Tuesday, 25 November 2014

Dua Manusia Super

Meskipun anak seorang pegawai puskesmas, saya lahir dibantu dukun beranak. Mengerikan bukan?

Dilahirkan di rumah, dalam penerangan lampu petromak, bidan ( sahabat Bapak saya) baru datang setelah saya selesai menangis kencang, di pekan kedua Oktober tahun 1979.

Kala itu ada satu dukun beranak yang sangat termashur di kampung. Namanya Mbah Kismo. Ia memiliki sejarah panjang dalam dunia beranak, membantu kelahiran bayi-bayi kampung dari generasi ke generasi. 
Tapi sama seperti juga dokter-dokter modern, ia bukanlah manusia super yang bisa menyelamatkan semua bayi yang dilahirkan. Buktinya dua kakak saya meninggal dalam penanganannya. Sedangkan saya dan tiga kakak saya lainnya beruntung hidup hingga sekarang.

Namun, kegagalan dalam menyelamatkan kakak-kakak saya tidaklah menjadi catatan buruk dalam hidupnya, karena kala itu, semua masih buta hukum, buta visum. Kami hanya tahu kematian adalah takdir. Jadi semua kematian bayi diterima  ikhlas, sebagai tabungan bagi orang tua kelak di surga.

Dan dengan segala kekurangannya, (menurut cerita Ibu saya), Mbah Kismo ini sangat hebat. Ia bisa menangani kelahiran bayi dalam segala kondisi. Bayi sungsang bisa ia  sempurnakan posisinya hanya melalui sedikit sentuhan dan perintah lisan. Sebab itulah ia begitu disegani dan dihormati. Saya diwajibkan super menghormatinya karena dialah yang berjasa melahirkan saya.

Sampai usia balita usai, saya sangat mengagumi kekuatan magisnya. Dimata saya, dibalik tubuh rentanya, ia terlihat misterius dan sedikit menyeramkan.

Saya tak ingat persis kapan Mbah Kismo meninggal. Yang pasti setelah kepergiannya, sosok magical saya beralih ke seorang kakek tua. Saya memanggilnya Mbah Ngarsin.
Ketika saya rewel tanpa sebab jelas, Ibu akan meminta Mbah Ngarsin datang. 
Hanya dengan melihatnya, saya kembali tenang. Jika kakak saya sakit gigi, hanya dengan mengoleskan sedikit minyak angin, sembuhlah segera. Bagi saya..dialah manusia super. . 

Apalagi ketika ia berhasil menolong menyembuhkan Bapak dari derita sengatan tawon-tawon raksasa.

Hari itu saya ingat persis, ketika Bapak pulang dengan luka sengatan di kepala, wajah, tangan dan punggung.
Mbah Ngarsin lalu datang ke rumah dengan obat "ajaib". Bekas sengatan di punggung dan tangan diobati dengan kotoran kerbau (telepong), lalu luka di kepala diobati dengan dibalur air rendaman bunga bougenvile.
Entah dari mana resep pengobatan ajaib itu. Yang jelas Bapak sembuh dengan cepat (don't try this at home).

Demikianlah dua tokoh magical saya di masa balita.

Dan kini, dalam hati saya bertanya-tanya..siapakah tokoh magis anak-anak saya?

Semoga bukan Ganteng-Ganteng Serigala ...

Monday, 24 November 2014

Cinta Dalam Sepotong Tempe





Selama 35 tahun hidup, saya pikir-pikir dengan seksama, ribuan potong tempe sudah saya makan. Betapa tidak? Saya tumbuh bersama tempe. 
Setiap hari sejak mengenal makanan padat, Ibu saya selalu memasak tempe. Mulai dari di goreng, ditumis, disambal, direbus dengan aneka kuah, dibacem hingga dibuat kering tempe.
Bahkan dimasa SD, saking tidak ada camilan, saya sering memakan tempe mentah. Rasanya kadang sedikit pahit, kadang hambar.

Mungkin karena tetangga adalah pembuat tempe ulung, maka Ibu saya menganggap lauk yang praktis ya tempe. Tinggal pesan, esoknya tempe lezat dan gurih sudah siap masak.
Sehari tiga kali makan..yaaa.. tempe lauknya. Jadilah saya pecinta tempe sejati.

Siapa di balik tempe-tempe lezat di meja kami?
Miskiyah, itu nama si master tempe. Ia janda  beranak satu. Wanita hebat yang sudah di gariskan Tuhan menjadi pembuat tempe terbaik di kampung. Rasa tempenya sangat gurih. Sehingga, kemanapun warga kampung kami merantau, ketika akan kembali ke kota selalu menjadikan tempe Mis sebagai oleh-oleh wajib.
Saking diburunya, Mis tak pernah repot-repot menjual ke pasar. Orang akan berbondong-bondong datang memesan ke rumah. Bahkan ketika tempe masih mentah, pembeli sudah antri memesan. 

