Monday, 4 June 2018

Manisnya Desa Gula Kelapa

Memasuki Dukuh Sipoh, Desa Bondolharjo,Punggelan, Banjarnegara, Jawa Tengah,  aroma gula menguar dari dapur-dapur sederhana dan bersih. Deretan pohon kelapa tinggi menjulang, kokoh berdiri di kebun warga mengapit rumah-rumah berdapur manis.

Ada banyak orang-orang hebat yang dengan kekuatan kaki dan tangan memanjat pohon kelapa, menampung setetes demi seteteh nira. Tangan-tangan cekatan  mereka menyulap nira kelapa menjadi gula semut yang siap memaniskan hidup. Semua dikerjakan masih dengan cara tradisional. Gula di produksi dengan peralatan dan sistem pengolahan sederhana,  dari rumah ke rumah, di kumpulkan olah ketua kelompok tani, lalu barulah bisa menghasilkan rupiah melalui tangan Koperasi.


Ada 2 dukuh dengan aroma gurih manis di sini, Dukuh Sipoh dengan kelompok  Nira Sari, lalu Dukuh Tembelang dengan Kelompok Nira Multi dan  Kelompok Nira Lestari. Masing-masing kelompok beranggotakan 12- 15 orang.
Trio Nira ini kemudian bergabung dalam wadah usaha bersama bernama : Manggar Sari.
Nama yang indah ya? Manggar artinya bunga kelapa yang masih terbungkus selubung keras yang kemudian mereka sadap dan menghasilkan nira yang siap diolah menjadi gula.

Cara kerja mereka sederhana, masing-masing anggota dalam kelompok memproduksi gula rata-rata 1,5 kg/ hari.
Dengan 42 anggota, Manggar Sari bisa menggumpulkan 63 kg gula merah/ hari.
Seluruh hasil produksi kemudian  dikumpulkan dan setelah terkumpul 1,5 ton, dalam waktu 1-2 bulan, diambil olah pihak Koperasi dari wilayah Susukan, Klampok, untuk kemudian disetorkan ke Koperasi Induk di Banyumas.
Kemana gula kelapa kemudian bermuara? Di ekspor. Keren ya?

Berapa harganya? Koperasi membeli dari petani dengan harga lebih murah,Rp 17.000/ kg. Sementara jika dijual ke non koperasi harganya Rp 20.000/ kg.
Dibandingkan harga gula tebu, tentu harga gula kelapa lebih menjanjikan bukan?
Sayangnya petani masih menemui sejumlah kendala. Diantaranya bahan baku (nira) yang ketersediannya sangat bergantung pada faktor cuaca. Sementara jumlah pohon kelapa siap sadap juga terbatas, padahal lahan sangat luas.
Proses tumbuh kelapa hingga siap sadap membutuhkan waktu yang cukup panjang hingga bertahun-tahun sehingga proses regenerasi dan penambahan jumlah pohon kelapa juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Sampai kapan  para petani sederhana ini akan bertahan? Untuk mengimbangi gempuran dunia modern, mereka membutuhkan sentuhan kekinian yang bisa menghadapi tantangan zaman.
Seharusnya pihak koperasi selain menampung hasil produksi petani gula, juga bisa memberi pelatihan mengenai  bagaimana bisa menjaga kestabilan bahan baku hingga proses pengemasan, dengan tampilan yang menarik.

Jika jaman dulu gula dibungkus dengan daun pisang kering, atau plastik polos  kiloan, maka sudah saatnya gula kelapa tampil dalam kemasan higienis dan dalam bentuk bubuk sehingga bisa menembus pasar-pasar modern, dan juga harga yang lebih tinggi sehingga petani bisa lebih sejahtera.

Semoga (sesuai dengan harapan petani yang ingin bisa memiliki merk dagang sendiri) nantinya, di supermarket,  saya bisa menemukan gula kepala (gula semut)  Made in Bondolharjo ....(mungkin dengan label Manggar Sari).
Apalagi gula kelapa lebih ramah kesehatan dibanding gula tebu loh...




No comments:

Post a Comment