Monday, 19 October 2020
Cara Mudah Jadi Chef
Wednesday, 7 October 2020
Tangan Panas
Meski pernah bercita-cita menjadi insinyur pertanian, tapi hingga menua saya tidak tergerak untuk menanam tumbuhan ini itu. Padahal sejak pandemi Covid-19, di medsos berseliweran orang berfoto dengan tanaman bunga dan sayur hasil berkebun sendiri. Cantik sekali. Sayurnya cantik, yang nanam juga cantik dan ganteng. Segerrr liatnya.
Hingga kemudian saya menonton Channel Liziqi di Youtube. Wah...kehidupan yang sangat indah. Dia tinggal di pedesaan dengan segala rupa tanaman sayur buah dan rempah yang Mbak Liziqi tanam sendiri. Sayapun berkhayal hidup seperti Mba Liziqi.
Tapi keindahan khayalan memang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Tanah sejengkalpun saya tak punya. Halaman rumah kontrakan depan belakang sudah disemen semua. Mau nanam di mana? Teman saya memberi saran..tanam aja di ketek lo. Ihhhh..asemmmmm.
Lalu teman saya yang mulutnya tak pedas, memberi saran agar saya membeli media tanam. Kemasan segede bantal hanya Rp10 ribu.
Baiklah saya melipir ke tukang tanaman. Berasa bangga bisa beli media kehidupan bagi sayur mayur saya di masa depan.
Segera saya mengumpulkan apa saja yang bisa jadi pot bunga. Benih beli di warung 2 ribu perkemasan. Ada 3 jenis benih, bayam,tomat dan pakcoy.
Berbekal kemasan mie instant cup, dan bekas es krim saya tabur lah benih-benih kehidupan nan mengkilat dan imut.
Tiga hari kemudian..emejing rasanya melihat pakcoy tumbuh dengan cantik..bergerombol hijau dengan daun mungil.
Wahhh saya langsung sombong..pamer di grup whats up, japri teman, lalu upload di story instagram. Saya sombong tingkat dewa.
Hari ke lima muncul menyusul tunas bayam...wahhh..jumawa saya dan nafsu ingin pamer melanda..meronta.. .
Dan hari ke 10...munculah tunas tomat. Waahhhhhh..keriyaan saya membuncah tumpah.
Setiap saya akan berangkat bekerja..tunas kehidupan itu saya pamiti, saya ajak bicara dengan harapan mereka cepat tumbuh. Bayangan panen bayam, pakcoy dan tomat menari-nari di kepala saya yang sok sudah jadi ahli pertanian.
Tapiiiii..memasuki minggu ketiga...tunas berhenti tumbuh. Teman saya ketawa sampai seperti gila. "Lo nanam bayam,tomat dan pakcoy kok dibonsai..Yang dibonsai itu pohon beringin kek...Makan tuh sayur bayem dengan daun selebar 3 mili...yelip di gigi lo juga gak keliatan"
Teman saya terus menganalisa dengan cerdasnya. Menurut dia, tangan saya panas. Semua tanaman akan mati di tangan saya. Saya ini pembunuh benih-benih kehidupan. Saya ini anak petani yang gak becus bertani.
Dan teman saya benar.
Saturday, 29 August 2020
Kereta "Hantu"
Sebagai pengguna KRL setiap hari, cerita adanya kereta hantu sudah sering saya dengar. Apalagi saya dulu sering naik kereta terakhir. Terlepas dari benar atau hanya kabar kabur, tapi saya pikir tak ada salahnya waspada. Seorang teman memberi tahu,ciri-ciri kereta hantu adalah selama perjalanan, terasa hening. Tak ada penumpang yang berbicara, semua wajah penumpang juga akan kaku dan dingin atau bahkan terlihat ngantuk dan tertidur .
Baiklah... maka saat naik kereta malam saya selalu waspada. Begitu kereta terlihat hening, saya akan lebih banyak berdoa. Selama masih terdengar suara masinis atau suara penumpang berbincang saya lega. Tapi memang kereta malam itu tak terlalu jauh dengan ciri-ciri kereta hantu, pasti banyak orang yang mengantuk, wong hampir tengah malam tentu orang sudah lelah bekerja.
Eit, itu dulu. Sebelum ada Corona. Sekarang setelah Corona, siang dan malam sama saja ..KRL mirip kereta hantu. Penumpang dilarang berbincang baik berbicara langsung maupun melalui telepon. Wajahnya pun tentu kaku, karena tertutup masker. KRL menjadi hening, hanya ada suara iklan dan masinis yang tak bosan mengingatkan agar kami tidak berbicara dan jaga jarak.
Tiba-tiba saya rindu kereta yang dulu,yang penuh gelak tawa, canda ria, saling ejek,bahkan saling memaki karena kaki terinjak,terdorong dan terjepit. Bahkan juga terkadang ada "adegan" saling pukul dalam perkelahian yang sengit.
Rasanya, dulu, KRL begitu banyak warna, begitu banyak cerita.
Jadi apa bedanya ya KRL masa Corona dan KRL Hantu?
Pengalaman Pertama Makan Burger
Saat itu saya kelas 4 SD, sekitar tahun 1988, saya untuk pertama kalinya datang ke Jakarta. Rasanya, bingung. Terasa Jakarta begitu wah dan asing.
Malam hari, saya diajak Bu Lik (tante) ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Sebagai anak yang pengalaman tertinggi hanya ikut Bapak ke pasar ikan, saya sungguh canggung. Bingung bagaimana harus bersikap, bingung saat naik eskalator. Rasanya pas turun eskalator badan seperti terdorong mau nyusruk.
