Saturday, 29 August 2020

Pengalaman Pertama Makan Burger

Saat itu saya kelas 4 SD, sekitar tahun 1988, saya untuk pertama kalinya datang ke Jakarta. Rasanya, bingung. Terasa Jakarta begitu wah dan asing. 

Malam hari, saya diajak Bu Lik (tante) ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Sebagai anak yang pengalaman tertinggi hanya ikut Bapak ke pasar ikan, saya sungguh canggung. Bingung bagaimana harus bersikap, bingung saat naik eskalator. Rasanya pas turun eskalator badan seperti terdorong mau nyusruk. 

Lebih bingung lagi saat ke Food Court. Bu Lik dan Pak Lik mengajak saya ke sebuah gerai makanan cepat saji. Begitu disodori menu makanan, dan diminta memilih, kepala saya langsung pening. Nama-nama makanan yang terasa asing. Sebagai anak yang pengalaman makan tertinggi adalah bubur ganyong dan rebusan angkrik, nama burger dan kentang goreng tentu tak terbayang rasanya. Harganya pun membuat saya merinding, karena uang seharga satu porsi  burger pun belum pernah saya miliki.

Akhirnya saya memilih menu yang sama dengan Bu Lik dan Pak Lik. Mungkin karena Bu Lik memahami keterasingan saya, diputuskan kami memesan untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, burger dan aroma kentang goreng menggoda perut saya yang lapar.

Tapi begitu Burger dibuka, saya bingung, ini bagaimana makannya? Apakah perlu sendok dan garpu, apakah rotinya yang berada di lapisan paling atas harus dimakan dahulu,baru kemudian daging dan sayurnya? Apakah perlu di potong kecil-kecil dengan pisau?

Melihat wajah saya yang bingung, Pak Lik saya lalu memberi saya contoh : Begini Gi,pegang dengan kedua tangan  lalu gigit. 

Ohhhhhh..begitu. Lalu saya pun mencoba burger untuk pertama kalinya. Rasanya aneh. Sayuran mentah,daging dan roti yang digigit bersamaan, waduhhhhhh, kalau boleh saya ingin menukar saja dengan tumis kangkung,ikan asin dan sambel terasi dengan nasi hangat. 

Hahahahah

Friday, 31 July 2020

Jambret Ganteng

Punya pengalaman kena jambret? Saya pernah, April 2020. 
Kejadiannya tak jauh dari gerbang kantor tempat saya bekerja,Pulo Gadung, Jakarta Timur. Saat itu, Minggu, saya pulang sekitar pukul 15.30 WIB ,berjalan kaki ke arah jalan raya dengan seorang teman. Kami sedang asyik ngobrol ketika tiba-tiba seorang pemuda datang dari arah belakang  lalu merampas ponsel yang saya pegang.
 
Dan dua detik saya terpakuuuuuu, bagaikan melihat gebetan. Kemudian saya hanya bisa memandangi dua pelaku berboncengan kabur dengan sepeda motor.
 
Pelaku memilih waktu yang sangat tepat. Saat itu jalanan sepi. Taksi dan ojek online yang biasanya mangkal pun tak ada. Tapi sasaran pelaku tak tepat. Ponsel yang dia rampas itu ponsel rusak. Sudah tidak bisa menerima panggilan masuk dan juga layar telah retak penyok di sana sini. Saya jamin setelah melihat kondisi ponselnya,pelaku akan sedih. Hahahahah. 
 
Jambretnya itu nekat juga loh. Ia tidak mengenakan pelindung wajah apapun. Tak berhelm, bertopi apalagi bermasker. Anaknya masih muda, tampang anak kuliahan, bersih, rapi, ganteng bahkan mirip artis sinetron, mengenakan tas selempang kecil dan celana pendek dengan jaket yang keren. Kasihan ya emak anak ini,punya anak ganteng tapi hatinya tidak ganteng.
 
