Sunday, 7 December 2014

Gelas-Gelas Pecah


Dipertengahan  tahun 80-an, SD saya nun jauh di kampung terpencil, memiliki tukang kebun. Tapi jika saya amati, dia lebih tepat disebut tukang bel. Karena sehari- hari yang dia kerjakan hanyalah memukul bel tanda masuk, tanda istirahat dan tanda  pulang.
Semua tugas kebersihan, murid-murid yang mengerjakan bergantian, mulai dari membersihkan kelas hingga mencabuti rumput di halaman.
Bahkan kami pula yang harus mencuci gelas minum guru dan mengambil air untuk membuat teh. Kala itu sumur sekolah airnya tak layak minum (karena berkali-kali ditemukan bangkai ular di dalamnya), jadi persediaan air minum harus diambil dari mata air di pinggir hutan bambu. Jaraknya memang tidak jauh dari sekolah, tapi kami harus menuruni undakan tanah yang curam.
Bergantian setiap hari, murid kelas enam melakukan pekerjaan ini, yang seharusnya dilakukan orang dewasa..eh si tukang kebun.

Ada dua ember besar yang kami bawa. Satu untuk membawa gelas kotor untuk dibersihkan, satu untuk mengangkut air .

Perjuangan ke sumber air, baik turun maupun naik sama- sama melelahkan, apalagi ketika hujan turun, kami harus telanjang kaki agar jari kaki kami bisa menghunjam tanah sehingga tidak terpeleset.

Dan saya pernah tak sengaja melakukan kesalahan yang membuat saya takut setengah mati. 
Saat membawa ember gelas, ada dua gelas yang tertumpuk dan tak bisa dilepaskan. 
Saya sungguh panik. Segala cara telah dicoba, mulai dari menarik dengan keras, memasukan air sabun agar licin, menggunakan air panas, juga mencoba dilepas di dalam air.
Hasilnya..nihil.

Takut dimarahi dan disalahkan, saya sembunyikan dua gelas bertumpuk itu di lemari gudang.

Selama seminggu saya gelisah menyimpan rasa bersalah. Teman-teman yang tahu pun, menakut-nakuti saya. Mereka mengatakan...saya harus mengganti.

Tak tahan di bully, akhirnya sambil menangis sedih saya ceritakan tragedi gelas bertumpuk itu ke Ibu. 
Ibupun menyelamatkan saya dengan gagah berani. Beliau menemui tukang kebun, menceritakan kesalahan saya, meminta maaf dan siap mengganti.
Tapi rupanya pihak sekolah memahami dan tak menyalahkan.

Beberapa hari kemudian, saya melihat dua gelas pecah di tempat sampah. Rupanya tukang kebun....eh tukang bel mencoba memisahkan gelas tumpuk itu, namun akhirnya pecah.

Sejak itu, saya tak mau mencuci atau membawa gelas. Saya pilih mengangkut air.

Betapapun itu sangat berat.

Saturday, 6 December 2014

Ketika Cinta Tak Berbalas




Saya sudah lupa siapa nama aslinya, tapi saking begitu mirip dengan Andra ( kini personel Andra and The Back Bone), orang-orang memanggilnya Andra. Kedua orang ini serupa, bagaikan pinang dibelah kapak.
Dimasa kuliah hanya pada Andra-lah saya jatuh cinta.

Sahabat saya diam-diam mencoba menolong dengan menyampaikan rasa suka saya padanya. Tapi ternyata,  bagaikan pungguk merindukan bintang, bagaikan bertepuk sebelah kaki. Pada sahabat saya, Andra mengatakan saya bukan tipenya. Ia menyukai tipe perempuan anggun,lemah lembut.
Aih...kabar itu jelas membuat saya lemah lunglai.

Penampilan saya kala itu bagaikan tukang batu. Celana jeans dekil dan kaos oblong lengan panjang murahan...jauh dari anggun. Tapi kadang memang  saya lemah (lembut) kok..terutama ketika sedang kelaparan (tak punya uang jajan) atau kena tipes.

Yah...sudahlah ..apa daya. Dalam diri saya, tak ada yang bisa membuat Andra jatuh cinta, tak usahlah dipaksakan. Saya tidak bisa merubah diri saya seanggun putri karena saya tak ada model dan juga tak ada modal.
Sayapun tetap melanjutkan hidup sambil sesekali (jika beruntung) memandang Andra dari kejauhan.  Hahahaha

Dan kini 14 tahun berlalu..tipe pria yang saya sukai jauhhhhhh berubah.
Tipe anak band ? Enggak bangetttttt.
Sayapun heran mengingat kisah Andra. Kok bisa ya?
Yang pasti..untuk menemukan orang yang mencintai saya, saya hanya cukup jadi diri sendiri. Tak harus menjadi orang lain untuk menemukan pasangan. Karena menjadi orang lain itu......capek !

Photo source: www.acara-acara.com

Friday, 5 December 2014

Pagi di California


Selamat pagi California.....
Saya sangat menikmati perjalanan pagi dengan bus kota yang nyaman. Jika di Jakarta begitu naik angkutan umum saya langsung tertidur... tidaklah di sini. Rasanya sayang jika pemandangan yang 1000 persen berbeda dari Jakarta saya lewatkan begitu saja.

Bus berhenti untuk menaikan penumpang. Dan...olala...saya terhenyak. Sepertinya saya sangat mengenal seorang pria yang baru saja naik. 
Astagaaaaaaaaa.. dia Mark Harmon, pemeran Leroy Jethro Gibbs di Serial NCIS !!! Bagaimana bisa seorang Mark ditemui di atas bus? Betapa bersahajanya. Betapa langkanya. Saya kira dia hanya bisa ditemui di pesta kelas atas.

