Sunday, 25 October 2020

Temanku, Pelinduku

"Pandemi Covid-19 begini kamu masih berani naik angkutan umum dan bekerja full 5 hari dalam sepekan? ". Teman saya memasang muka kaget seperti melihat Dinosaurus beranak Gajah.  Saya pun ngakak. 

Memang seperti itulah. Saya menggunakan kereta dan ojek untuk menuju kantor. Tentunya dengan mematuhi aturan ya..pakai masker, jaga jarak (sebisa mungkin) dan cuci tangan.

Perusahaan tempat saya bekerja tidak memungkinkan untuk work from home.

Jalani saja lah ya, jangan mengeluh. Malah kudu bersyukur masih bisa bekerja.


"Emang kamu sakti ya? Kamu kebal Corona? "

Lahhhhhh..mana bisa. Digigit semut aja saya masih teriak seperti digigit buaya, bagaimana mau sakti?

Selain patuhi protokol kesehatan, yang utama menurut saya asupan makanan dan minuman sih. Kita harus pastikan apa yang masuk ke tubuh kita itu mendukung sistem imunitas ya.  Lawan dari dalam, karena yang kita lawan kan tidak kelihatan..virus.


Teman saya pun terlihat cemas. Meski dia mulutnya setajam parang tapi hatinya sebening batu es di kulkas . Ia pun kemudian memberondong saya dengan segala macam nasehat. Nasehat baik agar saya bisa aman dari Covid-19. Dan kata-kata pamungkas dia diakhir nasehat adalah...."Apa yang  bisa aku bantu?" So sweet. Ini yang bikin hatiku meleleh seperti lilin yang mati terbakar. 


Teman saya ini ahli ilmu perherbalan loh. Kalau dia tiba-tiba menghilang coba cari di bawah pohon jahe, atau di bawah pohon kunyit...bisanya dia nongkrong di situ. wkwkwkwkwk. Pokoknya dia sehat sentosa berkat herbal. Tapi karena dia tahu saya itu tak pandai bertanam rempah, tak cakap merebus dan meracik herbal, dia pun menyarankan saya minum Herbadrink. Semua dia suruh saya coba  mulai dari Herbadrink Sari Jahe, Wedang Uwuh, Temulawak, Kunyit Asam, Kunyit Asam Sirih Madu. 

Pokoknya saya tidak perlu repot, hanya tinggal seduh. Tapi teman saya masih bertanya begini " Bisa masak air kan, tinggal seduh air panas bisa kan? Gak usah banyak protes, minum!" Wkwkwkwkkw 

Siappppppp 



Berdasarkan petunjuk teman saya itulah, saya makin percaya diri menghadapi pandemi. Pertama yang saya coba rasa Jahe. Si Jahe ini saya juluki Si  Kuat Antiinflamasi yang kaya nutrisi. Herbadrink Jahe saya minum pagi sore ya, sebelum berangkat dan setelah pulang kerja.  Kalau malam jelang tidur  saya minum Herbadrink Wedang Uwuh. Kalau sedang mens minumnya yang Kunyit Asam atau Kunyit Asam Sirih Madu. Kalau badan terasa penatttt banget karena banyak begadang,  saya cocoknya minum Herbadrink Temulawak.

Hasilnya..sejak awal pandemi delapan bulan lalu hingga kini saya tidak pernah sakit. Saya bisa bekerja tanpa gangguan kesehatan. Dan apa yang saya minum juga  untuk melindungi dua anak dan suami saya loh. Karena dari kami berempat saya lah yang paling banyak beraktivitas di luar sehingga paling berpotensi membawa kuman dan terinveksi virus. Apa jadinya kalau saya terpapar dan kemudian menularkan. Intinya..saya sehat, keluarga saya juga sehat. 


Petunjuk dari teman saya soal Herbadrink  ini benar-benar luar biasa. Dia melindungi saya dan keluarga  dengan caranya.


Sudah dulu ya..saya mau seduh Herbadrink Jahe dulu.... Oh ya,yang mau ketemu teman saya...coba cari di bawah pohon Temulawak ya..siapa tahu dia lagi tiarap di situ. Wkwkwkwkwk












Monday, 19 October 2020

Cara Mudah Jadi Chef


Ketika saya bilang tak bisa masak, teman saya mencibir dengan luar biasa. "Emang kamu siapa, keturunan konglomerat? Istri konglomerat? Kalau mau makan ngundang Chef ke rumah untuk masakin? Atau setiap mau makan tinggal delivery order?  Belagu kamu"
Lhaaaaa...saya kan jadi tak enak hati. Padahal saya memang tak bisa masak ala-ala chef. Saya masak hanya bisa tumis menumis dan goreng menggoreng. 
Tapi anehnya ketika saya kemudian bilang : "Oke... saya bisa masak ",  teman saya juga tak percaya. " Sombong banget. Bisa masak apa kamu? Bikin bakwan saja kamu gagal".
Lhaaaaaa.. salah lagi..salah lagi.