Dan dari rekaman CCTV kantor, pas merampas ponselnya tak terlihat terhalang pohon, hanya terlihat dua pelaku datang berboncengan motor dari arah belakang kami, lalu seorang pelaku turun, diam-diam mengikuti kami dari belakang ..selanjutnya ... terlihat ia berlari ke arah depan kami dan langsung tancap gas dengan motor merah tanpa plat.
 
Lalu bagaimana rasanya dijambret? Kaget, sedih dan takut. Bukan nilai barangnya, tapi isi di dalamnya. Ada foto-foto anak-anak saya. Tapi pada akhirnya harus ikhlas ya. Agar tidak jadi beban. 

Dan kalau dipikir-pikir, tak hanya saya kasihan dengan diri saya sendiri, tapi saya juga kasihan pada jambretnya, karena itu ponsel dijual Rp100 ribu pun belum tentu laku.
 
Pesan saya pada itu jambret.... coba kalau mau menjambret liat-liat dulu korbannnya baik-baik, kira-kira mampu beli ponsel mahal apa enggak. Kecuali mungkin pas menjambret saya situ sedang latihan ya..buat nambah jam terbang...
Ya kan? 

Wednesday, 15 April 2020

Belanja Sayuran Di Tulipa Montana Saja

Saat ini, semua orang diminta tinggal di rumah. Demi kebaikan bersama, kita patuh yuk.

Lalu bagaimana saat kita  harus berbelanja kebutuhan sehari-hari. Semua sekarang bisa dibeli secara online. Termasuk sayur mayur.

Dimana belinya ya? Sekarang kan banyak toko online sayuran, toko mana yang bisa jamin sayuran yang saya teruma berkualitas terbaik?

Tenang .. klik Tokopedia aja lalu klik  https://www.tokopedia.com/tulipamontana.

Toko ini awalnya memang menjual produk kue yang enak banget. Lalu seiring dengan pandemi Covid-19 dan anjuran untuk mengkonsumsi sayur dan rempah agar imunitas meningkat, pihak toko berinisiatif untuk menambah produk sayur mayur dan bumbu dapur.

Jadi buat yang mau masak di rumah dengan tanpa khawatir, yuk belanja aja di Tulipa Montana. Kualitas sayurnya dijamin segar, dengan harga yang terjangkau.

Jadi anda di rumah saja..biar Tulipa Montana yang antar sayurannya.





Wednesday, 25 March 2020

Fagetti Bikin Marmer Selalu Di Hati

Sumber Foto : fagetti.com

Apa itu Fagetti?
Fagetti (PT Fajar Gelora Inti) adalah perusahaan yang memproduksi batu alam grade premium dengan marmer sebagai produk utamanya.
Fagetti juga supplier marmer terkemuka di Indonesia yang memiliki koleksi  marmer terlengkap dengan jenis dan motif yang unik.  Fagetti  memoles batu alam  Indonesia dan juga mengimpor marmer dari berbagai negara agar bisa menjadi materi yang bisa membuat tampilan gedung dan  rumah sempurna.

Nah..masih bingung cari marmer mana sih yang terbaik? Coba deh kunjungi https://www.fagetti.com/. Suka marmer putih, silverstone, limestone atau marmer statuario?  Tinggal pilih sesuai selera dan budget kamu. Pokoknya kamu bakal terkagum-kagum dengan keunikan, kekuatan dan kualiatas produk Fagetti. Bahkan bisa didesain sesuai permintaan  kamu loh.
Ini sih keren banget ya. Rumah atau bangunan bisa unik dan personal banget!!!

Oh ya...pabrik Fagetti  ada di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat loh, luasnya 23 hektare dan mengolah  900 jenis batu alam dengan pengalaman 34 tahun, karena sudah mulai berproduksi sejak tahun 1986. 


Eh marmer itu buat lantai  dan dinding aja ya? Wah..enggak dong..sekarang marmer itu bisa juga untuk interior lainnya. Fagetti menciptakan batu marmer menjadi lebih ringan sehingga bisa diaplikasikan dalam berbagai jenis desain yang lebih kreatif misalnya desain melayang seperti drop ceiling.
Fagetti juga menampilkan artwork yang terbuat dari batu marmer, contohnya berupa lukisan burung dalam bentuk 2D maupun 3D. Jadi meskipun berbahan marmer tapi kreasinya bisa tanpa batas ya. Perpaduan seni dan tekhnologi apik dalam media marmer yang elegan. 

