Wednesday, 3 December 2014

Doa Seorang Anak Kuter


"Bu..kapan Keni ke Legoland ?  Teman-teman Keni sudah semua.."
Saya menjawab dengan hati laksana teriris sembilu, sedih mendayu-dayu.
"Sabar..Keni doakan saja Ibu ada rejeki banyak, atau kita dapat hadiah menang undian. Rejeki kan bisa datang dari mana saja Ken"
"Kalau mobil..kapan kita punya Bu...apa nanti kita dapat hadiah mobil juga. Biar kita tidak kehujanan lagi"
Jleb..jleb..rasanya seperti ada yang menusuk ulu hati. Rasanya saya ingin menangis tersedu-sedu.
"Ya..Keni doakan saja, pokoknya kita usaha dan berdoa, meminta pada Alloh. Pasti Alloh kabulkan"
Dan pertanyaan Ken tak berhenti begitu saja. Di lain waktu, dia akan bertanya....kapan ke Bali kapan naik pesawat berjam-jam, kapan naik kereta uap, Kapan ke Hongkong?
Jawaban saya selalu hampir serupa...sabar..sabar..doa..doa dan berusaha.
Sampai kemudian, Keni menunjukan  nilai ulangan. Angkanya tidaklah buruk. Lumayan untuk anak yang susah diajak belajar.




Tapi...di lembar mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, saya terlongo dengan apa yang saya baca.
Begini soalnya :
Kita memohon kepada Allah agar mendapat...
a. Hadiah
b. Ilmu yang bermanfaat
c. Mainan

Apa jawaban Keni?
Keni menjawab.. a. hadiah.

Ampunnnnn....
Saya tertawa geli, haru dan nelangsa. 
"Kenapa Keni pilih A?"
Keni menjawab dengan santai..
"Loh..Keni kan ingin ke Legoland. Jadi ya kita doa agar dapat hadiah kesana 
Bu...nggak salah kan..boleh kan ? Kan Ibu menyuruh Keni berdoa agar dapat hadiah"

Saya tak mampu berkata-kata...hanya mengangguk sembari menelan ludah yang terasa getir.

Ini soalnya yang salah apa Keni yang salah?
Untuk anak seusia Ken apa makna "ilmu yang bermanfaat"? Dapat hadiah atau mainan, menurut saya (yang pernah menjadi anak-anak) adalah jawaban yang "nyata" dan tidak salah. Kita mau berdoa kepada Tuhan..tidaklah bisa di dikte..kita bisa bebas berdoa alias meminta apa saja. Artinya...semua jawaban di soal itu adalah benar.

Adakah yang setuju dengan saya?



Notes : Kuter =Kuis Hunter







Tuesday, 2 December 2014

Kaburnya.. Sandra

Dimasa kuliah, saya memiliki teman yang sangat polos. Namanya Sandra. Saking polosnya, kadang saya berpikir bagaimana ia bisa bertahan di dunia yang keras dan kejam ini?

Tapi kemudian Sandra membuat kejutan, dengan mengambil langkah berani luar biasa yang membuat ia masuk televisi nasional !

Begini ceritanya :
Jelang ujian semester, mendadak Sandra menghilang. Sebagai sahabat terdekat, kamipun dipanggil dosen untuk dimintai keterangan. Rupanya orang tua Sandra menghubungi pihak kampus dan memberi kabar jika teman polos kami itu hilang.
Waduhhh...beragam bayangan buruk bermunculan. Apa yang terjadi dengan Sandra? Apakah diculik? Kabur dengan pacar? Ah..setahu.kami Sandra belum punya pacar.
Segera kami bahu membahu mencari kesana kemari. 
Hasilnya...nihil. 
Akhirnya kami memutuskan meminta bantuan radio dan  acara televisi kriminal untuk membantu menyiarkan kehilangan ini.
Maka kamipun menyiapkan data diri Sandra plus fotonya, kemudian mendatangi stasiun televisi swasta dibilangan Gatot Subroto ( saat ini sudah pindah ke Senayan City). 
Bertemulah kami dengan produser programnya. Alamakkkk..ternyata harus antri, karena banyak pula laporan kehilangan yang sudah masuk ke mereka, sehingga berita Sandra hilang tidaklah bisa tayang segera.
Lalu kamipun memohon-mohon....meminta kabar Sandra hilang di dahulukan.
Rupanya produser iba, foto polos Sandra muncul di televisi sehari kemudian di segmen orang hilang. Kamipun senang bukan kepalang dan berharap kabar baik segera datang.

