh bikin malu gara-gara tak bawa uang. Terlalu sering tas tertinggal. Saya kan ribet urus dan pegang Kin. Jadi tolong dong...soal tas ya saya dibantu. Bla..bla..bla"
Nerocoslah saya seperti petasan banting.
Suami saya diam saja.
Si Ken diam saja.
Kom tumben tak ada yang membalas sengit omelan saya.
Lalu..lewat kaca spion saya melirik wajah saya yang cemberut masam seperti Asam Jawa.
Eit. Tunggu...apa itu dipundak saya....
Weladalah....ternyata tasnya sudah tergantung manis di punggung saya !!!!
Omelan saya langsung terhenti seketika.
Tawa Si Ken dan Bapaknya meledak seperti mercon perkawinan.
Si Ken menyeletuk ..."Ibu...ibu. Ibu ini lucu kaya Parto".
Tiba-tiba saya merasakan tas dipunggung menjadi berat.
Seberat beban hidup saya..
Hahahahahha
Bila keluar rumah, sekian menit kemudian pasti saya kembali dengan alasan ada yang tertinggal.
Paling sering..HP.
Tapi, saat kami pergi sekeluarga, benda yang paling sering alpa saya bawa adalah tas.
Padahal di tas terdapat segala macam peralatan "tempur". Mulai dari dompet sampai makanan dan baju ganti anak-anak.
Hal konyol menyangkut lupa juga saya alami sewaktu Ken pertama masuk sekolah dasar.
Saking semangatnya, menggunakan motor, melesatlah kami menembus kemacetan.
Segala macam wejangan saya sampaikan pada Ken.
Belajar yang benar, hormati dan dengarkan kata guru, konsentrasi, sayangi teman-teman. Bla..bla..bla
Begitu sampai di gerbang sekolah..eng ing eng.
Kok tasnya Ken tidak terbawa.
Gubrak...
Pernah juga kami berempat pergi tanpa tujuan. Pokoknya muter-muter sajalah.
Hingga kemudian Ken minta beli somay. Begitu tiba waktu membayar....loh mana tasnya?
Ternyata tas tak terbawa.
Padahal dompet dekil tua saya ada di dalamnya.
Beuhh...
Dan kemarin, kami berniat kembali berputar-putar. Begitu sampai di luar pintu pagar, saya tengok bagian depan motor. Wah ...kosong..tak ada tas di sana.
Sayapun ngomel panjang lebar ke suami
"Kan tadi sudah saya bilang. Tolong bawakan tas. Jangan sampai deh bikin malu gara-gara tak bawa uang. Terlalu sering tas tertinggal. Saya kan ribet urus dan pegang Kin. Jadi tolong dong...soal tas ya saya dibantu. Bla..bla..bla"
Nerocoslah saya seperti petasan banting.
Suami saya diam saja.
Si Ken diam saja.
Kom tumben tak ada yang membalas sengit omelan saya.
Lalu..lewat kaca spion saya melirik wajah saya yang cemberut masam seperti Asam Jawa.
Eit. Tunggu...apa itu dipundak saya....
Weladalah....ternyata tasnya sudah tergantung manis di punggung saya !!!!
Omelan saya langsung terhenti seketika.
Tawa Si Ken dan Bapaknya meledak seperti mercon perkawinan.
Si Ken menyeletuk ..."Ibu...ibu. Ibu ini lucu kaya Parto".
Tiba-tiba saya merasakan tas dipunggung menjadi berat.
Seberat beban hidup saya..
Hahahahahha
Thursday, 31 March 2016
Cantiknya Kartu Flazz BCA - Superindo
Sebagai konsumen Superindo, sudah lama saya menunggu adanya member card. Bahkan beberapa tahun lalu saya sempat meng-email CS-nya, mengusulkan ada member card. Email saya pun berbalas. Intinya, masukan akan ditampung.
Baiklah....maka sayapun setia menunggu...lamaaaa.
Hingga kemudian, bulan lalu saya menerima email yang menginfokan Superindo (bekerjasama dengan BCA) telah menerbitkan kartu, yang bukan hanya berfungsi sekedar sebagai kartu member tapi juga layaknya uang plastik yang bisa digunakan untuk pembayaran di seluruh merchant dengan logo Flazz.
Meski saya bukan nasabah BCA tapi tak perlu khawatir karena top up saldo bisa dilakukan merchant (saya biasanya mengisi di Alfamidi). Minimal top upnya Rp 50.000 dan maksimal Rp 1000.000
Nah..untuk mendapatkan kartu Flazz-Superindo sangat mudah. Kita hanya cukup meminta ke kasir, dan akan dikenakan harga Rp 20.000 untuk starter pack.
