Monday, 15 December 2014

Balado Ceker


Jaman saya kecil, setiap memotong ayam (setahun sekali, ketika lebaran) Nenek saya selalu meminta saya untuk memakan ceker, dengan harapan, ketika dewasa kelak saya menjadi wanita mandiri.
Karena itulah....saya menyukai ceker.

Balado Ceker

Bahan :
Ceker 1/4 kg
Cabai merah 8 buah
Tomat 1 buah
Bawang merah 8 butir
Bawang putih 4 butir
Minyak goreng 4 sdm

Cara membuat :
Rebus ceker sampai empuk, sisihkan.
Blender halus bawang merah, bawang putih, cabai dan tomat. Sisihkan.
Panaskan minyak, masukan semua bumbu, tumis hingga harum. Lalu masukan ceker. Masak 5 menit. Angkat

Untuk 4 orang


The Big Guy

Cinta masa SMP sudah, cinta jaman kuliah juga sudah. Sekarang saya ingin cerita, cinta jaman SMA. 

Saat itu, saya jatuh cinta dengan pria tinggi besar bernama Usman, senior di eskul Pecinta Alam (PA)
Tapi...sayang sungguh sayang, The Big Guy sudah punya pacar.  Gadis cantik, tinggi, kulit putih bersih, dan mata indah (anggota PA juga).
Dan tentu saja, cinta saya tak berbalas. 
Tipe gadis yang kala itu jadi pacarnya..dari skala 1 sampai 10, gadis itu 10 saya 1. Hahahha
Punahlah harapan saya.

Sedihnya, gadis cantik ini selalu nempel ke Usman dimana saja...darat, laut dan udara. Jadi setiap melihat Usman, saya terpaksa melihat pesaing saya itu. 
Saya tidak sebal dengan si gadis, tidak iri, justru kagum dengan daya "tempelnya". Meski dalam satu organisasi, saya dan gadis ini tidak saling kenal, tidak saling sapa. Ia terlalu sibuk memandang Usman sehingga mungkin tak bisa melihat saya.

Setiap ada acara PA, dan pasangan ini hadir, saya merasa bagaikan itik buruk rupa. Melongo, memandang diam-diam. 

Secara pribadi, Big Guy adalah pria ramah. Ia pernah sekali datang ke rumah, beramai-ramai dengan teman- teman pria satu gengnya. 
Tentu saja waktu itu saya girang bukan kepalang, sekaligus gugup. 
Sambil makan kacang kulit, kami ketawa-ketiwi. 
Setelah mereka pulang, saya melompat senang. Bagaimana tidak..pria yang saya sukai datang kerumah!
Meski saya tahu, pria besar itu hanya memandang saya teman biasa.

Keesokan harinya...Usman bercerita, bahwa ternyata, jika dirunut-runut saya dan dia masih saudara, kerabat jauh. Buyut kami kakak beradik. Olala...
Dan ..ketika si gadis cantik sedang nempel, pria besar pun memperkenalkan saya..
"Eh..ternyata kami bersaudara loh"
Mau tau reaksinya...hahahha..mengenaskan .....saudara-saudara. Bukan uluran tangan bersahabat, tapi tatapan sinis  yang saya artikan " kamu tidak penting"
Ehemmm... Baiklah.
Saat itu saya berdoa agar si gadis cantik itu tak berjodoh dengan Usman. 
He deserve the best.....
Usman pantas mendapatkan gadis yang tidak hanya cantik fisik, tapi cantik hati. 
Semoga.






Saturday, 13 December 2014

Lebih Baik Dari Putri?

Meski tampang dan gaya seperti putra, tapi saya menyukai acara pemilihan putri-putri atau miss-miss-an. Dan setiap ajang kecantikan tayang di televisi, saya menunggu tak sabar. Mata saya akan melotot mencari perwakilan Indonesia.

Aihhh..bangganya jika ada nama "... Indonesia...!" diteriakan dengan lantang, lalu munculah perempuan Indonesia melangkah dengan cantik dan percaya diri. Jreng....jreng.
Itu kalau ajang internasional.

Nah...jika itu ajang kecantikan nasional, yang saya tunggu adalah munculnya perwakilan Jawa Tengah. Maklumlah saya orang Jawa. Lenggak lenggok luwes perempuan Jawa selalu membuat saya terpesona.

Yang pasti, selalu menyenangkan melihat wanita cantik, pintar dan berperilaku baik, berkumpul berlomba menunjukan kemampuan positifnya.
Alangkah baiknya jika mereka mampu menginspirasi setiap perempuan untuk menjadi dan melakukan yang terbaik.