Demi membuktikan pada diri sendiri kalau semua orang itu bisa masak, saya pun bertekad untuk belajar memasak. Belajar dari siapa? Kursus masak dengan pengajar chef? nanti teman saya akan bilang.... "Belagu kamu, kaya istri pengusaha aja". 
Hahahha... saya belajar dari Aplikasi Memasak Yummy  saja kok. Tidak repot hanya cukup download di playstore atau appstore  (https://yummy.onelink.me/Fhn6/YummyBlogComp)

Begitu membuka aplikasi,  saya langsung disapa sebagai Chef..hehehe.. senangnya. Berasa sejajar sama Chef Renata..wkwkwkwkwk.

Di Yummy Ada begitu banyak rekomendasi masakan, mulai dari yang sederhana sampai yang jauh dari sederhana.  Saya praktekan mulai dari yang sederhana dulu, seperti aneka telur dadar, tahu crispy, dan aneka makanan berbahan dasar mie.

Kenapa saya suka aplikasi Yummy?  Karena disitu ada petunjuk yang sangat jelas, perkiraan waktu yang dibutuhkan saat memasak, dana yang dibutukan, porsi untuk berapa orang,  hingga kehalalan masakan ( ada keterangan tanpa babi atau tidak). Jadi sangat menolong bagi pemula, atau bagi orang yang terlambat belajar masak seperti saya. Terlambat banget karena setelah 41 tahun saya baru sadar kalau kemampuan memasak saya masih biasa-biasa saja. Wkwkwkwk.

Oh ya, teman yang mencela ketidakmampuan memasak saya, jago masak loh. Dia emang seperti lahir untuk menjadi ahli dapur. Sejak kecil digembleng ibunya memasak . Saya ingat 20 tahun lalu saat kami masih kuliah, ia menunjukan pada saya buku resep masakan milik neneknya, tulisan tangan, dan diwariskan turun-temurun. Ada resep sambal hingga masakan rumit macam rawon. Dulu saya iri dengan buku resep teman saya itu karena saya tidak boleh menyonteknya. Menurut teman saya itu rahasia keluarga yang menjadikan garis keturunan keluarganya unggul dan dijamin disayang suami dan anak (karena jago masak). Wow.

Tapi sekarang saya rasa, saya bisa menandingi buku resep masakan sakti milik teman saya itu dengan aplikasi Yummy . Iya kan? Heheheh. Eh iya..di aplikasi Yummy bisa juga berbagi resep masakan, dan nantinya bisa dapat poin yang bisa di redeem atau diuangkan. Wahhhh bisa nambah penghasilan kan. Ini sih poin yang bikin saya nambah semangat belajar dan bercita-cita kelak bisa share juga resep masakan, sehingga bisa menambah penghasilan. Keren banget yak ini aplikasi Yummy.





Wednesday, 7 October 2020

Tangan Panas

Meski pernah bercita-cita menjadi insinyur pertanian, tapi hingga menua saya tidak tergerak untuk menanam tumbuhan ini itu. Padahal sejak pandemi Covid-19, di medsos berseliweran orang berfoto dengan tanaman bunga dan sayur hasil berkebun sendiri. Cantik sekali. Sayurnya cantik, yang nanam juga cantik dan ganteng. Segerrr liatnya.



Hingga kemudian saya menonton Channel Liziqi di Youtube. Wah...kehidupan yang sangat indah. Dia tinggal di pedesaan dengan segala rupa tanaman sayur buah dan rempah yang Mbak Liziqi tanam sendiri. Sayapun berkhayal  hidup seperti Mba Liziqi. 


Tapi keindahan khayalan memang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Tanah sejengkalpun saya tak punya. Halaman rumah kontrakan depan belakang sudah disemen semua. Mau nanam di mana? Teman saya memberi saran..tanam aja di ketek lo. Ihhhh..asemmmmm.



Lalu teman saya yang mulutnya tak pedas, memberi saran agar saya membeli media tanam. Kemasan segede bantal hanya Rp10 ribu.

Baiklah saya melipir ke tukang tanaman. Berasa bangga bisa beli media kehidupan bagi sayur mayur saya di masa depan.


Segera saya mengumpulkan apa saja yang bisa jadi pot bunga. Benih beli di warung 2 ribu perkemasan. Ada 3 jenis benih, bayam,tomat dan pakcoy.

Berbekal kemasan mie instant cup, dan bekas es krim saya tabur lah benih-benih kehidupan nan mengkilat dan imut.


