Ibu bahagia akan menghasilkan anak- anak yang bahagia.
Saya sering mendengar kata-kata itu, dan awalnya saya abaikan.
Bagaimana saya mau bahagia jika tiap hari berpikir keras menutup tagihan ini itu.. pengeluaran ini itu, pekerjaan ini itu, masalah ini itu.
Tapi kemudian saya tersadar...tagihan tidak boleh memangkas total kebagiaan saya dan anak- anak.
Saya harus mengkotak-kotakan pikiran dan hati saya. Satu kotak untuk tagihan, satu kotak untuk pekerjaan kantor, satu kotak untuk anak- anak, satu kotak untuk urusan pekerjaan rumah, Dan satu kotak untuk ...kebahagian saya pribadi.
Dan kali ini saya akan bahas kebahagiaan pribadi saja, karena saya pikir kotak ini adalah dasar dari semua kotak tadi.
Saya harus bahagia agar semua baik- baik saja..agar dua anak saya happy - happy saja.
Berharap orang lain membahagiakan diri saya? Wow. Emang saya siapa?
Saya sudah berhenti memikirkan cerita dongeng tentang hari saat pangeran datang, dengan kereta kencana, menikahi saya lalu bahagia selamanya...Mana ada bahagia selamanya..
Mustahil. Ini dongeng yang menurut saya menyesatkan dan tidak akan pernah saya bacakan untuk anak- anak saya.
Jadi kebagiaan itu harus saya ciptakan sendiri.
Pijakan saya adalah kalimat : bahagia itu sederhana.
Jadi mulai dari hal kecil saja.
Contohnya : Sebelum saya menyuruh anak-anak makan dan mandi..saya harus sudah makan dan mandi. Bagaimana saya akan sabar menghadapi si bungsu yang susah makan kalau saat menemani atau menyuapinya, saya dalam keadaan lapar?
Pernah dengar kalimat : kalau lapar galak? Ya itulah saya.
Jadi bagi saya..mendahulukan diri sendiri makan sebelum anak saya makan adalah bukan tindakan egois..tapi sebagai langkah agar saya bisa bersabar menghadapi mereka.
Bagaimana saya bisa manis menghadapi anak-anak bila saya dalam keadaan gerah keringatan dan asem kecut ?
Jadi sebelum mereka bangun, mandi dan sarapan, saya pastikan diri saya sudah dalam keadaan bersih...wangiiiii..dan kenyang.
Jadi saat dua anak saya bangun, saya sudah dalam keadaan siap tempur dan happy menghadapi apapun polah mereka.
Tentu pendapat saya ini..sangat pribadi. Jika cocok silahkan dicoba, dibaca saja juga tidak apa-apa.
Jadi ..prinsipnya.. saya nyamankan diri agar saya bisa memberi kenyamanan untuk anak- anak saya.
Berkorban seperti nyala lilin? Menerangi orang lain lalu mati?
Tidak usah repot-repot. Biar lilin saja yang repot.
Iya kan?
No comments:
Post a Comment