Wednesday, 10 August 2016

Mulut Besar

Pagi ini di kereta, tepat di depan saya ada dua  ibu-ibu. Satu diantaranya bicara menggelegar, tanpa putus, membahas soal harta yang ia punya dan soal sejumlah barang yang akan ia beli. Sementara ibu di sebelahnya hanya jadi pendengar, sembari sesekali menyahut dengan suara sangat lemah.

Hmmm..saya kagum dengan kemampuan Si Ibu Menggelegar. Ia bercerita nyaris tanpa koma. Mulai dari belanja kue hingga jutaan rupiah, beli baju seakan besok pabrik kain mau tutup..hingga ia membeli gelang seharga 2 juta lebih untuk cucunya yang baru bisa ngoceh. 
Selain itu ia bicara juga soal sewa mobil buat jalan- jalan ke Kebun Raya Bogor..hingga rupa-rupa makanan yang akan ia bawa. 

Kalau saya sih menikmati omongan besar ini. Saya bayangkan Si Menggelegar dikelilingi semua barang belanjaannya. Saya bayangkan kuenya. Lalu saya bayangkan gelang emas yang ia gambarkan detail hingga lekuk-lekuknya.

Tapi sebagian penumpang saya lihat sekali-kali melirik Si Menggelegar dengan tatap sebal tak terkira. Mungkin selain tergangu dengan cerocosannya, penumpang lain juga muak dengan isi ceritanya. 
Wkwkwkw.

Bagi saya...tidaklah pernah saya terganggu dengan cerita model mulut besar. Biarkan saja jika itu membuat si pemilik cerita bahagia. Tak perlu sinis..toh kita diminta membayar belanjaanya kan? 
Buat seseorang mungkin itu kebangaan dia..tak ada niat untuk pamer, tapi hanya berusaha menceritakan apa adanya yang ia miliki. 

Berpikirlah positif....maka indahlah duniamu.

Tuesday, 21 June 2016

Kontes Menyanyi

Saat menonton tv, saya heran melihat begitu banyaknya kontes menyanyi. Membuat saya berpikir..apa iya sukses instant, kaya materi dan terkenal hanya bisa dimiliki oleh orang yang bakat nyanyi doang?
Lalu bagaimana dengan orang yang tak bisa menyanyi?
Saya nyanyi di kamar mandipun cicak di dinding berjatuhan mati, bagaimana jika saya nyanyi di tv?

Sungguh..kontes menyanyi di televisi sangat memilukan hati saya. Menyadarkan betapa buruk kualitas suara saya.
Dan membuka mata saya (yang berbulu pendek) bahwa siapa bilang cantik dan pintar tidak bisa dalam satu paket? Jika ada yang berkata, biasanya orang cantik itu tidak berbakat atau sebaliknya.. berarti anda menghina Tuhan. Dosa!

Oh iya....satu lagi.. saya lihat format lomba nyanyi dimanapun sama. Ada yang nyanyi. Ada juri hahahihi. Lalu ada yang nangis saat tersingkir. Ada yang jual penderitaan untuk meraih simpati dan ada yang memutuskan urat malu yang penting masuk tv.
Bahkan ada lomba nyanyi yang mulai sore dan berakhir tengah malam. Tapi kadang saya bingung itu acara menyanyi atau acara melawak, karena antara menyanyi dan melawaknya lebih banyak lawakannya.

Dan menurut saya dari semua yang terlibat di acara itu penonton di studionya lah yang paling hebat. Bayangkan... mereka kuat nonton berjam-jam dan entah dibayar entah tidak. Kalaupun dibayar pasti besarnya hanya sepersekian persen artis yang nyanyi, komen dan ngelawak .


Kalau kita yang nonton di rumah sih saya yakin tak banyak yang kuat nonton selama itu non stop. Paling sesekali ditinggal mandi, ke warung, ke poskamling bahkan ditinggal tidur.
Lah klo penonton di studio kan harus hore-hore terus sepanjang waktu. Mana boleh mereka tidur.
Saya jadi bertanya-tanya..mungkin penontonnya pakai sistem shift persekian jam kah?
Entahlah.

