Kami memiliki tetangga di belakang rumah. Kurang lebih lima tahun mereka memberi kami banyak rasa (dongkol). Baik ibu, bapak maupun kedua anaknya, memiliki perilaku yang sama-sama menggemaskan.
Sering mereka membuang sampah di belakang tempat kami tinggal, tak jauh dari pintu dapur. Padahal tempat sampah yang sesungguhnya ada sekitar 10meter lagi.
Demi kesehatan, jika tidak sedang repot saya singkirkan sampah mereka atau saya bakar. Yaaa,..saya sih mikir positif saja..mungkin kaki mereka rematik semua sehingga sulit untuk melangkah lebih jauh.
Pernah juga mereka memporak porandakan taman di halaman belakang kami. Tanaman bunga dan buah yang kami rawat dengan jiwa dan raga, potnya pecah dan penyok-penyok, sedangkan rupa-rupa tanaman, daun juga batangnya patah. Rupanya ketika tetangga memarkir mobil, mereka begitu semangat (atau begitu bodoh) sehingga tanaman kamilah yang menjadi korban. Tak ada sepatah kata maafpun dari mulut mereka. Yaaa..kami sabar saja..yang waras ngalah.
Tak lama setelah itu..kami kaget ketika tepat dibelakang rumah kami berdiri dengan semena mena...kandang ayam!
Mereka memelihara ayam potong tapi di "kampungkan". Siang hari dilepas berkeliaran. Kadang ayam-ayam itu masuk dapur kami..(mungkin minta di goreng..).
Aroma kotoran ayampun menelusup ke dapur kami, membuat kami terpaksa harus menutup pintu rapat-rapat. Sewaktu-waktu pintu terbuka, lalatpun berlomba masuk.
Jika saya si ratu tega..bisa saja saya laporkan mereka ke pemda, maka akan disitalah ayam-ayam itu.
Setahu saya sejak kasus flu burung muncul, di Jakarta haram hukumnya ada ayam (unggas) di pelihara di permukiman penduduk. Kalaupun ada harus memiliki ijin, dan mempunyai standar kesehatan juga kebersihan yang tinggi. Tapi saya yakin, tetangga ini tak memiliki ijin, lah wong menaruh kandang ayam di belakang rumah kami saja mereka tak ada basa basi ijin, apalagi ijin ke pemda..saya yakin otak mereka tak sampai ke situ.
Yang lebih menyebalkan lagi, disela-sela bau kandang ayam, mereka masih membebani kami dengan keributan ketika mereka saling bertengkar.
Entah apa yang mereka pertengkarkan saya malas menyimak.Yang tertangkap ditelinga saya hanya suara melengking lengking bersahut-sahutan laksana Mantili dan Bramakumbara sedang melawan musuh musuhnya,,hiyatttt..ciatttttt....bak buk..bak buk..gedombrang..gedombreng.
Bahkan kuntilanak yang telah puluhan tahun tinggal dipohon rambutan samping rumah merekapun, tak kuat dengan kebisingan yang mereka timbulkan, sehingga memilih pindah. Kini tak pernah lagi Mba Kunti muncul atau memperdengarkan tawa misterinya. (Jadi bagi anda yang ingin mengusir kunti, bawa saja tetangga belakang rumah saya, dijamin jiwa dan raga berisik mereka, dibenci hantu sekalipun)
Ya..kami mikirnya positif saja..baguslah mereka melampiaskan emosi dengan bertengkar , daripada dipendam. Emosi yang ditahan konon bisa berakibat pada bunuh diri.
Dan..sudah dua minggu ini.."derita" yang mereka timbulkan bertambah.
Satu anak mereka sepertinya kini memiliki hobi mengotak atik motor. Siang malam kami disuguhi suara deru mesin motor dan knalpot yang menderu-deru laksana badai gurun. Tak kenal waktu dari jelang siang hingga hampir tengah malam, bisinglah dunia kami. Sebenarnya siang hari kami tidaklah keberatan, wong namanya hobi ya silahkan. Masa iya kami mau melarang orang menjalankan hobi positif?
Tapi ketika suara raungan motor terdengar di malam hari hingga hampir tengah malam, membuat waktu Ken belajar terganggu juga Kin yang sedang sakit bolak balik terbangun dari tidurnya..kemarahan kami pun luber.
Terpaksalah bapak Si Ken datangi mereka dan meminta pengertian untuk berhenti.
Sungguh, saya pribadi berharap mereka migrasi saja ke ujung dunia. Atau setidaknya mereka berobat ke dokter jiwa.
lapor RT /RW aja mba...tetangga gitu mah..bikin kita sakit..
ReplyDeleteHehhe pak RTnya sibuk..jarang di rumah, pulang malam.Selama masih bisa kami maklumi..kami maklumi..hanya kemarin krn anak sy sedang sakit,terpaksa sy tegur..hehehe
ReplyDeletePindah ndesa bae ngeneh yuu...hehehe...
ReplyDeleteYa jan jane kepengin banget pindah ndesa.hehehe
Delete