Lebih bingung lagi saat ke Food Court. Bu Lik dan Pak Lik mengajak saya ke sebuah gerai makanan cepat saji. Begitu disodori menu makanan, dan diminta memilih, kepala saya langsung pening. Nama-nama makanan yang terasa asing. Sebagai anak yang pengalaman makan tertinggi adalah bubur ganyong dan rebusan angkrik, nama burger dan kentang goreng tentu tak terbayang rasanya. Harganya pun membuat saya merinding, karena uang seharga satu porsi burger pun belum pernah saya miliki.
Akhirnya saya memilih menu yang sama dengan Bu Lik dan Pak Lik. Mungkin karena Bu Lik memahami keterasingan saya, diputuskan kami memesan untuk dibawa pulang.
Sesampainya di rumah, burger dan aroma kentang goreng menggoda perut saya yang lapar.
Tapi begitu Burger dibuka, saya bingung, ini bagaimana makannya? Apakah perlu sendok dan garpu, apakah rotinya yang berada di lapisan paling atas harus dimakan dahulu,baru kemudian daging dan sayurnya? Apakah perlu di potong kecil-kecil dengan pisau?
Melihat wajah saya yang bingung, Pak Lik saya lalu memberi saya contoh : Begini Gi,pegang dengan kedua tangan lalu gigit.
Ohhhhhh..begitu. Lalu saya pun mencoba burger untuk pertama kalinya. Rasanya aneh. Sayuran mentah,daging dan roti yang digigit bersamaan, waduhhhhhh, kalau boleh saya ingin menukar saja dengan tumis kangkung,ikan asin dan sambel terasi dengan nasi hangat.
Hahahahah
Friday, 31 July 2020
Jambret Ganteng
Punya pengalaman kena jambret? Saya pernah, April 2020.Kejadiannya tak jauh dari gerbang kantor tempat saya bekerja,Pulo Gadung, Jakarta Timur. Saat itu, Minggu, saya pulang sekitar pukul 15.30 WIB ,berjalan kaki ke arah jalan raya dengan seorang teman. Kami sedang asyik ngobrol ketika tiba-tiba seorang pemuda datang dari arah belakang lalu merampas ponsel yang saya pegang.
Dan dua detik saya terpakuuuuuu, bagaikan melihat gebetan. Kemudian saya hanya bisa memandangi dua pelaku berboncengan kabur dengan sepeda motor.
Pelaku memilih waktu yang sangat tepat. Saat itu jalanan sepi. Taksi dan ojek online yang biasanya mangkal pun tak ada. Tapi sasaran pelaku tak tepat. Ponsel yang dia rampas itu ponsel rusak. Sudah tidak bisa menerima panggilan masuk dan juga layar telah retak penyok di sana sini. Saya jamin setelah melihat kondisi ponselnya,pelaku akan sedih. Hahahahah.
Jambretnya itu nekat juga loh. Ia tidak mengenakan pelindung wajah apapun. Tak berhelm, bertopi apalagi bermasker. Anaknya masih muda, tampang anak kuliahan, bersih, rapi, ganteng bahkan mirip artis sinetron, mengenakan tas selempang kecil dan celana pendek dengan jaket yang keren. Kasihan ya emak anak ini,punya anak ganteng tapi hatinya tidak ganteng.
Dan dari rekaman CCTV kantor, pas merampas ponselnya tak terlihat terhalang pohon, hanya terlihat dua pelaku datang berboncengan motor dari arah belakang kami, lalu seorang pelaku turun, diam-diam mengikuti kami dari belakang ..selanjutnya ... terlihat ia berlari ke arah depan kami dan langsung tancap gas dengan motor merah tanpa plat.
Lalu bagaimana rasanya dijambret? Kaget, sedih dan takut. Bukan nilai barangnya, tapi isi di dalamnya. Ada foto-foto anak-anak saya. Tapi pada akhirnya harus ikhlas ya. Agar tidak jadi beban.Dan kalau dipikir-pikir, tak hanya saya kasihan dengan diri saya sendiri, tapi saya juga kasihan pada jambretnya, karena itu ponsel dijual Rp100 ribu pun belum tentu laku.
Pesan saya pada itu jambret.... coba kalau mau menjambret liat-liat dulu korbannnya baik-baik, kira-kira mampu beli ponsel mahal apa enggak. Kecuali mungkin pas menjambret saya situ sedang latihan ya..buat nambah jam terbang...Ya kan?
Wednesday, 15 April 2020
Belanja Sayuran Di Tulipa Montana Saja
Lalu bagaimana saat kita harus berbelanja kebutuhan sehari-hari. Semua sekarang bisa dibeli secara online. Termasuk sayur mayur.
Dimana belinya ya? Sekarang kan banyak toko online sayuran, toko mana yang bisa jamin sayuran yang saya teruma berkualitas terbaik?
Tenang .. klik Tokopedia aja lalu klik https://www.tokopedia.com/tulipamontana.
Toko ini awalnya memang menjual produk kue yang enak banget. Lalu seiring dengan pandemi Covid-19 dan anjuran untuk mengkonsumsi sayur dan rempah agar imunitas meningkat, pihak toko berinisiatif untuk menambah produk sayur mayur dan bumbu dapur.
Jadi buat yang mau masak di rumah dengan tanpa khawatir, yuk belanja aja di Tulipa Montana. Kualitas sayurnya dijamin segar, dengan harga yang terjangkau.
Jadi anda di rumah saja..biar Tulipa Montana yang antar sayurannya.
Wednesday, 25 March 2020
Fagetti Bikin Marmer Selalu Di Hati
![]() |
| Sumber Foto : fagetti.com |
Fagetti (PT Fajar Gelora Inti) adalah perusahaan yang memproduksi batu alam grade premium dengan marmer sebagai produk utamanya.
Ini sih keren banget ya. Rumah atau bangunan bisa unik dan personal banget!!!