Soal artis dan jurinya kenapa kuat bawa acara selama itu? Saya sih tidak kagum..kan mereka dibayar tinggi.
Hehehe.

Hidup penonton di studio!!! Kalian hebattt euy..

Oh ya soal juri...dikontes nyanyi apapun..baik yang mengaku murni ide sendiri atau kompetisi dengan format impor dari luar negeri. Saya lihat selalu ada satu juri yang dibikin seolah bersifat nyebelin (mengkritik pedas) ...ada juri yang selalu berantem satu sama lain dan ada juri yang kalem sebagai penengah.
Sah-sah saja lah ..karena untuk menghibur penonton konon formatnya harus begitu.
Tapi apa semua juri kontes menyanyi harus begitu?

Sayapun teringat tanggapan teman saya ketika saya ngoceh soal lomba-lomba nyanyi yang seolah seragam...teman saya dengan sengit mengomel.
" Ah lo...lo bisa ngomong kaya gitu karena lo sirik..tidak bisa nyanyi, tidak bisa jadi juri, tidak bisa jadi penonton studio..Ngaca lo! Sudah lah ..klo lo tidak suka...ya jangan ditonton. Matiin tipi lo..atau lo jual aja tipi gendut buluk lo itu. Nggak usah sok kritik-kritik. Lagian siapa lo?"

Sayapun nyengir. Dan saya rasa perkataan teman saya itu...ada benarnya.

Saya akan jual tipi...

Hahahaha

Thursday, 16 June 2016

Musik Gratis Dari PLN

Semula saya menggunakan listrik daya 900 watt. Tapi kok sering sekali anjlok.
Lalu saya berniat pindah ke 1300 watt.Ternyata (kala itu) menurut petugas tidak bisa lagi menggunakan sistem lama. Harus token. Baiklah...maka si meteran tagihan bulanan pun berganti menjadi meteran kekinian.
Tapi....Weladalah.... mengerikan sekali biaya listrik saya.
Dengan pemakaian sama, di 900 watt saya hanya membayar listrik di bawah Rp 300 ribu per bulan tapi sejak beralih ke 1300 watt..tagihan menjadi Rp1 juta. Wajar lah jika tagihan saya naik karena listrik 1300 konon non subsidi..tapi semahal itu kah?

Paling sebal jika tengah malam tiba-tiba meteran berbunyi minta diisi. Rasanya seperti merawat bayi yang kapan saja bisa menjerit menangis meminta susu ketika lapar..kita harus siap kapan saja "menyuapi" token agar Si Meteran diam.

Dan ketika Menteri Rizal Ramli protes soal ini..lahhhh..rasanya seperti mewakili suara hati saya.
Lalu munculah kebijakan masyarakat bebas memilih sistem token atau non token.
Aishhh..terlambat sudah.
Kini semua tetangga kontrakan saya sudah terlanjur beralih ke token.


Maka....Sekarang setiap hari kami menikmati konser gratis dari meteran kami yang "menyanyi" saling bersahutan..

PLN sungguh menghibur...memberi kami musik gratis setiap hari.
Keren lah...kereennnnnnn.

Tit....tit...tit....tit....begitu bunyinya...

Tit.... tit ....tit...emakkkkkkk..minta tokennyaaaaa.....


Dan sekarang sampah di rumah saya juga bertambah.... sampah struk token listrik.

Sunday, 22 May 2016

Wisuda Tanpa Foto

Karena teman memasang profil BBM gadis cantik diwisuda, saya jadi teringat masa saya menutup masa kuliah dengan wisuda yang memprihatinkan.

Kala itu saya tak punya uang untuk dandan menor ke salon. Teman kost, dengan baik hati dan suka rela mendandani saya ala kadarnya. Yang penting bedak dan lipstik. Oles..tempel tepak tepuk..maka jadilah.

Karena konde juga tak mampu saya sewa, maka rambut saya nan pendek dan tipis hanya diikat kebelakang lalu di tekuk, macam pantat ayam baru bertelor.