Keungulan lainnya, Fagetti punya special finishing pada permukaan marmer di antaranya adalah polished yang membuat permukaan marmer menjadi glossy, lalu honed yang membuat permukaan menjadi doff dan leather yang membentuk tekstur pada permukaan sesuai dengan sifat marmer. 


Pingin liat langsung di depan mata mahakarya Fagetti? Coba deh kamu datang ke Kensington Royal Suites di Kelapa Gading, Jakarta, atau ke Tunjungan Plaza Indah di Surabaya, Jawa Timur, atau ke Masjid Suciati Saliman di  Yogyakarta, lalu ke South Quarter di Jakarta, Pondok Indah Residence  di Jakarta, atau Golden Tulip Holland Resort Batu, di Jawa Timur, kamu pasti bakal terkagum-kagum dengan keindahan marmernya. Itu semua berkat Fagetti loh sebagai produsen dan suppliernya. Sumpah keren bangettttttt. Eh Menara Kompas di Jakarta juga project dari Fagetti juga. Tuh kann...jaminan mutu dan keindahannya. 

Fagetti itu brand marmer premium yang memanjakan selera tinggi konsumennya sehingga tercipta  proyek-proyek prestisius seperti hotel, apartemen, perkantoran, mal, rumah sakit dan hunian mewah. Fagetti jaminan kemewahan.

Fagetti dalam produksinya menggunakan mesin dari Italia yang bisa membentuk batu alam dengan detail. Sehingga Fagetti bisa memanjakan  para arsitek, interior designer dan product designer dengan ukuran yang sangat presisi. Fagetti juga memiliki laboratorium  untuk menguji kekuatan dan kualitas batu alam sebelum dikirimkan ke pelanggan. Jaminan mutu banget. 


Nah....ada satu lagi kehebatan  Fagetti yang kudu kamu tahu, Fagetti pernah menggelar The Stone Forest di IndoBuildTech 2017 dan The Stone Chambers di IndoBuildTech 2018. The Stone Chambers epic banget karena Fagetti menghadirkan karya arsitektur yang terinspirasi dari film The Great Gatsby (Faried Masdoeki/Hadiprana) dan Alice in Wonderland (Alex Bayusaputro/Genius Loci). Ini perpaduan marmer dan seni yang indah banget.


Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang marmer Fagetti, kamu bisa juga datang ke Exhibitons yang sering digelar. Cek jadwal Exhibitons di https://www.fagetti.com/.

Dan kamu bisa bawa kemewahan ala Fagetti itu ke rumah kamu juga loh. Buruan pilih marmer Fagetti ya...


#Fagetti #MarmerTerbaik #MarmerFagetti #FagettiWold.






Wednesday, 9 October 2019

Kisah Kulkas Rusak

Saat itu saya sedang meliput korban kecelakaan metromini tertabrak kereta di kamar jenazah RSCM Jakarta.
Diantara aroma formalin dan aroma jasad  yang baru diturunkan dari ambulans,  saya melihat seorang pria dengan tatapan kosong. Ia seperti patung. Tubuhnya terduduk kaku. 
Sayapun menghampiri, bukan untuk melakukan pekerjaan saya, tapi hanya ingin menyapa.
Pada sapaan pertama, pria bermata kosong ini tidak bereaksi. Matanya menatap lurus ke depan dan hampa. 
Namun pada sapaan kedua ia menoleh kepada saya lalu menunduk dan menangis pilu.  
" Istri saya sekarang sudah meninggal. Padahal semalam dia meminta  saya memperbaiki kulkas yang tak lagi dingin. Sebenarnya sudah lama ia mengeluhkan kulkas kami yang rusak. Tapi saya abaikan. Saya malah sempat kesal karena dia ngomel terus soal kulkas yang rusak. Sekarang saya menyesal..saya menyesal tak menuruti permintaannya. Saya sangat menyesal. Tadi pagi dia masih pamit pada saya dan sekarang dia sudah tidak ada.." 
Saya ini cengeng. Saya ikut menangis. Dan saya tidak bisa berkata apa-apa hanya menepuk pelan pundak pria tersebut. 