Tiga  hari kemudian..emejing rasanya melihat pakcoy tumbuh dengan cantik..bergerombol hijau dengan daun mungil.

Wahhh saya langsung sombong..pamer di grup whats up, japri teman, lalu upload di story instagram. Saya sombong tingkat dewa. 


Hari ke lima muncul menyusul tunas bayam...wahhh..jumawa saya dan nafsu ingin pamer melanda..meronta.. .

Dan hari ke 10...munculah tunas tomat. Waahhhhhh..keriyaan saya membuncah tumpah.

Setiap saya akan berangkat  bekerja..tunas kehidupan itu saya pamiti, saya ajak bicara dengan harapan mereka cepat tumbuh. Bayangan panen bayam, pakcoy dan tomat menari-nari di kepala saya yang sok sudah jadi ahli pertanian.


Tapiiiii..memasuki minggu ketiga...tunas berhenti tumbuh. Teman saya ketawa sampai seperti gila. "Lo nanam bayam,tomat dan pakcoy kok dibonsai..Yang dibonsai itu pohon beringin kek...Makan tuh sayur bayem dengan daun selebar 3 mili...yelip di gigi lo juga gak keliatan"



Teman saya terus menganalisa dengan cerdasnya. Menurut dia, tangan saya panas. Semua tanaman akan mati di tangan saya. Saya ini pembunuh benih-benih kehidupan. Saya ini anak petani yang gak becus bertani. 

Dan teman saya  benar.


Saturday, 29 August 2020

Kereta "Hantu"


Sebagai pengguna KRL setiap hari, cerita adanya kereta hantu sudah sering saya dengar. Apalagi saya dulu sering naik kereta terakhir. Terlepas dari benar atau hanya kabar kabur, tapi saya pikir tak ada  salahnya waspada. Seorang teman memberi tahu,ciri-ciri kereta hantu adalah selama perjalanan, terasa hening. Tak ada penumpang yang berbicara, semua wajah penumpang juga akan kaku dan dingin atau bahkan terlihat ngantuk dan tertidur .

Baiklah... maka saat naik kereta malam saya selalu waspada. Begitu kereta terlihat hening, saya akan lebih banyak berdoa. Selama masih terdengar suara masinis atau suara penumpang berbincang saya lega. Tapi memang kereta malam itu tak terlalu jauh dengan ciri-ciri kereta hantu, pasti banyak orang yang mengantuk, wong hampir tengah malam tentu orang sudah lelah bekerja.



Eit, itu dulu. Sebelum ada Corona. Sekarang setelah Corona, siang dan malam sama saja ..KRL mirip kereta hantu. Penumpang dilarang berbincang baik berbicara langsung maupun melalui telepon. Wajahnya pun tentu kaku, karena tertutup masker. KRL menjadi hening, hanya ada suara iklan dan masinis yang tak bosan mengingatkan agar kami tidak berbicara dan jaga jarak. 


Tiba-tiba saya rindu kereta yang dulu,yang penuh gelak tawa, canda ria, saling ejek,bahkan saling memaki karena kaki terinjak,terdorong dan terjepit. Bahkan juga terkadang ada "adegan" saling pukul dalam perkelahian yang sengit.


Rasanya,  dulu, KRL begitu banyak warna, begitu banyak cerita.


Jadi apa bedanya ya KRL masa Corona dan KRL Hantu?

Pengalaman Pertama Makan Burger

Saat itu saya kelas 4 SD, sekitar tahun 1988, saya untuk pertama kalinya datang ke Jakarta. Rasanya, bingung. Terasa Jakarta begitu wah dan asing. 

Malam hari, saya diajak Bu Lik (tante) ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Sebagai anak yang pengalaman tertinggi hanya ikut Bapak ke pasar ikan, saya sungguh canggung. Bingung bagaimana harus bersikap, bingung saat naik eskalator. Rasanya pas turun eskalator badan seperti terdorong mau nyusruk. 

Lebih bingung lagi saat ke Food Court. Bu Lik dan Pak Lik mengajak saya ke sebuah gerai makanan cepat saji. Begitu disodori menu makanan, dan diminta memilih, kepala saya langsung pening. Nama-nama makanan yang terasa asing. Sebagai anak yang pengalaman makan tertinggi adalah bubur ganyong dan rebusan angkrik, nama burger dan kentang goreng tentu tak terbayang rasanya. Harganya pun membuat saya merinding, karena uang seharga satu porsi  burger pun belum pernah saya miliki.

Akhirnya saya memilih menu yang sama dengan Bu Lik dan Pak Lik. Mungkin karena Bu Lik memahami keterasingan saya, diputuskan kami memesan untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, burger dan aroma kentang goreng menggoda perut saya yang lapar.