Bagaimana dengan baju?
Kebaya dan kain saya pinjam dari teman asal Palembang. Agak kedodoran, tapi saya anggap itu bagian dari resiko meminjam.
Sepatu..? Juga pinjam ke teman kost yang lain.
Dengan hak tinggi, terasa gempa setiap kali melangkah.

Setelah siap, maka bermodal kamera tua ( kala itu kamera masih menggunakan roll film) kami foto-foto lah dengan pose-pose centil-centil mengenaskan. Berusaha mendongkrak percaya diri meski berasa rendah diri setengah mati.

Bagaimana cara menuju tempat wisuda di kampus kami tercinta?
Saya nebeng teman yang menyewa angkot. Seperti rombongan emak-emak mau kondangan.
Untunglah wisuda hanya di gedung kampus..bukan di convention hall nan jauh dan megah. Karena jika di JHCC atau Balai Sudirman misalnya...wassalam.

Eng ing eng. Begitu tiba di gerbang kampus, saya berjalan tertatih-tatih.Rasanya seperti mau terjerembab.

Alamak banyak sekali tukang foto.
Dan tak satupun dari mereka yang sudi memotret saya. Padahal teman-teman saya langsung jadi incaran blitz kamera.
Mungkin tukang foto tak yakin saya punya uang untuk membeli hasil jepretan mereka. Atau dandanan saya tidak ada setelan mau wisuda dan dikira hanya salah satu anggota keluarga yang mengantar.

Bapak Ibu dan saudara-saudara (yang kebetulan datang dari kampung ) ternyata sudah pula menunggu. Dari tatapan ...terlihat mereka begitu nelangsa dengan tampilan saya.
Sayapun tersenyum malu-malu prihatin.

Tapi dalam hati saya bangga, setidaknya saya tidak menyia-nyiakan hasil keringat kedua orang tua dan bantuan saudara-saudara. Saya bisa selesai kuliah setahun lebih cepat. Alasan utamanya bukan karena saya pintar..tapi saya memaksakan diri agar orang tua saya tak lama-lama pusing dengan urusan biaya.

Maka...dengan dandanan ala kadarnya ini saya melalui prosesi wisuda yang hikmat dan terasa mengharukan. Terbayang kertas-kertas ujian saya yang buram. Terbanyang perjuangan membuat skripsi yang dramatis. Semua berputar di kepala saya dengan gegap gempita.

Lalu....karena dana wisuda yang murah tidak menyediakan makan siang, maka begitu wisuda dan proses foto resmi wisuda selesai, kami berombongan menuju rumah saudara di Depok. Kami makan Indomie rebus ramai-ramai.
Nikmatnya ....



Beberapa minggu kemudian, saya datang lagi ke kampus dengan niatan mengambil hasil foto.
Tapi...malang nian nasib ini. Ternyata hasil fotonya tidak ada.
Ya Tuhan... sedihnya.
Bukan soal tak melihat hasil fotonya, tapi uang yang sudah saya bayarkan untuk foto itu adalah hasil kerja keras Bapak menjual bibit ikan ke pasar.

Rasanya sungguh tak rela.

Dan pihak penyelenggara hanya bisa bilang maaf...Foto tak jadi..uang tak kembali.


Demikian cerita wisuda saya.Mungkin tak bisa jadi inspirasi...tapi tak usah pula ditangisi.

Betul kata teman saya : Hidup lo berat

Hahahaha...


Tuesday, 19 April 2016

Aquarium Kaiyukan Yang Menawan



Matahari akhirnya menyapa kulit kami pagi-pagi.
Tujuan hari ini Aquarium  Kaiyukan
Halaman aquarium sangat luas. Sejumlah murid taman kanak-kanak nampak berbaris rapi, senam dan bernyanyi. 

Mood Ken mulai naik turun. Kakinya yang sakit karena otot kaku (efek terlalu banyak berjalan dan berdiri plus udara dingin) membuat saya harus bersabar menguatkan. Karena sudah jauh-jauh ke Osaka, sayang rasanya jika harus di hotel atau di bus saja.

