Friday, 14 August 2015

The Power Of Kentut

Kentut...
Bagi sebagian orang mungkin  sebagai hal memalukan. Tapi bagi saya, gas yang kadang berbau, kadang tidak (kadang bunyi, kadang tidak) itu menyenangkan.
Kentut adalah salah satu hiburan murah meriah juga instant.
Kentut bisa membuat seseorang tertawa dengan cepat. Tak perlu susah-susah melawak seperti Sule dan Andre, tapi cukuplah kentut saja. Dijamin dalam hitungan detik orang akan tertawa. Jadi selain pemilik kentut sehat plus lega, yang mendengarpun akan tertawa atau paling tidak tersenyum.
Semakin nyaring/unik suara kentut, maka akan semakin kuat daya  menghiburnya.

Bagaimana jika kentutnya berbau tajam menyengat? Tentu awalnya akan terasa menggangu dan menyebalkan, namun setelahnya, bau ini akan jadi cerita menggelikan bukan?
Teringat saya akan bau kentut tajam luar biasa (dengan aroma yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata) saat berada di dalam pesawat dari Sanghai menuju Jakarta. Sampai-sampai  mbak-mbak pramugari  terlihat mengernyitkan dahi dan melakukan daya upaya untuk segera mungkin kembali menyegarkan udara yang terbatas.
Saat itu sebagian penumpang menggerutu dan saling tuduh. Tapi saya dengan teman di sebelah, justru tertawa geli sambil menutup hidung?
Habis makan bangkai apakah si pemilik kentut?
Wkkwkwkw. Hiburan yang lumayan di banding film-film di layar bangku pesawat yang kadang tak terlalu enak di tonton.

Tapi tentu saja, untuk alasan kesopanan, kentut tidak boleh sembarangan. Harus melihat situasi juga kondisi.
Tak mungkin kita kentut nyaring saat sedang wawancara melamar pekerjaan. Tidak mungkin kita kentut nyaring ketika bos sedang memarahi kita. Tidak mungkin kita kentut keras saat sedang ijab qobul.

Jadi,.terlepas dari alasan kesehatan, (kentut sebagai proses alami dan sehat), suara kentut yang unik adalah hiburan yang kocak.

Sudah kentutkah hari ini?

Thursday, 13 August 2015

Jelang Dini Hari

Saat duduk di bangku kereta jelang tengah malam, saya selalu bersyukur. Kenapa?
Karena ternyata saya tidak berjuang sendiri.
Ada orang lain yang juga  harus meninggalkan keluarga demi keluarga. Ada yang lain yang melewati setengah malam di jalanan. Ada yang lain yang berlari mengejar kereta terakhir.

Sering satu persatu mereka saya amati. Ada yang terkantuk-kantuk, ada yang masih terlihat cantik segar, dan ada yang sudah terlihat layu sebelum  berkembang.
Tapi saya tahu di balik rupa-rupa gaya itu, semua banting tulang demi keluarga. Ada alasan mulia di baliknya.
Saya berdoa semoga lelah mereka menjadi berkah yang melimpah.

Dan bagi saya  yang tak punya keahlian bela diri apapun, kereta adalah transportasi teraman di malam hari. Tiap gerbong ada mas-mas atau mba-mba petugas keamanan. Tinggal duduk lalu ngantuk. Jika beruntung bangun jelang atau tepat di stasiun yang di tuju, atau jika apes ya terbawa ke stasiun jauh dari tujuan semula.

Jadi...saya merasa, tidak usahlah mengeluh, tidak usahlah merasa lelah

Nikmati saja










Thursday, 23 July 2015

Cacar Air

Saya diberi rejeki Tuhan untuk merawat dua anak kami yang  terkena cacar air. Karena itu saya ingin berbagi pengalaman.

Pertama Si Kakak. 
Kapan Keni tertular cacar, hanyalah persoalan waktu. Sebelumnya belasan teman sekolahnya sudah terlebih dahulu terkena.
Saya mencoba sebisa mungkin menguatkan Keni dengan suplemen vitamin.
Tapi..Keni yang tidak suka nasi, sayur dan buah, tentu menjadi sasaran empuk Si Virus Cacar. Tak mampu vitamin menangkal.
Awalnya saya kira hanya demam flu, dan hanya sehari. Tapi rupanya itulah masa virus berinkubasi (10-20 hari).
Pertama muncul luka kecil di dahi  dan langsung mengering. Saya pikir itu adalah luka karena duri sisa perkemahan satu hari (persari). Tapi ternyata itulah si bintik cacar yang telah pecah. 
Dua hari kemudian bintik lain mulai tumbuh di punggung, dan kaki. Jumlahnya tak banyak, tidak sampai 20 titik. Tak ada keluhan berarti dari Keni. Suhu normal. Tapi sekolah meminta Keni di karantina (alias tinggal di rumah) selama setidaknya 2 minggu). 
Tentu saja ini kabar gembira buat Keni yang tidak suka sekolah.

