Tuesday, 18 November 2014

Bahagia Itu Sederhana


Pohon pinang tumbuh mengelilingi rumah kami di kampung. Tinggi, langsing, menjulang. Hanya orang ahli yang bisa naik ke ujungnya.

Sebulan sekali ada pembeli buah pinang datang. Ia sudah berumur, tapi  lincah memanjat. Hanya butuh 2-5menit untuk memanen satu pohon.

Buah pinang yang tak terpanen akan matang, lalu jatuh. Saya biarkan buah itu mengering lalu dipukul-pukul hingga kulitnya empuk, kemudian dikupas setengahnya, celupkan ke pewarna makanan berwarna pink atau merah dan taraaaaa...bunga hias pun jadi. 

Aroma bunga pohon pinang juga kesukaan saya. Saat tertiup angin, harumnya akan mampir ke hidung bengkok saya untuk sejenak menghilangkan aroma kampung di badan .

Ada satu doa sederhana yang saya selalu panjatkan untuk pohon-pohon pinang ini.
"Ya Tuhan,,,mohon segera tuakan pelepah daun pohon pinang agar saya bisa bermain dengan riang"

Dan ketika batang pinang mulai menguning lalu jatuh...maka petualangan seru dimulai.
Tubuh kurus ringkih saya  duduk manis di atas pelepah pinang (upih), lalu diseret oleh teman-teman
Semakin ngebut..semakin giranglah saya.
Apalagi ketika upih ditarik meluncur dari undak-undakan tanah yang ada di samping rumah...wuihhhhhh,.....rasanya seperti naik rollercoaster!
Sering saya hilang keseimbangan dan terguling, tapi saya selalu bersemangat untuk naik lagi dan lagi (lebam dan lecet baru berasa ketika permainan berakhir).

Badan saya yang super kurus selalu menguntungkan dalam permainan ini. Saya tak pernah mampu menyeret upih karena badan teman-teman jauh lebih besar. Jadi saya hanya kebagian ditarik bukan menarik. Hahahhaha

Permainan ini akan berakhir ketika upih sudah aus dan robek. Butuh waktu yang lumayan lama bagi kami untuk menunggu pelepah pinang menua.

Itu artinya.....waktunya bagi saya untuk kembali berdoa..."Ya..Tuhan...segerakanlah upih jatuh"

Karena bagi anak kampung seperti saya...bahagia itu...sederhana.





Sumber foto : google

No comments:

Post a Comment