Masuk ke pintu utama aquarium kami disambut patung ikan super besar, lalu aquarium mirip di Seaworld Ancol plus booth foto. Jika ingin foto dan cetak siapkan sekitar Rp.150.000/lembar.
Setelah foto, pengunjung menaiki eskalator sempit (hanya muat satu orang mirip antrian) dan curam setinggi 8 lantai.

Pemandangan pertama diujung eskalator adalah hutan Jepang. Dibuat semirip mungkin aslinya lengkap dengan berang-berang yang lucu dan menggemaskan.
Selanjutnya kita disuguhi rupa-rupa ikan hingga singa laut dan pinguin yang terlihat sehat dan bahagia.
Lalu setengah perjalanan jelang pintu keluar pengunjung bisa kenikmati aquarium raksana serupa lautan  Pasific lengkap dengan ikan-ikan super besar seperti hiu dan paus. Ada 5.400 ton air dengan ke dalaman  9 meter dan panjang 34 m.
Wow..rasanya menenangkan sekali melihat rupa-rupa hewan air ini.
Si Ken sampai susah beranjak.


Jelang pintu keluar ada kolam tempat aneka ikan (bayi hiu, paus dan ikan pari) yang bisa disentuh pengunjung.
Tapi eit...ada aturan yang harus dipatuhi yaitu cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh ikan..plus jangan sentuh mulut ikan.
Di titik ini Si Ken sudah tidak antusias. Dia sudah capek dan terus mengeluh kakinya kesakitan.

Hmmm..aquarium yang sangat indah. Jika suatu saat nanti saya punya kesempatan kembali ke sini...saya akan menghabiskan waktu seharian.

Untuk yang berkunjung ke Osaka..Aquarium Kaiyukan...sangat saya rekomendasikan.











Osaka, 15 Maret 2016

Support by : Boneeto

Universal Studio Osaka.. Olala



Sejak pagi gerimis tak hentinya mengguyur Osaka. Ramalan cuaca mengatakan, cerah akan muncul jelang sore.
Maka dengan menembus rintik -rintik dan menahan udara super dingin 6 derajat kami menuju Universal Studio.

Jarak dari tempat parkir ke pintu gerbang lumayan jauh, sekitar setengah kilo meter.Jalan kaki terasa semakin berat karena diterpa hembusan angin yang terasa membekukan tulang.

Yang pasti begitu sampai di depan gerbang utama, semua langsung sibuk berfoto di bola dunia logo Universal.

Setelah itu barulah kami menuju gate ticket. Lancar tanpa antrian berarti. Mungkin karena masih pagi.

Sampai di dalam ...hujan makin deras. Kami berpencar dengan waktu dan titik kumpul yang sudah kami sepakati. Setidaknya kami punya waktu 7 jam untuk berkeliling. Jam 12 waktu setempat kami sepakat bertemu di wahana Harry Potter.

Tujuan pertama berdasar rekomendasi guide adalah wahana Spiderman.
Maka antrilah kami....hampir 3 jam lamanya. Untunglah Ken tidak protes. Padahal pertunjukan 3Dimensi yang kami tonton hanya sekitar 5 menit!
Ya lumayan lah...setidaknya ngalamin diselamatkan Spiderman dari serangan musuh.
Pokoknya, diujung antrian yang berasa sepanjang Tembok Cina, kami dibagikan kacamata 3 dimensi, lalu dipersilahkan duduk manis dibangku kapasitas 12 orang (yang dibentuk menyerupai mobil) dan wus..wus. Spiderman sempat nangkring di depan kami, dan berbicara kepada kami menggunakan bahasa Jepang..entahlah apa yang dikatakan mas Spider pada kami. Mungkin ia berkata..."Apapun yang terjadi tenang..ada Aku yang akan melindungi dan menyelamatkanmu..." So sweet.