Bintik cacarpun  mengering dengan cepat, bahkan sebelum  pergi ke dokter. 
Saya beri keni vitamin : 
Stimuno  3 kali sehari @5ml
Madu 3 kali sehari (1 sdm)
Curcuma Plus 2 kali sehari (@5ml)
Vermint 3 kali sehari 1 capsul
Dua minggu kemudian  Keni sembuh total. Lega rasanya.  

Kedua, Kinan
Diawali dengan seminggu demam dan flu. Lalu tiga minggu sejak Keni cacar,  ada bintik berair di punggung Kinan. Awalnya saya kira hanya karena iritasi. Tapi kemudian muncul bintik serupa di sudut bibir kiri.

Oke..saya siap tempur. 

Tapi saya kaget, karena cacar yang menimpa Kinan lebih dasyat 10 kali lipat dibanding Keni. Suhu badan Kinan naik turun selama seminggu, flu berat dan muncul bintik cacar di seluruh tubuh. Jumlahnya ratusan.
Walah...saya panik.
Meski Kinan doyan makan nasi, sayur dan buah, di usia Kinan yang baru 16 bulan tentu berbeda daya tahannya dibanding Keni yang berusia 8 tahun.
Penanganannya Kinan saya samakan dengan Keni. Plus krim untuk di oles ke bintik cacar yaitu Clinovir (harganya hanya Rp. 4.125 untuk kemasan 5 gram, produksi Pharos)
Dua minggu kemudian Kinan sembuh dengan 4 luka bopeng di wajah..dan puluhan lainnya di badan. 

Maka selesailah urusan saya dengan dunia per-cacar-an.




Kesempatan Kedua

Sepersekian detik motor roboh, kami bertiga jatuh menumpuk. Pekik kaget Kinan membuat saya berusaha  bangun secepat mungkin.

Ardi tersungkur dengan darah mengucur dari hidung. 

Panik saya guncang tubuh Ardi yang sempat mengerang lalu terdiam. 
"Ardi..dengar Lik, Ardi....Ardi!!". 

Entah darimana, sekian orang datang menyingkirkan motor dari atas tubuh Ardi, mengangkat Ardi dari atas tanah kering keras tepi jalan dan mendudukan dalam posisi masih terdiam tanpa respon. 

Keponakan  yang saya gendong sedari bayi, keponakan yang selalu saya kangeni, keponakan yang rajin menyapa saya di BBM, keponakan yang sekian jam lalu baru saja menanyakan bagaimana menghilangkan bekas jerawat, keponakan yang beberapa jam lalu saya lihat mematut wajah di cermin, kini saya lihat terduduk dalam topangan entah siapa dengan wajah penuh darah dan debu.

Saya terus guncangkan tubuh Ardi, dan memanggil dengan suara  sekeras saya bisa. Dan dua puluh detik kemudian Ardi membuka mata. Saya tak kuasa menahan tangis lega.

Semua lalu seperti berputar dengan cepat..Tuhan mengirim orang-orang baik yang dengan hati emas rela menghentikan kendaraan mereka dan menolong kami ke petugas medis terdekat.

Sesampainya di klinik, saya bersyukur tak terkira. Kami bertiga selamat dari kecelakaan tunggal. Luka Ardi paling parah, dengan belasan jahitan di telapak kaki dan wajah, juga luka terbuka di lutut. Sedangkan saya mendapat luka tak seberapa di punggung telapak tangan kiri (tangan ini saya gunakan untuk melindungi Kinan dari benturan aspal) juga luka terbuka di lutut yang baru saya sadari sejam kemudian.
Kinan...dengan ajaib tak sedikitpun terluka. Hanya sedikit pelupuk matanya membentur tulang belikat saya yang menyebabkan sedikit   bengkak keesokan harinya.


Kami bertiga mendapat kesempatan kedua untuk lebih menghargai hidup.
Kami bertiga telah mendapat hadiah dari Tuhan..yang begitu besar, yaitu .....lolos dari maut.


Bekasi, 16 Mei 2015

*lik = tante

Ada Ibu Belajar Pada Anaknya

Bagi emak-emak seperti saya, kebahagiaan tertinggi ya soal anak-anak. Terutama saat anak-anak sehat. Itu rejeki yang luar biasa. Apalagi bila ditambah memiliki anak soleh dan pintar. Wuihhh..itu bikin dunia teras uindahh tenan.

Memiliki dua anak,  tentu ada dua karakter. Kali ini saya akan cerita soal Si Bungsu Kinan yang usianya 17 bulan.

Di balik tubuh mungilnya, Kinan memiliki jiwa besar yang terkadang saya justru belajar darinya.