Tapi begitu Burger dibuka, saya bingung, ini bagaimana makannya? Apakah perlu sendok dan garpu, apakah rotinya yang berada di lapisan paling atas harus dimakan dahulu,baru kemudian daging dan sayurnya? Apakah perlu di potong kecil-kecil dengan pisau?

Melihat wajah saya yang bingung, Pak Lik saya lalu memberi saya contoh : Begini Gi,pegang dengan kedua tangan  lalu gigit. 

Ohhhhhh..begitu. Lalu saya pun mencoba burger untuk pertama kalinya. Rasanya aneh. Sayuran mentah,daging dan roti yang digigit bersamaan, waduhhhhhh, kalau boleh saya ingin menukar saja dengan tumis kangkung,ikan asin dan sambel terasi dengan nasi hangat. 

Hahahahah

Friday, 31 July 2020

Jambret Ganteng

Punya pengalaman kena jambret? Saya pernah, April 2020. 
Kejadiannya tak jauh dari gerbang kantor tempat saya bekerja,Pulo Gadung, Jakarta Timur. Saat itu, Minggu, saya pulang sekitar pukul 15.30 WIB ,berjalan kaki ke arah jalan raya dengan seorang teman. Kami sedang asyik ngobrol ketika tiba-tiba seorang pemuda datang dari arah belakang  lalu merampas ponsel yang saya pegang.
 
Dan dua detik saya terpakuuuuuu, bagaikan melihat gebetan. Kemudian saya hanya bisa memandangi dua pelaku berboncengan kabur dengan sepeda motor.
 
Pelaku memilih waktu yang sangat tepat. Saat itu jalanan sepi. Taksi dan ojek online yang biasanya mangkal pun tak ada. Tapi sasaran pelaku tak tepat. Ponsel yang dia rampas itu ponsel rusak. Sudah tidak bisa menerima panggilan masuk dan juga layar telah retak penyok di sana sini. Saya jamin setelah melihat kondisi ponselnya,pelaku akan sedih. Hahahahah. 
 
Jambretnya itu nekat juga loh. Ia tidak mengenakan pelindung wajah apapun. Tak berhelm, bertopi apalagi bermasker. Anaknya masih muda, tampang anak kuliahan, bersih, rapi, ganteng bahkan mirip artis sinetron, mengenakan tas selempang kecil dan celana pendek dengan jaket yang keren. Kasihan ya emak anak ini,punya anak ganteng tapi hatinya tidak ganteng.
 
Dan dari rekaman CCTV kantor, pas merampas ponselnya tak terlihat terhalang pohon, hanya terlihat dua pelaku datang berboncengan motor dari arah belakang kami, lalu seorang pelaku turun, diam-diam mengikuti kami dari belakang ..selanjutnya ... terlihat ia berlari ke arah depan kami dan langsung tancap gas dengan motor merah tanpa plat.
 
Lalu bagaimana rasanya dijambret? Kaget, sedih dan takut. Bukan nilai barangnya, tapi isi di dalamnya. Ada foto-foto anak-anak saya. Tapi pada akhirnya harus ikhlas ya. Agar tidak jadi beban. 

Dan kalau dipikir-pikir, tak hanya saya kasihan dengan diri saya sendiri, tapi saya juga kasihan pada jambretnya, karena itu ponsel dijual Rp100 ribu pun belum tentu laku.
 
Pesan saya pada itu jambret.... coba kalau mau menjambret liat-liat dulu korbannnya baik-baik, kira-kira mampu beli ponsel mahal apa enggak. Kecuali mungkin pas menjambret saya situ sedang latihan ya..buat nambah jam terbang...
Ya kan? 

Wednesday, 15 April 2020

Belanja Sayuran Di Tulipa Montana Saja

Saat ini, semua orang diminta tinggal di rumah. Demi kebaikan bersama, kita patuh yuk.

Lalu bagaimana saat kita  harus berbelanja kebutuhan sehari-hari. Semua sekarang bisa dibeli secara online. Termasuk sayur mayur.

Dimana belinya ya? Sekarang kan banyak toko online sayuran, toko mana yang bisa jamin sayuran yang saya teruma berkualitas terbaik?

Tenang .. klik Tokopedia aja lalu klik  https://www.tokopedia.com/tulipamontana.

Toko ini awalnya memang menjual produk kue yang enak banget. Lalu seiring dengan pandemi Covid-19 dan anjuran untuk mengkonsumsi sayur dan rempah agar imunitas meningkat, pihak toko berinisiatif untuk menambah produk sayur mayur dan bumbu dapur.

Jadi buat yang mau masak di rumah dengan tanpa khawatir, yuk belanja aja di Tulipa Montana. Kualitas sayurnya dijamin segar, dengan harga yang terjangkau.

Jadi anda di rumah saja..biar Tulipa Montana yang antar sayurannya.