Semasa kecil saya sering mengikuti proses bagaimana tempe dibuat. Mulai dari mencuci kedelai, merendam, merebus, menyiapkan tali pengikat, hingga tempe dibungkus...semua mengagumkan. Sering  pula  saya ikut ke kebun dan membantu Mis memetik daun pisang pembungkus tempe, atau ikut membuat  ikatan tempe. Caranya ? Batang  bambu dikupas kulitnya, diambil "daging"nya lalu dikerat halus dan tipis, sehingga terciptalah tali yang lentur tapi kuat. (Tempe di kampung saya dibuat satuan, bukan berbentuk balok atau persegi panjang. Jadi tempe perlu diikat  satu persatu )

Di Jakarta..tak ada rasa tempe yang mampu menandingi rasa tempe Mis. Terpaksalah saya memasak tempe batangan/tempe potong. 
Tapi bukan berarti saya tidak bisa memasak tempe enak. Karena sekarang....berkat Bango (Bumbu Tempe/Tahu Bacem), saya bisa memasak tempe bacem yang sempurna...sama dengan masakan Ibu .
Hanya tinggal tuang dan ungkep lalu goreng. Praktis, tidak sampai 20 menit..bacem coklat sempurna nan gurih sudah tersedia.
Produk baru Bango ini..layak ada di dapur anda Bu.
 
Cobalah...









Arafah : Doa Untuk Brad Pitt ?

Di tempat bertemunya Adam dan Hawa, saya sempat bingung mau berdoa apa. Saya hanya membayangkan bagaimana dua manusia pertama di dunia itu saling bertemu.
Tigaratus tahun saling mencari, mereka disatukan Tuhan (kembali) di sini, dalam kondisi tidak lagi saling mengenali.

Untuk naik ke titik temu Adam-Hawa (Jabal Rahmah), tidaklah mudah. Batu-batu terjal dan banyaknya pedagang juga pengemis, membuat saya harus jeli mencari jalur yang kosong.

Sampai di tugu peringatan,  suasana riuh rendah, ada yang histeris berdoa, ada yang khusuk, ada yang yang asyik berfoto-foto, ada pula yang berjuang berdesakan demi bisa menuliskan nama orang-orang yang mereka cintai di tugu.

Mitosnya, buat  lajang,  jika menuliskan (di tugu) nama orang yang dicintai, maka akan berjodoh. Lalu untuk yang sudah menikah? Cukup menuliskan nama suami dan anak untuk menjadi keluarga sakinah. Padahal menurut ustad, baiknya cukup berdoa saja. Tapi saya pikir tak ada salahnya mencoba.

Saya meraba tas  dan beruntung menemukan bulpoint. Saya tuliskan nama-nama anggota keluarga (suami, Ken dan Kin), kemudian berdoa untuk kakak, dan teman-teman yang belum menemukan jodoh. Terlintas dibenak saya..apabila saya berdoa minta di jodohkan dengan Brad Pitt apakah doa saya akan di kabulkan Tuhan? Hahhahahha




Setelah puas berdoa saya turun.
Sambil melompat dari satu batu ke batu lain, dalam hati, saya masih tetap membayangkan bagaimana Adam dan Hawa bertemu, bagaimana mereka begitu bersabar saling mencari.

Lalu..sepanjang Padang Arafah, sambil pulang menuju hotel (di seberang Masjidil Haram), saya sibuk memikirkan diri saya sendiri...apa yang sudah saya perjuangkan untuk cinta saya?
Apa yang sudah saya perjuangkan untuk Mas Brad Pitt....?
Wkwkkwkwkwkw



Sumber foto Brad Pitt : aimworkout.com

Sunday, 23 November 2014

Potong...Potong Sendiri


Bulan lalu, via Whats Up, saya berhasil kontak dengan satu teman SMA.
Ada pertanyaan darinya yang membuat saya tersenyum kecut.
"Masih suka potong rambut sendiri?"
Kok dia masih ingat ya? 
Sejak kecil hingga SMA saya memang tak mengenal salon. Jika harus potong rambut, ya kakak-kakak saya yang mendadak jadi capster, atau saya potong sendiri.
Beruntung saya memiliki rambut ikal yang mengembang di sana sini. Jadi kalaupun salah potong tidaklah terlihat.

Sejak kecil saya jarang memiliki rambut panjang. Kenapa? Karena rambut selalu kusut masai. Di sisir hanya rapi semenit. Bergerak atau tiupan angin sedikit saja membuat rambut bak sabut kelapa. Tidak heran orang selalu mengira saya baru bangun tidur atau belum mandi.
Solusinya ? Rambut pendek. Akibatnya? Saya sering dipanggil mas.
Pernah di jaman kuliah saya membonceng motor teman (wanita). Pas berhenti di lampu merah ada yang menegur " Mas, apa nggak malu, masa cowok kok membonceng cewek "
Begitulah nasib saya.