Tampilan kartunya cantik banget loh...bergambar aneka sayuran segar.. Sama seperti kualitas buah dan sayur di Superindo yang selalu segar menggoda.
Oh ya...kartu ini bisa dipindahtangankan, tanpa fitur pengaman apapun. Jika hilang bank tidak dapat melakukan pemblokiran. Jadi saran saya.. jangan isi banyak-banyak, karena jika hilang, dan ditemukan oleh orang yang jahat, maka kemungkinan saldo akan lenyap digunakan sang pencuri untuk belanja asyik.... heheeh
Sunday, 20 March 2016
Akhirnya...Jepang
Bandara yang dibuat dari laut yang ditimbun tanah ini terasa lengang. Proses imigrasi berjalan cepat. Keramahan khas Jepang mulai terasa.
Saya segera mencari toilet dan berganti baju dengan jacket yang lebih tebal. Keni saya pakaikan jaket rangkap dua. Suhu 6 derajat (plus angin lumayan kencang) tentunya langsung menohok kulit kami yang biasa ditempa suhu 30an derajat di Jakarta.
Begitu bus penjemput datang...kami (rombongan 16 orang) bergegas naik dan langsung lega karena cuaca hangat di dalamnya.
Tujuan pertama bukanlah hotel tempat kami menginap..tapi ke pusat perbelanjaan. Namanya Shin Sei Bashi.
Baiklah....lanjuttt
Pemandangan selepas bandara sungguh mengesankan. Pelabuhan dan kawasan indutri yang sangat tertata dan bersih, tak ada kesan kumuh seperti di Indonesia. Tak ada selembar sampahpun terlihat.
Wow.
Jalanan yang kami lalui juga terlihat lengang. Tak ada kemacetan. Di kiri kanan jalan tak banyak orang berlalu lalang. Tenang sekali.
Satu jam kemudian kami sudah sampai di pusat belanja.
Begitu turun saya langsung pusing melihat begitu banyaknya orang yang berlalu lalang. Kontras dengan jalanan yang tadi terasa begitu kosong.
Konsep Shin Sei Bashi mirip Pasar Baru di Jakarta.
Ada lorong panjang sekitar 1 km, kiri kanannya di penuhi toko aneka rupa : pakaian, kosmetik,souvenir dan makanan.
Sayapun langsung tenggelam ditengah orang-orang Jepang yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.
Kamera lalu sibuk saya arahkan ke beberapa titik. Dan begitu selesai jeprat jepret, saya menengok kanan dan kiri....woiiiiii...teman satu rombongan sudah tak tampak lagi.
Kennnnn.........kita terpisah dari rombongan.
Hahahahha.....
Disponsori oleh : Boneeto
Saturday, 19 March 2016
Sekejap Di Hongkong
Jakarta 12 Maret 2016
Hongkong 13 Maret 2016
Mimpi saya dan Keni ke Jepang....akhirnya terwujud juga.
Kami terbang dengan Cathay Pasific, lewat tengah malam dari Bandara Soekarno Hatta. Lalu mampir dulu di Hong Kong...transit. Waktu tempuh Jakarta Hongkong 4 jam 40 menit.
Lumayan lah..walau hanya di bandara saja, tapi judulnya pernah ke Hong Kong. Lagipula Hong Kong bukanlah tempat yang ingin saya datangi. Mungkin karena di film-film, Hong Kong selalu digambarkan identik dengan mafia dan judi..maka dalam bayangan saya Hongkong isinya gedung-gedung tinggi dan casino yang dipenuhi orang berjudi. Padahal menurut Bang Roma, bahwa judi itu tidak baik loh.Heheheh
Jadi jika kelak punya uang berkoper-koper, Hongkong bukanlah negara yang ingin saya kunjungi (kecuali gratis..hahahah)
Brrrrr....Sampai Hong Kong di sambut hujan. Dari kaca jendela, saya dan Ken hanya bisa menyaksikan Hong Kong dalam siluet kabut dan pesawat yang sibuk "mengisi perut".
Selebihnya saya asyik melihat orang cantik tampan, berlalu lalang dengan koper dan baju modis.
Udara dingin dibawah 6 derajat tak menghalangi seseorang tampil keren dengan busana mini. Karena...bagi mereka penampilan adalah segalanya.
Itu saja...
Saya tak banyak bisa cerita soal Hongkong. Hanya numpang duduk di bangku bandara 1 jam lamanya.
Mari kita lanjut ke Osaka..dengan waktu tempuh 3 jam 40 menit lamanya.
Jepang....iyong dela maning tekannnnnnn...enteni yaaaaa....
Disponsori oleh : Boneeto
Subscribe to:
Posts (Atom)







