Monday, 30 January 2017

Ahli Serangga

Kinan (3 tahun) ingin jadi ahli serangga.
Sayapun teringat Museum Serangga di TMII Jakarta Timur.
Minggu lalu saya ajak Kinan ke sana. Letaknya tidak jauh dari Keong Mas, menyatu dengan Aquarium Air Tawar.
Jadi untuk masuk ke Museum Serangga mau tidak mau ya harus masuk ke Aquarium Air Tawar dulu untuk membeli  tiket terusan (Rp 25.000).
Tentu saja Kinan senang sekali  melihat aneka serangga yang selama ini hanya bisa ia lihat di Youtube.

Namanya juga museum ya...semua serangga yang di sini sebagian besar sudah diawetkan. Hanya kupu-kupu yang kita bisa saksikan hidup berterbangan cantik sekali (taman kupu-kupu letaknya sebelum pintu keluar).

Serangga yang buat sebagian orang begitu di takuti dan dibenci berderet rapi dan sangat indah. Kinan tentu saja rasanya seperti di " surga" . Dengan kaki-kaki kecilnya ia berkeliling dan menyebut satu-satu nama serangga yang saya sendiri nggak hafal namanya...wkwkwkwkw.
Bahkan saya belajar dari Kinan kalau kepik itu Lady Bug, Belalang sembah itu Mantis dan Termite itu Rayap. Lah saya ini Bahasa Inggris hapalnya yang umum-umum saja. Kalau nama-nama serangga secara detail ya saya pahamnya hanya seputar butterfly dan ant. Apalagi nama-nama kupu yang bejibun..ada Queen, Clear Wing...entahlah... banyak ... saya bingung.
Dan semua itu Kinan kenali dengan mudah berkat Flash Card di Youtube.

Saya belajar dari kamu aja lah Kin..wkwkwkw.

Jadi buat yang bingung libur mau ajak anak-anak kemana.. Museum ini saya rekomendasikan banget. Anak-anak bisa bersenang-senang sambil belajar.
Yuk.....

"My Litte Bug" Kinan..hehehheh

Wednesday, 9 November 2016

Jahe Itu Oke


Masuk angin pasti semua pernah mengalami. Rasanya tak nyaman bukan?
Sebenarnya pengobatan dan pencegahannya  sederhana loh..bisa diambil dari dapur kita.
Cukup campurkan air jahe, ekstrak cabai, sereh, dan cengkeh. 
Tapi buat yang sibuk, bikin minuman campur aneka rupa itu pasti ribet ya.
Tak usah khawatir ...ada Minuman Herbal Nikmat Melekat " Ekstrak Jahe".
Ekstrak Jahe  produksi Anom -Timbang, Kejobong, Purbalingga, Jawa Tengah ( DINKES PGB PIRT NO. 213330301078619)  ini memiliki khasiat antara lain :
Mencegah masuk angin
Menghangatkan badan
Menghilangkan rasa kantuk
Menyembuhkan batuk
Mengencerkan dan mengeluarkan dahak
Memperbaiki kinerja lambung dan liver
Memperbaiki nafsu makan
Sebagai analgesik (penghilang rasa sakit)
Mengurangi nyeri menstruasi
Menyembuhkan luka pada saluran kemih
Melancarkan buang air kecil
Mengobati sakit pinggang
Mengobati bibir pecah-pecah

Cara penyajiannya :
Kocok dan tuangkan estrak jahe ke dalam secukupnya. Lebih nikmat jika ditambahkan susu. Seduh dengan air panas.

Saran :
Untuk pengobatan minum 2 X sehari
Simpan disuhu kamar. Agar lebih awet bisa disimpan di lemari pendingin.


Pemesanan : 
Sudar : 0823-2823-9634

Kembali ke alam....kembali sehat






Thursday, 25 August 2016

Anak Singkong

Saya ini anak singkong. Di besarkan dengan singkong dan tumbuh hingga remaja di tengah kebun singkong.
Pagi, saya makan nasi singkong (alias krekel alias inthil alias tiwul), ditambah lauk daun singkong. Jelang siang, gorengan singkong. Siang hari kembali ke menu pagi. Jelang sore, singkong bakar dan krupuk singkong. Makan malam ketemu lagi nasi dan lauk yang sama seperti pagi dan siang.
Mungkin kalau dijadikan acara TV bisa berjudul : Dari Singkong ke Singkong.
Hehehe

Jika sedang beruntung..sesekali singkong berubah menjadi Lemek.
Cara membuatnya gampang, ketela diparut, ambil segenggam, selipkan sesendok gula merah ditengahnya lalu bungkus dengan daun pisang. Kukus 20 menit. Siap disantap dengan lahap.