Ternyata...berhasillll..berhasilll..berhasil.
Ada laporan keberadaan Sandra dari salah satu suster di gereja di Liwa Lampung.....
Ampunnnn..jauhnya.
Dan kisah bagaimana Si polos Sandra bisa sampai di Liwa membuat mulut saya ternganga.
Ternyata dia naik bus sampai Tanjung Priok, lalu menumpang truk menyeberang kapal. Setelah sampai Bakauheni iapun kembali menumpang  dari satu truk ke truk yang lain. 
Apa jadinya jika dia menumpang di truk yang salah...yang berisi orang jahat?
Lalu bagaimana ia tidur? Ia tidur digereja atau menumpang di asrama suster. Maka tiap hari teruslah ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain..dari satu gereja ke gereja lain hingga ke Liwa.
Amazing..amazing..manusia sepolos Sandra bisa memiliki keberanian yang saya sendiri belum tentu bisa miliki.

Lalu apa sebenarnya penyebab Sandra kabur? Di jodohkan? Bukan. Putus cinta? Bukaan
Ternyata oh ternyata...karena ia cemburu. Ia cemburu karena kedua orang tuanya mengadopsi bayi laki-laki.
Rupanya belasan tahun menjadi anak tunggal, Sandra khawatir, adik tirinya akan merampas kasih sayang yang selama ini ia nikmati sendiri.
Olala....ternyata..cemburulah yang membawa Sandra ke Liwa.

Air Terjunpun Mati

Jika di Eropa beberapa pemain Sky Ice harus menghindari runtuhan ribuan kubik es, saya pernah mengalami hal mirip...bedanya saya dikejar oleh ratusan kubik kayu gelondongan...!!

Waktu itu saya dan beberapa teman SMA kemping di hutan pinus di kampung halaman kami, Banjarnegara Jawa Tengah
Saking asyiknya mengikuti Elang yang terbang memukau, saya dan dua teman tersesat.
Karena hari akan segera gelap, setelah mengintip kompas, kami memutuskan memotong jalan agar segera kembali ke tenda. Jalan pintasnya....menuruni bukit hampir vertikal !

Berendengan kamipun perlahan menapaki bongkah demi bongkah tanah yang gundul dan rapuh. Bahkan tak ada lagi sisa akar yang bisa kami jadikan pegangan. Duh...kami harus turun lebih dari 100meter.
Lutut saya terasa nyeri menahan takut (ketinggian) dan beban tubuh. 
Tiba-tiba kami mendengar suara gemuruh dan tanah bergetar. Semula saya mengira ada gempa. Dan ketika kami mendongak, astagaaaaa...ada belasan gelondong kayu besar berlomba mengarah ke kami. Kami berteriak saling mengingatkan " Cepat...lari..lari !"
Tak lagi kami perhatikan apapun yang kami pijak.Saat itu yang ada dalam pikiran saya hanya satu "Saya tak mau mati sekarang!"

Dengan ajaib kami selamat. Sampai di dasar bukit, saya merasakan tubuh melayang ringan. Saya telah memaksa tubuh (untuk berlari) sampai batas kemampuan.
Sementara di belakang kami, susul menyusul kayu gelondongan berdebam mendarat.

Di atas bukit terlihat beberapa orang sudah siap kembali menurunkan kayu. Kami mengepalkan tangan, marah. Tapi mereka terlihat tak peduli. Apakah mereka berniat membunuh kami? Apa alasannya? Entahlah.

Dengan sisa tenaga, kamipun bergegas menjauh. Sambil mengatur nafas dan menghilangkan sisa panik, kami berjalan berangkulan.
Tanpa sadar, kami menangis lega.

Lima menit dari peristiwa mematikan itu, kami tiba di sisi bukit yang lain. Ulala.....di depan kami terhampar pemandangan menakjubkan....air terjun yang telah mati!
Tingginya lebih dari 100 meter. Jejak goresan air di dinding tebing membentuk warna yang berbeda dibanding sisi tebing yang lain, seperti garis tegap terang.
Kami bayangkan seandainya masih ada air berjatuhan di sana....betapa indahnya. Sayang sekali air terjun ini terhenti sebelum sempat orang banyak ketahui.
Kenapa?
Penebangan pohon yang membabi buta pastilah penyebab air hilang. Karena bukit-bukit yang memagari air terjun telah bersih dari pepohonan.
Betapa parahnya penebangan di sini. Apakah resmi? Apakah liar?

