Selama hidup, 39 lebaran sudah saya lalui. Tapi saya masih saja bertanya-tanya kenapa setiap mendekati lebaran orang harus kalap membeli baju baru seakan setelah lebaran seluruh penjual baju akan beralih menjadi penjual kambing?
Mungkin karena sejak kecil orang tua saya tidak pernah mementingkan baju lebaran. Alasannya? Tak punya uang.
Jadi saya pun menjadi terbiasa.
Setiap puasa selesai, baju baru teman-teman bukanlah hal yang membuat saya iri. Dan hal ini saya terapkan pula pada dua anak saya.
Setiap puasa selesai, baju baru teman-teman bukanlah hal yang membuat saya iri. Dan hal ini saya terapkan pula pada dua anak saya.
Baju yang penting bersih, rapi dan sopan.
Beli baju tidaklah harus untuk lebaran, tapi memang karena anak- anak membutuhkan. Misal untuk sekolah. Atau baju lama sudah tak lagi layak pakai.
Jadi ..sayapun terheran-heran ketika melihat tetangga saya, sudah sejak awal puasa rajin mengunjungi Pasar Tanah Abang dan membeli begitu banyak baju, yang cukup untuk lebaran sebulan!
Menurut temen saya Si B ...saya siri dengan Si Tetangga. Iri karena tak mampu beli baju baru bertumpuk-tumpuk.
Walah..temen saya sok tau.
Iri sih tidak. ..kalau tak mampu beli..iya..wkwkwk
Iri sih tidak. ..kalau tak mampu beli..iya..wkwkwk
Sebenarnya saya menikmati moment bulan puasa. Tapi tak pernah bisa menikmati hiruk pikuk persiapan lebaran.
Semua orang seakan berlomba belanja. Semua berlomba untuk memiliki barang serba baru.
Lihatlah. Jelang lebaran kejahatan meningkat. Karena penjahat juga ingin baju baru..atau setidaknya anak istri penjahat juga ingin baju baru dan pulang kampung!
Selain soal baju baru, saya juga heran kenapa orang masak begitu banyak. Ada ketupat, opor ayam, dan lain-lain. Apakah lebaran harus makan ketupat? Lah tiap hari saya makan ketupat sayur.
Apakah setiap lebaran harus beli nastar yang satu toples isi 30 butir harganya Rp 120 rebu? Lah wong di toko roti di setiap stasiun, nastar, kastengel, dan lidah kucing kualitas premium dijual sepanjang tahun dengan harga di bawah Rp 80 ribu/ toples.
Apakah setiap lebaran harus beli nastar yang satu toples isi 30 butir harganya Rp 120 rebu? Lah wong di toko roti di setiap stasiun, nastar, kastengel, dan lidah kucing kualitas premium dijual sepanjang tahun dengan harga di bawah Rp 80 ribu/ toples.
Teman saya si A, pernah berkeluh kesah. Lebaran membuat uang hasil kerja siang malam, yang ia tabung selama setahun, ludes di hari lebaran, karena mudik butuh biaya besar, lebaran perlu makan besar, berbagi amplop pada sanak saudara perlu dana besar.
Padahal bertemu orang tua menurut saya bisa kapan saja. Silaturahmi tak harus dihari lebaran, memaafkan dan meminta maaf bisa kapan saja kan?
Jadi..mendekati lebaran....saya tidak paham...kenapa baju didiskon 70 persen tapi masih tetap mahal? (kalau ini keluh kesah kakak saya) heheheheh
Selamat Lebaran 2018
No comments:
Post a Comment