Dilahirkan di rumah, dalam penerangan lampu petromak, bidan ( sahabat Bapak saya) baru datang setelah saya selesai menangis kencang, di pekan kedua Oktober tahun 1979.
Kala itu ada satu dukun beranak yang sangat termashur di kampung. Namanya Mbah Kismo. Ia memiliki sejarah panjang dalam dunia beranak, membantu kelahiran bayi-bayi kampung dari generasi ke generasi.
Tapi sama seperti juga dokter-dokter modern, ia bukanlah manusia super yang bisa menyelamatkan semua bayi yang dilahirkan. Buktinya dua kakak saya meninggal dalam penanganannya. Sedangkan saya dan tiga kakak saya lainnya beruntung hidup hingga sekarang.
Namun, kegagalan dalam menyelamatkan kakak-kakak saya tidaklah menjadi catatan buruk dalam hidupnya, karena kala itu, semua masih buta hukum, buta visum. Kami hanya tahu kematian adalah takdir. Jadi semua kematian bayi diterima ikhlas, sebagai tabungan bagi orang tua kelak di surga.
Dan dengan segala kekurangannya, (menurut cerita Ibu saya), Mbah Kismo ini sangat hebat. Ia bisa menangani kelahiran bayi dalam segala kondisi. Bayi sungsang bisa ia sempurnakan posisinya hanya melalui sedikit sentuhan dan perintah lisan. Sebab itulah ia begitu disegani dan dihormati. Saya diwajibkan super menghormatinya karena dialah yang berjasa melahirkan saya.
Sampai usia balita usai, saya sangat mengagumi kekuatan magisnya. Dimata saya, dibalik tubuh rentanya, ia terlihat misterius dan sedikit menyeramkan.
Saya tak ingat persis kapan Mbah Kismo meninggal. Yang pasti setelah kepergiannya, sosok magical saya beralih ke seorang kakek tua. Saya memanggilnya Mbah Ngarsin.
Ketika saya rewel tanpa sebab jelas, Ibu akan meminta Mbah Ngarsin datang.
Hanya dengan melihatnya, saya kembali tenang. Jika kakak saya sakit gigi, hanya dengan mengoleskan sedikit minyak angin, sembuhlah segera. Bagi saya..dialah manusia super. .
Apalagi ketika ia berhasil menolong menyembuhkan Bapak dari derita sengatan tawon-tawon raksasa.
Hari itu saya ingat persis, ketika Bapak pulang dengan luka sengatan di kepala, wajah, tangan dan punggung.
Mbah Ngarsin lalu datang ke rumah dengan obat "ajaib". Bekas sengatan di punggung dan tangan diobati dengan kotoran kerbau (telepong), lalu luka di kepala diobati dengan dibalur air rendaman bunga bougenvile.
Entah dari mana resep pengobatan ajaib itu. Yang jelas Bapak sembuh dengan cepat (don't try this at home).
Demikianlah dua tokoh magical saya di masa balita.
Dan kini, dalam hati saya bertanya-tanya..siapakah tokoh magis anak-anak saya?
Semoga bukan Ganteng-Ganteng Serigala ...
No comments:
Post a Comment