Beberapa belas tahun kemudian, satu dari beberapa bukit yang kami singgahi itu, runtuh menimpa satu desa dan memakan banyak korban jiwa. 
Salah siapa?
Siapa salah?

Elang yang waktu itu kami lihat pasti tahu jawabnya.




Saturday, 29 November 2014

Janji Di Atas Ingkar

Seorang penipu, saat beraksi, kadang tak pandang bulu. Ia pasti pandangnya uang kan...? Hahaha
Kebetulan, salah satu teman saya juga penipu. Bahkan saya yang miskinpun jadi mangsanya
(Berhubung sebelumnya dia baik..,ya saya percaya saja)

Proyek tipu-tipu dimulai dengan iming-iming semanis gula jawa."Pokoknya...Mba
dalam dua minggu modal balik, dan untung  50 % loh".
Karena dijanjikan dua minggu uang kembali, saya pertaruhkan uang iuran sekolah Si Ken. Jika dihitung-hitung pas dua minggu itulah saatnya uang sekolah harus dibayar.

Bayangan balik modal 50 persen dan hubungan baik yang selama ini terjalin bak persatuan dan kesatuan..maka sayapun merelakan uang bulanan sekolah Ken dia pakai untuk tambahan modal.
Sudah terbayang, keuntungan akan saya gunakan untuk membayar pinjaman yang memanggil-manggil tuk dilunasi....hahhahah

Eng ing eng...dua minggu berlalu. Tak ada kabar berita. Saya mulai panik karena berarti nasib uang sekolah Ken terancam.
Sayapun BBM..dijanjikan besok..terus besok lagi..terus...besok dan besok.

Sebulan kemudian akhirnya..uangpun dikembalikan. Tapi keuntungan yang ia janjikan hingga kini ( 4 bulan berlalu ) tak ada kabarnya. Komunikasipun terputus bak layang-layang nyangkut di sutet.

Ehem..pengalaman ini membuka mata batin saya yang selalu lempeng-lempeng saja.
Pengalaman yang menunjukan bahwa uang tak kenal apa itu pertemanan. Yang uang kenal..hanyalah nafsu.

Saya jadi ingat omelan suami saya 
"Hidup di Jakarta itu keras, kejam. Jangan terlalu polos..jangan berpikir semua orang itu baik. Waspadalah karena siapa teman dan siapa lawan sulit dibedakan. Kalau mau hidup dengan pikiran polos-polos saja..hiduplah di kampung..tanam singkong dan ubi".

Apa iya ya....apa bener saya mirip Oneng?


Thursday, 27 November 2014

Catatan Kecil Kinan




Bangun tidur, tak kulihat Ibu. Sampai hari gelap, Ibu pun belum muncul menyapa dan memelukku. 
Lelah menunggu, aku pun tidur.
Tengah malam aku terbangun...Ahaaaa...akhirnya wajah Ibu ku temukan. Rupanya Ibu baru pulang. Meski terlihat lelah dan mengantuk ia menyapaku riang, lalu memelukku dengan hangat. Ah..bahagianya.

Karena kangen, aku tak mau buru- buru tidur lagi. Aku ingin bermain dengan mu, Bu. Jadi tolong jangan nyanyikan lagu Nina Bobo. Aku mau Ibu membacakan Cerita Eyore dan Pooh.
Jangan pula beri aku susu, karena aku akan kekenyangan lalu mengantuk.
Mari kita bermain saja Bu...
Lihatlah kaki kecilku. Aku ingin segera berlari, jadi tuntun aku ya Bu, agar segera kuat kakiku, dan akupun tak akan lagi merepotkanmu.

Ayo usir kantuk dan lelah Bu. Aku akan banyak tertawa dan tersenyum untukmu. Aku akan tunjukan gigiku yang tumbuh satu persatu. Lihatlah aku bisa bertepuk tangan dengan keras. Aku bisa membuat suara-suara lucu. Aku bisa bermain Hay Day. Aku bisa menunjukan padamu teman -teman Pooh satu persatu.
Sebenarnya  ingin aku pamerkan kemampuanku sedari siang, tapi Ibu tak kunjung pulang.

