Seorang penipu, saat beraksi, kadang tak pandang bulu. Ia pasti pandangnya uang kan...? Hahaha
Kebetulan, salah satu teman saya juga penipu. Bahkan saya yang miskinpun jadi mangsanya
(Berhubung sebelumnya dia baik..,ya saya percaya saja)
Proyek tipu-tipu dimulai dengan iming-iming semanis gula jawa."Pokoknya...Mba
dalam dua minggu modal balik, dan untung 50 % loh".
Karena dijanjikan dua minggu uang kembali, saya pertaruhkan uang iuran sekolah Si Ken. Jika dihitung-hitung pas dua minggu itulah saatnya uang sekolah harus dibayar.
Bayangan balik modal 50 persen dan hubungan baik yang selama ini terjalin bak persatuan dan kesatuan..maka sayapun merelakan uang bulanan sekolah Ken dia pakai untuk tambahan modal.
Sudah terbayang, keuntungan akan saya gunakan untuk membayar pinjaman yang memanggil-manggil tuk dilunasi....hahhahah
Sudah terbayang, keuntungan akan saya gunakan untuk membayar pinjaman yang memanggil-manggil tuk dilunasi....hahhahah
Eng ing eng...dua minggu berlalu. Tak ada kabar berita. Saya mulai panik karena berarti nasib uang sekolah Ken terancam.
Sayapun BBM..dijanjikan besok..terus besok lagi..terus...besok dan besok.
Sebulan kemudian akhirnya..uangpun dikembalikan. Tapi keuntungan yang ia janjikan hingga kini ( 4 bulan berlalu ) tak ada kabarnya. Komunikasipun terputus bak layang-layang nyangkut di sutet.
Ehem..pengalaman ini membuka mata batin saya yang selalu lempeng-lempeng saja.
Pengalaman yang menunjukan bahwa uang tak kenal apa itu pertemanan. Yang uang kenal..hanyalah nafsu.
Saya jadi ingat omelan suami saya
"Hidup di Jakarta itu keras, kejam. Jangan terlalu polos..jangan berpikir semua orang itu baik. Waspadalah karena siapa teman dan siapa lawan sulit dibedakan. Kalau mau hidup dengan pikiran polos-polos saja..hiduplah di kampung..tanam singkong dan ubi".
Apa iya ya....apa bener saya mirip Oneng?
No comments:
Post a Comment