Pertama, meski kerap dibuat menangis oleh kakaknya, Keni,  (dan selalu harus mengalah), tapi ia sayang sekali dengan Keni. 
Ketika saya marah dengan Ken, maka Kin yang menyabarkan. Bukan dengan kata"sabar" ( karena ia belum mampu mengucap itu), tapi dengan menaruh jari di bibir saya, menatap dengan memohon, lalu menepuk-nepuk dada saya.
Atau saat Ken menangis karena di marahi Bapaknya (akibat terlalu banyak main game), maka dengan sukarela Kinan menjadi "pemadam kebakaran". Ia akan mendekati kakaknya, mengusap-usap punggung, lalu mencium Keni, seakan berkata "Sabar..ya Kak"

Sewaktu saya, Kinan dan keponakan, jatuh dari motor dan terluka lumayan parah, Kinan yag 99,99% baik-baik saja, di depan pintu ruang perawatan memegangi tangan dokter kuat-kuat, lalu memandang lekat, seakan berkata "Dokter....mohon rawat kakak saya baik-baik". Sampai-sampai sang dokter berkata. "Baiklah..sekarang lepaskan tangan saya ya....biar saya bisa tolong kakak segera".

Selain itu, Kinan juga paling tahu bagaimana membuat saya tersenyum di kala susah. Bila melihat saya menangis , Kinan akan memandangi wajah saya dengan mata mengerjap jenaka, lalu "Ciluk...Ba.."
Tentu saja sedih saya langsung sirna seketika.

Sikap Kinan menyadarkan saya, betapa indahnya berpikir positif, betapa indahnya memaafkan, betapa indahnya kecerdasan emosi.
Tak ada gunanya cerdas intelektual jika tak mampu mengendalikan dan mengelola emosi.

Jadi ...emak..emak...jangan dulu bangga jika anak kita cerdas intelektual. Karena pintar otak tanpa pintar emosi...bagaikan pakai jaket tapi tak pakai celana.

Percayalah.

Monday, 20 July 2015

Yuk Ke Jember Fashion Carnaval 2015


RajaDolan mempersembahkan :


Jember : Semarak Budaya & Keindahan Pantai 29-30 Agustus

Jember Fashion Carnaval : Event Internasional Tahunan yang sangat sayang untuk dilewatkan!!

Pantai Papuma & Payangan : Pantai paling terkenal di Jember.

Kini semuanya dalam satu paket perjalanan yang terjangkau.


Harga Paket : Rp 475.000/pax

Meeting Point : Stasiun Gubeng Sby/Term.Bungurasih Sby (29 Agt Pkl. 06.00)

Kuota Peserta : 12-14 orang


Include :

Transportasi selama tour, Tiket masuk Pantai & Acara JFC,

Penginapan, Dokumentasi, dan Guide


Exclude :

Transportasi dari dan ke kota asal, Makan, dan pengeluaran pribadi selama tour.



SMS/WA : Andri 081346548754

FB : RajaDolan

Email : SangRajaDolan@gmail.com




Wednesday, 15 July 2015

Mini..Mini

Kemarin, tiba di Stasiun Manggarai, sudah pukul 9 malam. Di depan saya tiga wanita dengan pakaian minim berjalan tertatih-tatih berusaha melewati kerikil antar peron. Sungguh saking minimnya saya sampai hampir bisa melihat (maaf) pangkal paha mereka.
Satu diantaranya menggunakan hak sepatu tinggi runcing,  seruncing pensil sehabis diraut. Satu lagi memakai sepatu dengan hak setebal dua  tumpukan batu bata, lalu satu lagi menggunakan sepatu booth menutup separuh betis (jadi wajarlah mereka susah berjalan di atas kerikil).
Gaya yang mencengangkan, spektakuler, cethar membahenol.

Saya mengagumi ketiganya. Kemampuan mereka bersepatu dan berbaju seperti itu tentu membutuhkan kekuatan fisik dan kepercayaan diri tinggi. Saya kira mereka pun telah menguasai ilmu bela diri tingkat Jet Lee (sehingga berani mengenakan pakaian seperti itu ditransportasi umum). Mereka pastinya tak khawatir akan adanya pelecehan atau kekerasan seksual.

Dan siapa bilang berpakaian minim itu mudah? Sulit saudara-saudara.
Resikonya begitu banyak. Selain resiko mental yaitu digunjingkan, dicela, juga dibully, mereka harus kuat fisik yaitu tahan udara dingin, punya ilmu anti masuk angin, anti korengan, anti panu, kadas dan kurap. Semua harus terlihat mulus dan cling.
Butuh biaya yang tak sedikit kan?

Saya pribadi tidak terusik dan tidak mengusik mereka yang berbaju mini.
Karena hidup itu pilihan bukan?

Saya memilih untuk melihat semua dari sisi positif.