Begitu muncul trend wanita cantik adalah yang berambut hitam legam dan lurus jatuh laksana sutera...saya merasa sangat terintimidasi. Berarti saya jauh dari tipe wanita cantik kan?
Sayapun mulai berandai-andai...kapan ya punya rambut sama persis  dengan Anggun C Sasmi?

Aneka shampoo yang konon bisa menaklukan rambut kusut sudah saya coba. Hasilnya......rambut  tetap tampil bergelombang awut awutan. Conditioner apapun tetap membuat rambut tegar dalam kekusutan.
Pernah berpikir untuk rebonding, tapi boro-boro rebonding, berangkat kuliah ada ongkospun sudah bersyukur.

Akhirnya saya pasrah menerima kenyataan ...sambil berharap.....kelak mode akan berubah arah.

Thursday, 20 November 2014

Demi Koran


Setiap kali melihat tumpukan koran, ingatan saya kembali ke masa 20 tahun kebelakang.
Kala itu, di kampung, koran adalah "kemewahan".
Untuk mendapatkan koran, saya harus berjalan kaki 6 km, naik bukit turun bukit, menyeberangi sungai, melewati hutan, barulah saya sampai ke jalan besar. Kemudian saya harus naik bus kecil 20 menit untuk sampai ke kota kabupaten
Nah....di pusat pemerintahan daerah inilah saya bisa membeli koran.

Perjalanan ini saya tempuh setidaknya sebulan sekali ( jika bapak ibu sedang ada rejeki, seminggu sekali. Artinya hanya sebulan atau seminggu sekali saya membaca koran.

Nama toko buku dimana saya membeli koran adalah Aneka. Bagi saya toko buku ini laksana surga. Begitu banyak buku dan alat tulis seakan saya ingin tenggelam di dalamnya.
Sering setelah membeli koran,  saya berlama-lama berdiri di balik etalase untuk memandang iba buku-buku yang tak mampu saya beli.
Tapi kala itu,  satu eksemplar koran saja sudah berkah luar biasa

Sampai di rumah koran saya baca seluruhnya tanpa satu huruf pun terlewat. Bahkan saya sampai hapal nama-nama wartawannya.

Selesai membaca, esok harinya lembar-lembar koran sudah terpotong-potong untuk saya jadikan kliping yang terbagi menjadi beberapa bagian. Kliping olahraga, politik , ekonomi dan kesehatan. Bahkan kolom iklanpun saya potong rapi. Tak satupun huruf terbuang.
Disaat saya belum bisa lagi membeli koran, kliping-kliping ini saya baca ulang

Koran bekas bungkus cabai sering pula menambah koleksi kliping saya. Paling sedih ketika mendapat koran bekas bungkus ikan pindang, karena sobekan koran akan berbau amis dan berminyak, sehingga  harus dijemur untuk menghilangkan bau anyir. Atau paling dongkol ketika sobekan koran pembungkus bawang merah artikelnya terpotong sebagian. 

Jika begini, sobekan koran akan tetap saya simpan. Siapa tahu disana ada kata-kata atau sepotong informasi yang kelak saya butuhkan.

Kini..... puluhan tahun kemudian, ternyata nasib membawa saya ke orang-orang yang dulu saya baca tulisannya. Kami meliput berita yang sama, berbagi informasi dan berteman baik. Sedangkan kliping-kliping saya, sebagian tak kuasa melawan ngengat..sebagian masih tersimpan rapi di lemari.

Cerita di Balik Luka


Teman bermain saya di kala kecil, semuanya laki-laki. Tak heran, dunia saya saat itu penuh petualangan keras. Ada begitu banyak luka di badan saya. Dan setiap luka punya cerita, juga membekas hingga kini.


Yang pertama....luka pitak.
Ujung sabit pernah mampir ke batok kepala. Penyebabnya sepele, ada satu teman yang marah ketika saya larang menebang pohon pisang yang baru tumbuh. Selesai membacok, sabit raib. Baru ditemukan 5 tahun kemudian, terkubur di belakang rumah.


Yang kedua luka di hidung. Penyebabnya lompat tali tapi salah mendarat.  Ketika tali direntangkan sudah setinggi kepala, bukan kaki yang pertama menyentuh tanah, tapi hidung. Mungkin jika saya jatuh di masa kini, saya disarankan operasi .Tapi kala itu, hidung sembuh setelah nyeri berhari-hari. Sekarang, bekas luka sudah lumayan samar tertutup oleh warna kulit saya yang coklat.