Maka jungkir balik plus melompat ke sana kemari lah Spiderman menyelamatkan kami dari serangan musuh. Ketika kami di serang dengan api maka ada hembusan udara hangat..dan ketika kita diserang dengan air, maka ada titik air sungguhan menimpa kami. Paling menegangkan ketika kami seolah jatuh dari gedung bertingkat....rasanya seperti naik roller coaster... wussssss..jatuh dari ketinggian lalu...sretttttt...detik terakhir sebelum terhempas, kami diselamatkan oleh jaring Mas Spider.
Hahaha.. menyenangkan..tapi sayang kenapa durasinya tidak 30 menit ya...? Tidak sebanding dengan capek antrinya.

Jadi komennya...seru sih, tapi tetap tak sebanding dengan capek antrinya.

Baiklah..kami harus segera keluar. Begitu turun dari bangku, kami disambut mbak-mbak yang menawaran cuci cetak foto seru kami ketika di dalam.
Muahalnya...Rp.150.000.
Tapi demi sebuah kenang-kenangan..dengan berat hari tercetaklah foto kami.
Nampak saya dan Ken sedang tersenyum lebar di sana.

Segera saya ajak Ken keluar dari Wahana, karena sebelum pintu keluar ada rupa-rupa makanan dan souvenir Spiderman yang harganya jauh dari jangkauan kantong saya.
Hahaha





Osaka 14 Maret 2016

Di sponsori oleh : Boneeto

Monday, 18 April 2016

Melawan Lupa

Saya itu jagonya lupa. Mungkin kalau ada lomba balap lupa, saya bisa juara atau minimal finalis.

Bila keluar rumah, sekian menit kemudian pasti saya kembali dengan alasan ada yang tertinggal.
Paling sering..HP.

Tapi, saat kami pergi sekeluarga, benda yang paling sering alpa saya bawa adalah tas.
Padahal di tas terdapat segala macam peralatan "tempur". Mulai dari dompet sampai makanan dan baju ganti anak-anak.


Hal konyol menyangkut lupa juga saya alami sewaktu Ken pertama masuk sekolah dasar.
Saking semangatnya, menggunakan motor, melesatlah kami menembus kemacetan.

Segala macam wejangan saya sampaikan pada Ken.
Belajar yang benar, hormati dan dengarkan kata guru, konsentrasi, sayangi teman-teman. Bla..bla..bla
Begitu sampai di gerbang sekolah..eng ing eng.
Kok tasnya Ken tidak terbawa.
Gubrak...

Pernah juga kami berempat pergi tanpa tujuan. Pokoknya muter-muter sajalah.
Hingga kemudian Ken minta beli somay. Begitu tiba waktu membayar....loh mana tasnya?
Ternyata tas tak terbawa.
Padahal dompet dekil tua saya ada di dalamnya.
Beuhh...

Dan kemarin, kami berniat kembali berputar-putar. Begitu sampai di luar pintu pagar, saya tengok bagian depan motor. Wah ...kosong..tak ada tas di sana.
Sayapun ngomel panjang lebar ke suami
"Kan tadi sudah saya bilang. Tolong bawakan tas. Jangan sampai deh bikin malu gara-gara tak bawa uang. Terlalu sering tas tertinggal. Saya kan ribet urus dan pegang Kin. Jadi tolong dong...soal tas ya saya dibantu. Bla..bla..bla"
Nerocoslah saya seperti petasan banting.
Suami saya diam saja.
Si Ken diam saja.
Kom tumben tak ada yang membalas sengit omelan saya.

Lalu..lewat kaca spion saya melirik wajah saya yang cemberut masam seperti Asam Jawa.

Eit. Tunggu...apa itu dipundak saya....
Weladalah....ternyata tasnya sudah tergantung manis di punggung saya !!!!
Omelan saya langsung terhenti seketika.

Tawa Si Ken dan Bapaknya meledak seperti mercon perkawinan.
Si Ken menyeletuk ..."Ibu...ibu. Ibu ini lucu kaya Parto".


Tiba-tiba saya merasakan tas dipunggung menjadi berat.


Seberat beban hidup saya..

Hahahahahha