Thursday, 20 November 2014

Cerita di Balik Luka


Teman bermain saya di kala kecil, semuanya laki-laki. Tak heran, dunia saya saat itu penuh petualangan keras. Ada begitu banyak luka di badan saya. Dan setiap luka punya cerita, juga membekas hingga kini.


Yang pertama....luka pitak.
Ujung sabit pernah mampir ke batok kepala. Penyebabnya sepele, ada satu teman yang marah ketika saya larang menebang pohon pisang yang baru tumbuh. Selesai membacok, sabit raib. Baru ditemukan 5 tahun kemudian, terkubur di belakang rumah.


Yang kedua luka di hidung. Penyebabnya lompat tali tapi salah mendarat.  Ketika tali direntangkan sudah setinggi kepala, bukan kaki yang pertama menyentuh tanah, tapi hidung. Mungkin jika saya jatuh di masa kini, saya disarankan operasi .Tapi kala itu, hidung sembuh setelah nyeri berhari-hari. Sekarang, bekas luka sudah lumayan samar tertutup oleh warna kulit saya yang coklat.


Yang ketiga adalah luka di pipi kanan dekat hidung. Orang mengira bekas luka ini adalah jejak jerawat atau sisa cacar, padahal luka ini adalah bekas sabetan dari ujung daun pinang muda yang kami gunakan sebagai pedang dalam permainan perang duel satu lawan satu. 


Lalu yang keempat luka baret di dada. Luka ini berasal dari cakaran kucing liar yang terluka dipukul anak tetangga. Saya berusaha menyelamatkannya, tapi mungkin karena terbiasa diperlakukan kasar, si kucing  menyerang kesiapa saja yang mendekat. Kuku-kuku tajamnya, menimbulkan luka baret cukup dalam.



Yang kelima, bekas luka potong di jari telunjuk kiri. Luka ini saya peroleh ketika berlomba adu cepat memotong labu parang. Sebagian daging diujung telunjuk kiri tertebas parang. Untunglah berbulan - bulan kemudian telunjuk saya kembali utuh sempurna.



Yang keenam, luka di lutut. Saya peroleh ketika  bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Terjatuh, lutut  menghantam keras permukaan lantai semen yang kasar dan berkerikil. Begitu banyak kerikil yang menancap di lutut saya. Butuh waktu berhari-hari untuk mengeluarkan kerikil  satu persatu ( ketika saya tidur).


Yang ke tujuh, bekas luka terkena pecahan gelas di telapak kaki. Luka ini saya peroleh ketika saya sibuk berkeliaran di sungai mencari ikan. Entah siapa yang begitu sadis membuang pecahan gelas ke sungai. Yang pasti luka ini membuat saya susah berjalan berhari-hari.


Tapi dari semua luka-luka diatas...ada luka yang pernah saya tanggung dengan sangat dramatis.
Asyik bermain kejar-kejaran, saya  terpeleset dari undakan tanah dan jatuh dalam posisi memeluk pohon kaktus raksasa milik tetangga. Ratusan duri menancap diseluruh tubuh saya mulai dahi hingga ujung jari kaki. Butuh waktu berminggu-minggu untuk mengeluarkan duri satu persatu. Sebagian menimbulkan infeksi yang membuat saya demam.


Begitulah....saat itu saya menganggap masa kecil akan berlangsung selamanya. Saya tidak memikirkan jika kelak dalam dunia dewasa.....wanita dengan tubuh penuh luka....aihhhhh...jeleknya.

Hahahhahahha

No comments:

Post a Comment