Tak lama datang pria lain, mungkin kerabat atau sahabatnya. Mereka berjabat tangan lalu menangis bersamaan. 

Saya tak kuat lagi melihat duka mereka. Saya memilih menjauh. 

Dan untuk beberapa menit kemudian halaman kamar jenazah  dipenuhi  keluarga korban lain yang mulai berdatangan. Ada tangisan dimana-mana berbaur dengan aroma formalin yang rasanya berputar di kepala.

Lalu pelajaran apa yang bisa saya ambil dari tangisan dan kisah pilu dari pria yang menyesal tidak membetulkan kulkas? 

Jangan marah jika ada yang mengomelimu..bisa jadi itu omelan terakhirnya.
Jangan menunda mengabulkan permintaan orang terdekatmu, meski hanya permintaan sederhana..bisa jadi itu permintaan terakhirnya. 
Perlakukan orang lain seakan itu hari terakhirnya.
Dan jika tidak bisa menyenangkan orang lain setidaknya jangan menyakiti. 
Kita tidak bisa membahagiakan semua orang, tapi  setidaknya kita bisa membahagiakan orang terdekat kita semampu kita. 

Wednesday, 7 August 2019

Drama Kami Saat Black Out (Pemadaman Listrik Total) di Jakarta

Minggu, 4 Agustus 2019

Keni baru pulang mengaji ketika listrik padam (sekitar hampir jam 12.00 WIB). 
Wah..rumah jadi remang-remang akibat ventilasi yang buruk. Udara  pengap, dan mati gaya.

Karena internet juga on off (sebelum mati total), anak-anak ribut tidak bisa akses youtube. Dari group WA kantor, saya tahu, pemadaman ternyata merata di Pulau Jawa dan perbaikan akan memakan waktu 1-6 jam.
Anak-anak mulai gelisah. Beragam permainan yang saya tawarkan tidak mempan karena udara panas.

Baiklah..akhirnya saya memutuskan membawa anak-anak ke Taman Kota Dadap Merah, di Jagakarsa, Jakarta Selatan, tidak jauh dari rumah. Untungnya dua jam sebelum listrik mati saya sudah mendinginkan 2 botol air putih. Lumayan lah bisa buat bekal hapus haus.
Kinan juga saya tawarkan mau membawa mainan apa? Kinan memilih sendok dan sekop pasir, plus sejumlah mobil-mobilan.

Taman lumayan rame,anak-anak kampung sebelah asyik bermain ayunan, kejar-kejaran atau sekedar jalan mengelilingi taman. Kinan pun lalu asyik bermain pasir sambil sesekali menunggu giliran mainan ayunan.

Pukul 15.00 WIB Keni mulai mengeluh lapar, dan minta makan mie ayam. Saya tawarkan pulang sebentar untuk makan di rumah dia menolak. Alasannya....masih mati listrik.

Kami kemudian melipir ke warung mie/bakso terdekat. Uang di saku sisa Rp 23 ribu. Saya pun meminta tolong Bapaknya Keni untuk mengambil uang di ATM dan kami duduk dulu sambil memesan mie (Kinan ikut bapaknya ke ATM). 

Eh..Keni kemudian berubah pikiran, ia minta bakso. Sayapun kemudian memesan bakso 3 mangkok (Buat Keni, Kinan dan Bapaknya..saya nanti makan sisa Kinan saja lah, tak bakal habis dia). 


Saat saya menuangkan kecap ke mangkok Keni...deg..teringat saya..."Loh ini kan mati lampu, jaringan seluler mati..apa iya ada ATM yang menyala?" Tapi saya masih mikir positif.." Ah..minimarket kan punya genset, punya listrik cadangan".

