Ketika musim angin tiba (kami menyebutnya musim barat), itu pertanda musim jamur segera datang. Saatnya saya berkeliaran di kebun, menunggu jamur muncul dari balik tanah kampung kami yang subur.
Jika beruntung saya bisa menemukan Jamur Wulan selebar piring. Dan jika apes saya hanya membawa pulang Jamur Sewu (bentuknya mirip Jamur Wulan, tapi dengan ukuran super mini, bergerombol dengan jumlah mencapai ribuan).
Segepok jamur saya cuci, disuwir-suwir, dibumbui sedikit garam, lalu dibungkus daun pisang dan dipepes menggunakan sangan (wajan tembikar).
Hmmm.....kenyalnya jamur berpadu dengan aroma daun pisang segar.
Sempurnaaaaa
Segepok jamur saya cuci, disuwir-suwir, dibumbui sedikit garam, lalu dibungkus daun pisang dan dipepes menggunakan sangan (wajan tembikar).
Hmmm.....kenyalnya jamur berpadu dengan aroma daun pisang segar.
Sempurnaaaaa
Musim jamur selalu memanjakan lidah saya. Betapa tidak....setelah setiap hari makan dengan lauk tempe, tahu, daun bayam dan daun singkong, rasa jamur yang kenyal gurih memberi rasa berbeda. Petualangan dan perjuangan mendapatkan jamur, juga membuat jamur berada dalam daftar teratas makanan yang saya sukai.
Dan bagi masa kecil saya, jamur tak hanya sekedar mengenyangkan, tapi juga menerangi. Maksudnya?
Di sepanjang undakan tanah (yang menghubungkan rumah kami dengan tetangga), di salah satu sisinya terdapat jamur istimewa. Jamur ini menyela dalam gelap. Kami menyebutnya Jamur Upas.
Di sepanjang undakan tanah (yang menghubungkan rumah kami dengan tetangga), di salah satu sisinya terdapat jamur istimewa. Jamur ini menyela dalam gelap. Kami menyebutnya Jamur Upas.
Titik-titik cahaya indahnya, menerangi kaki kaki kecil saya setiap pulang dari surau.
Itulah hiburan satu-satunya di ribuan gelap malam yang harus kami lalui tanpa listrik.
Ketika PLN entah dimana...jamur-jamur di kampung kami...mengerti dan memberi cahaya.
Aih....
Itulah hiburan satu-satunya di ribuan gelap malam yang harus kami lalui tanpa listrik.
Ketika PLN entah dimana...jamur-jamur di kampung kami...mengerti dan memberi cahaya.
Aih....
No comments:
Post a Comment