Saya pribadi pernah bertemu dengan sejumlah peserta ajang kecantikan nasional. Mereka memang sungguh cantik fisik, berperilaku sopan dan pintar. 

Bagi saya, apa yang mereka lakukan itu positif. Mereka adalah perempuan mandiri dan selalu punya keinginan untuk belajar. Daripada cantik tapi kerjanya nongkrong di cafe dan club malam, mending ikut ajang cantik-cantikan. 

Lagipula mereka yang melenggang di acara grand final, tentulah perempuan terpilih. Diseleksi dengan ketat dari segi fisik, mental dan isi kepala. Tak mungkinlah perempuan cantik  dungu bisa lolos. 
Selain itu, syarat untuk jadi finalis atau pemenang mereka harus mempunyai kontribusi untuk lingkungan. 
Jadi kalau cantik hanya sekedar jadi pajangan, lebih baik kecantikannya di tukar saja dengan Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera (KSPS). Lebih berguna tuh buat orang miskin.

Karena itu, bagi yang sinis dengan ajang putri-putrian, silahkan saja. Tapi alangkah baiknya jika Si Sinis ini bertanya ke diri mereka sendiri, "Apakah saya lebih baik dari para puteri ?"
Jika jawabannya : "Ya"...saya akan bertanya  " Masa sih?"

Friday, 12 December 2014

Toilet Ajaib


Dari sekian banyak toilet umum yang pernah saya gunakan, toilet di Stasiun Klender Jakarta Timur  juara bersihnya.
Tampak luar, biasa saja. Sederhana layaknya toilet umum yang lain. Tapi begitu melewati pintu masuk....aihhhh..harummmmm.
Lantainya kering bersih, wastafel kinclong, lengkap dengan sabun cuci tangan dan bunga-bunga plastik yang memanjakan mata.
Masuklah ke bilik toilet. Harumnya tidak kalah dengan toilet hotel.


Jenis toiletnya, toilet jongkok yang dilengkapi dengan flash. Pilihan cerdas untuk toilet umum higienis.


Beberapa toilet umum yang menggunakan toilet duduk, nasibnya mengenaskan. Betapa tidak? Meskipun namanya toilet duduk, tapi sebagian orang dengan semena-mena nangkrin didudukannya, meninggakkan  noda alas kaki, laksana cap jempol di KTP. Mengerikan.

Jadi..sebenarnya, toilet umum bersih bisa ada di Jakarta.

Rasanya ajaib!




Wednesday, 10 December 2014

Dunia Hahahihi


Di dunia ini...ada orang yang hidup hanya untuk ngerumpi. Pagi, siang, malam belum lengkap tanpa obrolan remeh temeh hingga bergunjing.
Ketika sebagian orang sibuk berbuat nyata untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, negara, bahkan dunia, dengan santai mereka nongkrong tertawa-tawa. 

Begitulah sebagian dari tetangga saya menikmati hidup. Hahahihi, menguap, bertahak dan kentut..semua dilakukan sembari ngerumpi. Tak ada hal sekecil apapun yang luput dari "ulasan" mereka.

Jika di pikir-pikir, soal daya tahan ngerumpi, mereka cocok dijadikan agen intelejen untuk tindakan mata- mata. 
Misalnya, jika ada koruptor kabur, mereka bisa ditempatkan tidak jauh dari rumah si pencuri uang negara, (di pos kamling terdekat) untuk di tugaskan mengamati siapa saja yang keluar masuk rumah. Di jamin sedetikpun mereka sanggup tak menggeser pantat. 
Beri saja mereka bahan gosip dan makanan, maka urusan nongkrong..lancarrr.

Saya pribadi tak sedikitpun tertarik untuk bergabung. Bagi saya merumpi tak kenal waktu adalah perilaku menyimpang. Sakit jiwa.

Melihat mereka saja saya sudah pusing. Bayangkan..pagi hari mereka nongkrong, siang nongkrong, sore nongkrong, hingga jelang tengah malampun mereka masih hahahihi di depan rumah. Padahal salah satunya memiliki anak balita, yang umumnya, selepas magrib tidur.
Selama nongkrong, anak ini dibawa serta, berkeliaran, berlarian dan seringkali jatuh terluka karena lepas dari pengawasan. 

Bagi mereka kebersamaan untuk bergosip mengalahkan segala kepentingan pribadi dan keluarga. 

Seandainya mereka ngerumpi sambil bisik- bisik, saya pribadi tak akan terganggu. Lhaaaa..mereka ngerumpi dengan suara keras meledak meletup, juga dengan suara tawa yang kerap kali merusak mimpi Keni dan Kinan, bagaikan suara kuntilanak membelah ketenangan.