Saya coba hubungi Bapak Keni agar mengambil tunai saja di kasir minimarket (jika kesulitan mendapat ATM). Tapi.....tak ada jaringan telepon seluler.
Saya pun segera mengingatkan Keni, jangan pesan minuman (minum dari bekal minum saja) dan jangan minta nambah, khawatir uang tidak cukup.

Waduh..nggak beres ini. 

Dan benar dugaan saya. Bapaknya Keni datang kembali ke warung mie dengan muka masam. Tak ada ATM yang menyala, minimarketpun tutup. Duhhhhh..saya panik. Bagaimana mau membayar tiga mangkuk bakso ini?
Saya tanya ke Si Abang Bakso, berapa total yang harus saya bayar. Abangnya bilang RP 42 ribu. Matiiiiiii...saya hanya pegang RP 23.000

Sayapun segera "bergerilya" menyusuri setiap saku tas, berharap ada keajaiban.
Nihil..adanya  koin-koin 200 dan 100 perak kembalian dari minimarket saat membeli susu Kinan beberapa hari sebelumnya.

Saya kemudian meminta suami saya mengecek saku celana..siapa tau ada keajaiban....Dannnnnn..benarrrrr.. Ada uang RP 20 ribu terselip di saku belakang. 

Alhamdulilahhhhhhhhh..... terbayarrrrr.... Rp 23 ribu + Rp 20 ribu = Rp 43 ribu. Masih ada sisa Rp 1 ribu.
Wkwkwkwk,sport jantung ini. Terhindar lah dari wajah masam Si Abangnya yang sudah mengira kita akan ngutang (sampai listrik nyala) ...wkwkwkkwkw


Demikian drama kami saat mati lampu yang menghebohkan Ibu Kota Jakarta itu.



Saturday, 3 August 2019

Terimakasih Go-Food

Sabtu siang ini, saya kebingungan mau masak apa. Uang di tangan sisa Rp 15 ribu. 
Iseng saya cek akun Gojek suami yang belum pernah dipakai sekalipun. Dan teringat akan iklan di televisi yang menyampaikan Gojek memberikan voucher diskon  yang lumayan besar bagi pengguna  Go-Food pertama.
Saya pun kemudian mencari menu yang jaraknya terdekat saja dan harganya sesuai dengan uang saya.
Nemulah saya Menu Bawal Bakar  di Rumah Makan Ayam Bakar Gendhis di Jalan Baung Jagakarsa. Perporsi Dikson dari Rp 15 ribu menjadi Rp13.500. Nah pas ini.

Utak-atik utak atik....emejinggggg..emejing..saya bisa memesan 2 porsi Bawal Bakar (tanpa nasi), hanya Rp 12 ribu dengan rincian : harga ayam Rp 13.500 X 2 = Rp27.000, dipotong  diskon dari kupon Rp20.000. Emejingggg..saya hanya bayar 2 porsi Bawal Bakar Rp7.000 dan ongkos kirim Rp 5000.

Uang Rp 15 ribu saya berjaya untuk mendapatkan 2 Porsi Bawal Bakar!


Sekitar 15 menit...bawal bakar sudah ada ditangan. Cuss saya hanya bayar Rp 12.000 dan  Rp 3000  buat tips si Abangnya.Passss.

Dan wow..rasanya enakkk banget. Bawalnya segar dan gurih.
Dua ekor bawal ludes dalam lima menit dimakan Keni tanpa nasi. Saya kebagian nicip sedikit...dan Keni berkali-kali bilang sangat enak dan menyarankan besok-besok pesan lagi.

Baiklah...Bawal Bakar ludes..saya makan nasi dari magic com plus sambal dan daun selada  bawaan si bawal. Enakkkk banget.

Terimakasih Abang Gojek...Go Food.... Hanya dengan 15 ribuuuu..kami bisa dapat makanan enak. Dan menu Bawal Bakar di Warung Makan Ayam Bakar Gendhis di Jalan Baung, Jakarta Selatan ...recomenden banget. 

Cuss cobalah.