Setelah perut kenyang, saya pun  bermain di kebun singkong. Batang daunnya bisa dironce menjadi kalung lengkap dengan liontin, juga dibuat gelang. Bahkan 3 daun singkong juga bisa dibuat Wayang Golek.
Sementara batang pohon singkong yang dijemur kering bisa  menjadi kayu bakar yang sempurna untuk tungku tanah liat Emak.

Maka sempurnalah saya menjadi anak singkong.


Kini setelah dewasa dan perlahan tapi pasti mulai menua..saya tetaplah anak singkong.
Meski tak lagi tinggal di tengah kebun singkong, kecintaan saya pada tumbuhan asal Amerika Selatan  ini tak kunjung pudar.
Di Jakarta tak sulit menemukan singkong goreng. Mulai dari goreng singkong ala abang-abang di pinggir jalan hingga yang bersanding dengan keju di restaurant..tinggal pilih.
Dan satu makanan olahan singkong yang jadi juaranya menurut saya adalah Combro.
Dengan oncom dan cabe rawit didalamnya..Combro memberikan rasa gurih dan pedas .
Dan dari sekian Combro yang pernah saya makan...yang paling enak luar biasa ada tak jauh dari kantor saya.
Combronya berukuran mungil namun rasanya.....wow...
Renyah diluar...empuk di dalam. Pedas dan asinnya passs .
Ukurannya..tak bikin kenyang.
Teman-teman sekantor saya bilang Combro Candu. Karena bikin orang pingin nyomot lagi dan lagi.

Jadi kalau ke Pulo Gadung Jakarta Timur pagi-pagi, mampirlah ke abang combro favorit saya ini. Gerobak sederhananya selalu terparkir manis di perempatan TU Gas tepatnya di depan pintu masuk kawasan JIEP (kawasan industri). Inget yak pagi-pagi. Karena jelang siang udah ludes.

Yuk. .cussss


Wednesday, 10 August 2016

Mulut Besar

Pagi ini di kereta, tepat di depan saya ada dua  ibu-ibu. Satu diantaranya bicara menggelegar, tanpa putus, membahas soal harta yang ia punya dan soal sejumlah barang yang akan ia beli. Sementara ibu di sebelahnya hanya jadi pendengar, sembari sesekali menyahut dengan suara sangat lemah.

Hmmm..saya kagum dengan kemampuan Si Ibu Menggelegar. Ia bercerita nyaris tanpa koma. Mulai dari belanja kue hingga jutaan rupiah, beli baju seakan besok pabrik kain mau tutup..hingga ia membeli gelang seharga 2 juta lebih untuk cucunya yang baru bisa ngoceh. 
Selain itu ia bicara juga soal sewa mobil buat jalan- jalan ke Kebun Raya Bogor..hingga rupa-rupa makanan yang akan ia bawa. 

Kalau saya sih menikmati omongan besar ini. Saya bayangkan Si Menggelegar dikelilingi semua barang belanjaannya. Saya bayangkan kuenya. Lalu saya bayangkan gelang emas yang ia gambarkan detail hingga lekuk-lekuknya.

Tapi sebagian penumpang saya lihat sekali-kali melirik Si Menggelegar dengan tatap sebal tak terkira. Mungkin selain tergangu dengan cerocosannya, penumpang lain juga muak dengan isi ceritanya. 
Wkwkwkw.

Bagi saya...tidaklah pernah saya terganggu dengan cerita model mulut besar. Biarkan saja jika itu membuat si pemilik cerita bahagia. Tak perlu sinis..toh kita diminta membayar belanjaanya kan? 
Buat seseorang mungkin itu kebangaan dia..tak ada niat untuk pamer, tapi hanya berusaha menceritakan apa adanya yang ia miliki. 

Berpikirlah positif....maka indahlah duniamu.

Tuesday, 21 June 2016

Kontes Menyanyi

Saat menonton tv, saya heran melihat begitu banyaknya kontes menyanyi. Membuat saya berpikir..apa iya sukses instant, kaya materi dan terkenal hanya bisa dimiliki oleh orang yang bakat nyanyi doang?
Lalu bagaimana dengan orang yang tak bisa menyanyi?
Saya nyanyi di kamar mandipun cicak di dinding berjatuhan mati, bagaimana jika saya nyanyi di tv?

