Teman bermain saya di kala kecil, semuanya laki-laki. Tak
heran, dunia saya saat itu penuh petualangan keras. Ada begitu banyak
luka di badan saya. Dan setiap luka punya cerita, juga membekas hingga
kini.
Yang pertama....luka pitak.
Ujung sabit pernah mampir ke batok kepala. Penyebabnya sepele, ada satu teman yang marah ketika saya larang menebang pohon pisang yang baru tumbuh. Selesai membacok, sabit raib. Baru ditemukan 5 tahun kemudian, terkubur di belakang rumah.
Ujung sabit pernah mampir ke batok kepala. Penyebabnya sepele, ada satu teman yang marah ketika saya larang menebang pohon pisang yang baru tumbuh. Selesai membacok, sabit raib. Baru ditemukan 5 tahun kemudian, terkubur di belakang rumah.
Yang kedua luka di hidung. Penyebabnya lompat tali tapi
salah mendarat. Ketika tali direntangkan sudah setinggi kepala, bukan
kaki yang pertama menyentuh tanah, tapi hidung. Mungkin jika saya jatuh
di masa kini, saya disarankan operasi .Tapi kala itu, hidung sembuh
setelah nyeri berhari-hari. Sekarang, bekas luka sudah lumayan samar
tertutup oleh warna kulit saya yang coklat.
Yang ketiga adalah luka di pipi kanan dekat hidung. Orang
mengira bekas luka ini adalah jejak jerawat atau sisa cacar, padahal
luka ini adalah bekas sabetan dari ujung daun pinang muda yang kami
gunakan sebagai pedang dalam permainan perang duel satu lawan satu.
Lalu yang keempat luka baret di dada. Luka ini berasal dari
cakaran kucing liar yang terluka dipukul anak tetangga. Saya berusaha
menyelamatkannya, tapi mungkin karena terbiasa diperlakukan kasar, si
kucing menyerang kesiapa saja yang mendekat. Kuku-kuku tajamnya,
menimbulkan luka baret cukup dalam.
Yang kelima, bekas luka potong di jari telunjuk kiri. Luka
ini saya peroleh ketika berlomba adu cepat memotong labu parang.
Sebagian daging diujung telunjuk kiri tertebas parang. Untunglah
berbulan - bulan kemudian telunjuk saya kembali utuh sempurna.
Yang keenam, luka di lutut. Saya peroleh ketika bermain
kejar-kejaran di halaman sekolah. Terjatuh, lutut menghantam keras
permukaan lantai semen yang kasar dan berkerikil. Begitu banyak kerikil
yang menancap di lutut saya. Butuh waktu berhari-hari untuk
mengeluarkan kerikil satu persatu ( ketika saya tidur).
Yang ke tujuh, bekas luka terkena pecahan gelas di telapak
kaki. Luka ini saya peroleh ketika saya sibuk berkeliaran di sungai
mencari ikan. Entah siapa yang begitu sadis membuang pecahan gelas ke
sungai. Yang pasti luka ini membuat saya susah berjalan berhari-hari.
Tapi dari semua luka-luka diatas...ada luka yang pernah saya tanggung dengan sangat dramatis.
Asyik bermain kejar-kejaran, saya terpeleset dari undakan tanah dan
jatuh dalam posisi memeluk pohon kaktus raksasa milik tetangga. Ratusan
duri menancap diseluruh tubuh saya mulai dahi hingga ujung jari kaki.
Butuh waktu berminggu-minggu untuk mengeluarkan duri satu persatu. Sebagian
menimbulkan infeksi yang membuat saya demam.
Begitulah....saat itu saya menganggap masa kecil
akan berlangsung selamanya. Saya tidak memikirkan jika kelak dalam dunia
dewasa.....wanita dengan tubuh penuh luka....aihhhhh...jeleknya.
Hahahhahahha
No comments:
Post a Comment