Dalam hati, saya bertanya,
"Om Jaya Suprana...adakah rekor dengan kategori ngerumpi terlama? Jika kelak ada...
Malaikat juga tahu...tetangga sayalah juaranya!"


Tuesday, 9 December 2014

Setrika Bara Bara

Sejak kelas 1 SD, saya sudah wajib menyetrika baju sendiri. 
Karena belum ada listrik, kami gunakan setrika arang. Sumber panasnya bisa arang kayu atau batok kelapa. Suhunya tentu saja suka-suka si arang. Kadang panassss sekali, kadang hanya suam-suam kuku. Karena itu tak heran kala itu beberapa baju harus direlakan bolong-bolong gosong. Sering pula karena ceroboh, potongan kecil bara keluar sehingga terciptalah lubang mungil di kain. Weladalahh

Perjuangan menyalakan sumber panas tidak mudah. Dengan menggunakan sedikit minyak tanah, batok kelapa kering  pun saya kipas-kipas agar menjadi arang.
Setelah menyala sempurna, satu persatu bara diletakan di dalam setrika jago. Sayapun siap beraksi. 

Bagaimana saya mengakali agar suhu setrika aman? Jika panas berlebih, saya letakan setrika di atas lembaran daun pisang yang dilipat tebal. Bunyi desisnya..nyesss..saya suka. Suhupun akan menurun beberapa derajat seketika.
Tapi begitu baju selesai disetrika..beuhhhh baju saya akan beraroma daun pisang gosong. Berasa saya itu seperti bungkusan nasi bakar atau lemper bakar. Hahaha

Setrika melelahkan ini saya lakukan SD hingga SMA kelas 2. 
Begitu listrik masuk desa, kami tak langsung mampu membeli setrika listrik. Kadang meminjam tetangga seminggu sekali.

Dan.....setrika arang ayam jago pun menikmati masa pensiun dengan tenang.

Sunday, 7 December 2014

Pendakian Terakhir


Gunung pertama yang saya daki, Sindoro di Jawa Tengah.
Bagi pemula, gunung ini terbaik karena tidak terlalu tinggi (3136 meter) dengan jalur pendakian yang relatif aman.

Seperti harapan pendaki lainnya, saya ingin sampai di puncak ketika matahari terbit. Tapi.....100 meter jelang puncak, kaki saya sudah benar-benar sulit di gerakan.
Sempat ingin menyerah, tapi cerita apa yang akan saya bawa pulang jika berhenti disini?
Dengan menguatkan hati sayapun merangkak.
Hingga akhirnya, seperti bayi berusia 8 bulan, dengan dua tangan dan dua lutut, sampailah saya di puncak.

Amboiiiii

Walaupun ketinggalan melihat matahari bangun, tapi saya masih bisa melihat matahari ketika dua meter bangkit dari "kasur"-nya.
Hahahaha

Saya bersimpuh lama. Bersujud syukur. Rasa lelah hilang. Dipuncak Sindoro yang luas seperti lapangan bola, saya berlari girang, melompat-lompat tinggi dengan niat menggapai awan.

Lalu untuk mengusir lapar, saya dan kawan-kawan memasak mie. Sedangkan coklat di tas sudah mengeras bak kayu jati. Tak mampu saya menggigitnya. Aihhh..ini sarapan paling indah. Seperti dilangit. Awan yang bergerombol serasa mudah di gapai sejangkau tangan.

Hanya 15 menit kami di puncak. Setelah puas memandang hamparan bunga abadi edelweis, kami harus segera turun jika tidak ingin terkena badai.

Saya kira turun lebih mudah dibanding naik. ...hahahhah...salah besarrrrr. Lutut saya rasanya mau lepas menahan beban. Jadi, ketika ada turunan tanpa bebatuan, saya meluncur saja bak main di perosotan.

Sampai di kaki gunung saya menengadah...mengagumi gunung cantik ternyata tak pernah lagi saya daki....hingga kini.

Dan..sedihnya..Sindoro adalah gunung pertama dan terakhir yang saya naiki. Karena setelahnya, orang tua saya tak lagi mengijinkan saya mendaki.
Impian berkunjung ke saudaranya Sindoro, yaitu Sumbing, tak pernah tercapai.

Sekarang..boro-boro naik gunung... jarak 500 meter saja, saya naik ojek...Capek !
Sungguh terlalu !
Saya menjadi begitu pemalas.



Sumber foto : www.travelblog.tictab.com