Sungguh..kontes menyanyi di televisi sangat memilukan hati saya. Menyadarkan betapa buruk kualitas suara saya.
Dan membuka mata saya (yang berbulu pendek) bahwa siapa bilang cantik dan pintar tidak bisa dalam satu paket? Jika ada yang berkata, biasanya orang cantik itu tidak berbakat atau sebaliknya.. berarti anda menghina Tuhan. Dosa!

Oh iya....satu lagi.. saya lihat format lomba nyanyi dimanapun sama. Ada yang nyanyi. Ada juri hahahihi. Lalu ada yang nangis saat tersingkir. Ada yang jual penderitaan untuk meraih simpati dan ada yang memutuskan urat malu yang penting masuk tv.
Bahkan ada lomba nyanyi yang mulai sore dan berakhir tengah malam. Tapi kadang saya bingung itu acara menyanyi atau acara melawak, karena antara menyanyi dan melawaknya lebih banyak lawakannya.

Dan menurut saya dari semua yang terlibat di acara itu penonton di studionya lah yang paling hebat. Bayangkan... mereka kuat nonton berjam-jam dan entah dibayar entah tidak. Kalaupun dibayar pasti besarnya hanya sepersekian persen artis yang nyanyi, komen dan ngelawak .


Kalau kita yang nonton di rumah sih saya yakin tak banyak yang kuat nonton selama itu non stop. Paling sesekali ditinggal mandi, ke warung, ke poskamling bahkan ditinggal tidur.
Lah klo penonton di studio kan harus hore-hore terus sepanjang waktu. Mana boleh mereka tidur.
Saya jadi bertanya-tanya..mungkin penontonnya pakai sistem shift persekian jam kah?
Entahlah.

Soal artis dan jurinya kenapa kuat bawa acara selama itu? Saya sih tidak kagum..kan mereka dibayar tinggi.
Hehehe.

Hidup penonton di studio!!! Kalian hebattt euy..

Oh ya soal juri...dikontes nyanyi apapun..baik yang mengaku murni ide sendiri atau kompetisi dengan format impor dari luar negeri. Saya lihat selalu ada satu juri yang dibikin seolah bersifat nyebelin (mengkritik pedas) ...ada juri yang selalu berantem satu sama lain dan ada juri yang kalem sebagai penengah.
Sah-sah saja lah ..karena untuk menghibur penonton konon formatnya harus begitu.
Tapi apa semua juri kontes menyanyi harus begitu?

Sayapun teringat tanggapan teman saya ketika saya ngoceh soal lomba-lomba nyanyi yang seolah seragam...teman saya dengan sengit mengomel.
" Ah lo...lo bisa ngomong kaya gitu karena lo sirik..tidak bisa nyanyi, tidak bisa jadi juri, tidak bisa jadi penonton studio..Ngaca lo! Sudah lah ..klo lo tidak suka...ya jangan ditonton. Matiin tipi lo..atau lo jual aja tipi gendut buluk lo itu. Nggak usah sok kritik-kritik. Lagian siapa lo?"

Sayapun nyengir. Dan saya rasa perkataan teman saya itu...ada benarnya.

Saya akan jual tipi...

Hahahaha

Thursday, 16 June 2016

Musik Gratis Dari PLN

Semula saya menggunakan listrik daya 900 watt. Tapi kok sering sekali anjlok.
Lalu saya berniat pindah ke 1300 watt.Ternyata (kala itu) menurut petugas tidak bisa lagi menggunakan sistem lama. Harus token. Baiklah...maka si meteran tagihan bulanan pun berganti menjadi meteran kekinian.
Tapi....Weladalah.... mengerikan sekali biaya listrik saya.
Dengan pemakaian sama, di 900 watt saya hanya membayar listrik di bawah Rp 300 ribu per bulan tapi sejak beralih ke 1300 watt..tagihan menjadi Rp1 juta. Wajar lah jika tagihan saya naik karena listrik 1300 konon non subsidi..tapi semahal itu kah?

Paling sebal jika tengah malam tiba-tiba meteran berbunyi minta diisi. Rasanya seperti merawat bayi yang kapan saja bisa menjerit menangis meminta susu ketika lapar..kita harus siap kapan saja "menyuapi" token agar Si Meteran diam.

Dan ketika Menteri Rizal Ramli protes soal ini..lahhhh..rasanya seperti mewakili suara hati saya.
Lalu munculah kebijakan masyarakat bebas memilih sistem token atau non token.
Aishhh..terlambat sudah.
Kini semua tetangga kontrakan saya sudah terlanjur beralih ke token.