Jangan marahi aku ya Bu...biarkan aku terjaga...biarkan aku terjaga...karena aku tahu..bangun pagi esok, Ibu sudah tak ada.

 

Untuk semua anak-anak yang di tinggal bekerja ibunya...

Wednesday, 26 November 2014

Tips Berbelanja di Nabawi

Masjid Nabawi adalah surga belanja. Deretan ruko menawarkan segala macam souvenir yang membuat mata saya mendelik-delik menahan hasrat beli.
Tapi sayang seribu sayang, keinginan tidak berbanding lurus dengan keuangan. Daya beli sih 1000%, tapi daya kantong hanya  ada  2,5 %. saja
Hahahha

Jadilah saya lebih banyak berkutat di pedagang kaki lima yang terhampar di halaman masjid. Ada aneka kurma, kacang-kacangan, kismis, buah jeruk dan pisang, aneka baju muslim, kerudung, syal, pasmina, perhiasan imitasi, aneka permen coklat, aneka souvenir (gantungan kunci,lukisan kaca, kaligrafi), parfum, aneka peci dan Al-Quran. Tapi, jika membeli disini, harus sangat jeli.
Misal membeli pasmina.
Pasmina- pasmina cantik buatan India ini begitu menarik, ribuan motif. Tapi telitilah. Sebagian barang yang dijual adalah barang cacat produksi. Berjuanglah untuk mendapatkan pasmina sempurna, jika dapat, maka belilah sebelum menyesal. Karena harganya dalam rupiah hanya 15 ribu rupiah saja. Sementara jika di toko bisa mencapai 5 kali lipat.

Untuk aneka coklat, dengan kualitas yang sama, harga dikaki lima bisa lebih murah separuhnya.

Tapi jika oleh -oleh untuk keluarga terdekat saya sarankan membeli di ruko, karena tentu kualitas yang bicara. Jika membeli dalam jumlah banyak, maka toko bisa memberi diskon lebih.

Kendala bahasa hampir tidak ada karena pedagang disana rata-rata pandai berbahasa Indonesia.
Jika kita menawar dan dijawab..
" Haram..haram " itu artinya tidak boleh.

Jadi..selamat berbelanja...









Tuesday, 25 November 2014

Ada Jamur Di Hatiku

Ketika musim angin tiba (kami menyebutnya musim barat), itu pertanda musim jamur segera datang. Saatnya saya berkeliaran di kebun, menunggu jamur  muncul dari balik tanah kampung kami yang subur.
Jika beruntung saya bisa menemukan Jamur Wulan selebar piring. Dan jika apes saya hanya membawa pulang Jamur Sewu  (bentuknya mirip Jamur Wulan, tapi dengan ukuran super mini, bergerombol dengan jumlah mencapai ribuan).

Segepok jamur saya cuci, disuwir-suwir, dibumbui  sedikit garam, lalu dibungkus daun pisang dan dipepes menggunakan sangan (wajan tembikar).
 Hmmm.....kenyalnya jamur berpadu dengan aroma daun pisang segar. 
Sempurnaaaaa

Musim jamur selalu memanjakan lidah saya. Betapa tidak....setelah setiap hari makan dengan lauk tempe, tahu, daun bayam dan daun singkong, rasa jamur yang  kenyal gurih memberi rasa berbeda. Petualangan dan perjuangan mendapatkan jamur, juga membuat jamur berada dalam daftar teratas makanan yang saya sukai.


Dan bagi masa kecil saya, jamur tak hanya sekedar mengenyangkan, tapi juga menerangi. Maksudnya? 
Di sepanjang undakan tanah (yang menghubungkan rumah kami dengan tetangga), di salah satu sisinya terdapat jamur istimewa. Jamur ini menyela dalam gelap. Kami menyebutnya Jamur Upas.
Titik-titik cahaya indahnya, menerangi  kaki kaki kecil saya setiap pulang dari surau. 
Itulah hiburan satu-satunya di ribuan gelap malam yang harus kami lalui tanpa listrik.

Ketika PLN entah dimana...jamur-jamur di kampung kami...mengerti dan memberi cahaya.

Aih....