Yang ketiga adalah luka di pipi kanan dekat hidung. Orang mengira bekas luka ini adalah jejak jerawat atau sisa cacar, padahal luka ini adalah bekas sabetan dari ujung daun pinang muda yang kami gunakan sebagai pedang dalam permainan perang duel satu lawan satu. 


Lalu yang keempat luka baret di dada. Luka ini berasal dari cakaran kucing liar yang terluka dipukul anak tetangga. Saya berusaha menyelamatkannya, tapi mungkin karena terbiasa diperlakukan kasar, si kucing  menyerang kesiapa saja yang mendekat. Kuku-kuku tajamnya, menimbulkan luka baret cukup dalam.



Yang kelima, bekas luka potong di jari telunjuk kiri. Luka ini saya peroleh ketika berlomba adu cepat memotong labu parang. Sebagian daging diujung telunjuk kiri tertebas parang. Untunglah berbulan - bulan kemudian telunjuk saya kembali utuh sempurna.



Yang keenam, luka di lutut. Saya peroleh ketika  bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Terjatuh, lutut  menghantam keras permukaan lantai semen yang kasar dan berkerikil. Begitu banyak kerikil yang menancap di lutut saya. Butuh waktu berhari-hari untuk mengeluarkan kerikil  satu persatu ( ketika saya tidur).


Yang ke tujuh, bekas luka terkena pecahan gelas di telapak kaki. Luka ini saya peroleh ketika saya sibuk berkeliaran di sungai mencari ikan. Entah siapa yang begitu sadis membuang pecahan gelas ke sungai. Yang pasti luka ini membuat saya susah berjalan berhari-hari.


Tapi dari semua luka-luka diatas...ada luka yang pernah saya tanggung dengan sangat dramatis.
Asyik bermain kejar-kejaran, saya  terpeleset dari undakan tanah dan jatuh dalam posisi memeluk pohon kaktus raksasa milik tetangga. Ratusan duri menancap diseluruh tubuh saya mulai dahi hingga ujung jari kaki. Butuh waktu berminggu-minggu untuk mengeluarkan duri satu persatu. Sebagian menimbulkan infeksi yang membuat saya demam.


Begitulah....saat itu saya menganggap masa kecil akan berlangsung selamanya. Saya tidak memikirkan jika kelak dalam dunia dewasa.....wanita dengan tubuh penuh luka....aihhhhh...jeleknya.

Hahahhahahha

Tuesday, 18 November 2014

Bahagia Itu Sederhana


Pohon pinang tumbuh mengelilingi rumah kami di kampung. Tinggi, langsing, menjulang. Hanya orang ahli yang bisa naik ke ujungnya.

Sebulan sekali ada pembeli buah pinang datang. Ia sudah berumur, tapi  lincah memanjat. Hanya butuh 2-5menit untuk memanen satu pohon.

Buah pinang yang tak terpanen akan matang, lalu jatuh. Saya biarkan buah itu mengering lalu dipukul-pukul hingga kulitnya empuk, kemudian dikupas setengahnya, celupkan ke pewarna makanan berwarna pink atau merah dan taraaaaa...bunga hias pun jadi. 

Aroma bunga pohon pinang juga kesukaan saya. Saat tertiup angin, harumnya akan mampir ke hidung bengkok saya untuk sejenak menghilangkan aroma kampung di badan .

Ada satu doa sederhana yang saya selalu panjatkan untuk pohon-pohon pinang ini.
"Ya Tuhan,,,mohon segera tuakan pelepah daun pohon pinang agar saya bisa bermain dengan riang"

Dan ketika batang pinang mulai menguning lalu jatuh...maka petualangan seru dimulai.
Tubuh kurus ringkih saya  duduk manis di atas pelepah pinang (upih), lalu diseret oleh teman-teman
Semakin ngebut..semakin giranglah saya.
Apalagi ketika upih ditarik meluncur dari undak-undakan tanah yang ada di samping rumah...wuihhhhhh,.....rasanya seperti naik rollercoaster!
Sering saya hilang keseimbangan dan terguling, tapi saya selalu bersemangat untuk naik lagi dan lagi (lebam dan lecet baru berasa ketika permainan berakhir).

Badan saya yang super kurus selalu menguntungkan dalam permainan ini. Saya tak pernah mampu menyeret upih karena badan teman-teman jauh lebih besar. Jadi saya hanya kebagian ditarik bukan menarik. Hahahhaha

Permainan ini akan berakhir ketika upih sudah aus dan robek. Butuh waktu yang lumayan lama bagi kami untuk menunggu pelepah pinang menua.

Itu artinya.....waktunya bagi saya untuk kembali berdoa..."Ya..Tuhan...segerakanlah upih jatuh"

Karena bagi anak kampung seperti saya...bahagia itu...sederhana.





Sumber foto : google