Maka....Sekarang setiap hari kami menikmati konser gratis dari meteran kami yang "menyanyi" saling bersahutan..

PLN sungguh menghibur...memberi kami musik gratis setiap hari.
Keren lah...kereennnnnnn.

Tit....tit...tit....tit....begitu bunyinya...

Tit.... tit ....tit...emakkkkkkk..minta tokennyaaaaa.....


Dan sekarang sampah di rumah saya juga bertambah.... sampah struk token listrik.

Sunday, 22 May 2016

Wisuda Tanpa Foto

Karena teman memasang profil BBM gadis cantik diwisuda, saya jadi teringat masa saya menutup masa kuliah dengan wisuda yang memprihatinkan.

Kala itu saya tak punya uang untuk dandan menor ke salon. Teman kost, dengan baik hati dan suka rela mendandani saya ala kadarnya. Yang penting bedak dan lipstik. Oles..tempel tepak tepuk..maka jadilah.

Karena konde juga tak mampu saya sewa, maka rambut saya nan pendek dan tipis hanya diikat kebelakang lalu di tekuk, macam pantat ayam baru bertelor.

Bagaimana dengan baju?
Kebaya dan kain saya pinjam dari teman asal Palembang. Agak kedodoran, tapi saya anggap itu bagian dari resiko meminjam.
Sepatu..? Juga pinjam ke teman kost yang lain.
Dengan hak tinggi, terasa gempa setiap kali melangkah.

Setelah siap, maka bermodal kamera tua ( kala itu kamera masih menggunakan roll film) kami foto-foto lah dengan pose-pose centil-centil mengenaskan. Berusaha mendongkrak percaya diri meski berasa rendah diri setengah mati.

Bagaimana cara menuju tempat wisuda di kampus kami tercinta?
Saya nebeng teman yang menyewa angkot. Seperti rombongan emak-emak mau kondangan.
Untunglah wisuda hanya di gedung kampus..bukan di convention hall nan jauh dan megah. Karena jika di JHCC atau Balai Sudirman misalnya...wassalam.

Eng ing eng. Begitu tiba di gerbang kampus, saya berjalan tertatih-tatih.Rasanya seperti mau terjerembab.

Alamak banyak sekali tukang foto.
Dan tak satupun dari mereka yang sudi memotret saya. Padahal teman-teman saya langsung jadi incaran blitz kamera.
Mungkin tukang foto tak yakin saya punya uang untuk membeli hasil jepretan mereka. Atau dandanan saya tidak ada setelan mau wisuda dan dikira hanya salah satu anggota keluarga yang mengantar.

Bapak Ibu dan saudara-saudara (yang kebetulan datang dari kampung ) ternyata sudah pula menunggu. Dari tatapan ...terlihat mereka begitu nelangsa dengan tampilan saya.
Sayapun tersenyum malu-malu prihatin.

Tapi dalam hati saya bangga, setidaknya saya tidak menyia-nyiakan hasil keringat kedua orang tua dan bantuan saudara-saudara. Saya bisa selesai kuliah setahun lebih cepat. Alasan utamanya bukan karena saya pintar..tapi saya memaksakan diri agar orang tua saya tak lama-lama pusing dengan urusan biaya.

Maka...dengan dandanan ala kadarnya ini saya melalui prosesi wisuda yang hikmat dan terasa mengharukan. Terbayang kertas-kertas ujian saya yang buram. Terbanyang perjuangan membuat skripsi yang dramatis. Semua berputar di kepala saya dengan gegap gempita.

Lalu....karena dana wisuda yang murah tidak menyediakan makan siang, maka begitu wisuda dan proses foto resmi wisuda selesai, kami berombongan menuju rumah saudara di Depok. Kami makan Indomie rebus ramai-ramai.
Nikmatnya ....



Beberapa minggu kemudian, saya datang lagi ke kampus dengan niatan mengambil hasil foto.
Tapi...malang nian nasib ini. Ternyata hasil fotonya tidak ada.
Ya Tuhan... sedihnya.
Bukan soal tak melihat hasil fotonya, tapi uang yang sudah saya bayarkan untuk foto itu adalah hasil kerja keras Bapak menjual bibit ikan ke pasar.

Rasanya sungguh tak rela.

Dan pihak penyelenggara hanya bisa bilang maaf...Foto tak jadi..uang tak kembali.


Demikian cerita wisuda saya.Mungkin tak bisa jadi inspirasi...tapi tak usah pula ditangisi.

Betul kata teman saya : Hidup lo berat

Hahahaha...