Rasanya saya ingin melompat dan berteriak (saking senangnya)

"Hai Gibbs..." Mark menoleh dan tersenyum ramah. Dia tak keberatan saya panggil dengan nama yang seperti sudah menjadi nama kedua baginya. Kamipun berbincang hangat. Ternyata benar apa yang saya baca di www.biography.com. Dia pria yang sangat hangat. Mark-pun berbagi bocoran mengenai serial televisi berikutnya yang akan ia bintangi. Kepada saya, Mark memberikan pengakuan mengejutkan, kalau dia sebenarnya telah bosan memerankan karakter Gibbs, sehingga ia akan memainkan peran antagonis bernama Bing, di serial TV terbaru yang judulnya masih dirahasiakan. 



Wow...sebagai orang yang baru bertemu dan berkenalan dengan Mark, saya merasa tersanjung dan sangat beruntung mendapat info berharga langsung dari sumber pertama

Ya Tuhan...momen seperti ini sangat berharga dan tak bakal saya lupakan seumur hidup.
Mark yang semula hanya saya lihat di televisi sebagai special agent yang super cool, bisa saya ajak berbicara dengan begitu dekat.





Saya makin cinta...
Saya makin cinta...

Bus pun berhenti. Mark pamit turun. Ia memberi saya nomor telepon dan mengajak bertemu kembali.

Setelah tubuh tegap Mark melompat turun dari bus, dengan gemetar saya membuka lipatan kertas kecil yang Gibs..eh.. Mark berikan.

Tapi hanya sedetik saya bisa melihat angka-angka, karena tiba-tiba saya merasakan guncangan yang sangat keras. Bus menabrak tiang lampu lalu lintas. Secarik kertas pemberian Mark..terlepas...terbang. Duniapun terasa gelap.

Lalu saya merasakan ada tangan mungil yang menepuk-nepuk pipi saya...
mata sayapun terbuka...saya melihat si Bungsu Kinan tersenyum jahil seakan berkata.... "Selamat pagi Bu....Selamat datang di dunia nyata"

Kinannnnnnn...
Tolong cari catatan nomor telepon yang Mark berikan tadi

Hahahhaha...
Ternyata ...semua hanya mimpi.

Wkwkwkwkkwkw



Foto-foto : dari berbagai sumber


Thursday, 4 December 2014

Sardines Del Monte Mix Edamame


Bahan :
Sardines Del Monte Saos Tomat 2 kaleng kecil (@155 grm)
Daging giling 1/4 kg
Edamame1 cangkir (kupas)

Bumbu :
Cabai merah 5 buah
Bawang merah 5 butir (iris halus)
Bawang putih 2 siung (iris halus)
Jahe 1cm
Daun bawang 2 batang
Daun jeruk 5 lembar
Daun salam 2 lembar
Lengkuas 1 cm

Cara membuat
Tumis semua bumbu hingga harum. Masukan daging giling dan edamame.
Setelah daging dan edamame matang, masukan sarden, tunggu lima menit, angkat
Sajikan selagi hangat

Untuk 4 orang

Resep ini saya buat karena saya bosan dengan cara memasak sarden yang itu-itu saja.
Semoga bermanfaat

Wednesday, 3 December 2014

Doa Seorang Anak Kuter


"Bu..kapan Keni ke Legoland ?  Teman-teman Keni sudah semua.."
Saya menjawab dengan hati laksana teriris sembilu, sedih mendayu-dayu.
"Sabar..Keni doakan saja Ibu ada rejeki banyak, atau kita dapat hadiah menang undian. Rejeki kan bisa datang dari mana saja Ken"
"Kalau mobil..kapan kita punya Bu...apa nanti kita dapat hadiah mobil juga. Biar kita tidak kehujanan lagi"
Jleb..jleb..rasanya seperti ada yang menusuk ulu hati. Rasanya saya ingin menangis tersedu-sedu.
"Ya..Keni doakan saja, pokoknya kita usaha dan berdoa, meminta pada Alloh. Pasti Alloh kabulkan"
Dan pertanyaan Ken tak berhenti begitu saja. Di lain waktu, dia akan bertanya....kapan ke Bali kapan naik pesawat berjam-jam, kapan naik kereta uap, Kapan ke Hongkong?
Jawaban saya selalu hampir serupa...sabar..sabar..doa..doa dan berusaha.
Sampai kemudian, Keni menunjukan  nilai ulangan. Angkanya tidaklah buruk. Lumayan untuk anak yang susah diajak belajar.




Tapi...di lembar mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, saya terlongo dengan apa yang saya baca.
Begini soalnya :
Kita memohon kepada Allah agar mendapat...
a. Hadiah
b. Ilmu yang bermanfaat
c. Mainan

Apa jawaban Keni?
Keni menjawab.. a. hadiah.

Ampunnnnn....
Saya tertawa geli, haru dan nelangsa. 
"Kenapa Keni pilih A?"
Keni menjawab dengan santai..
"Loh..Keni kan ingin ke Legoland. Jadi ya kita doa agar dapat hadiah kesana 
Bu...nggak salah kan..boleh kan ? Kan Ibu menyuruh Keni berdoa agar dapat hadiah"

Saya tak mampu berkata-kata...hanya mengangguk sembari menelan ludah yang terasa getir.

Ini soalnya yang salah apa Keni yang salah?
Untuk anak seusia Ken apa makna "ilmu yang bermanfaat"? Dapat hadiah atau mainan, menurut saya (yang pernah menjadi anak-anak) adalah jawaban yang "nyata" dan tidak salah. Kita mau berdoa kepada Tuhan..tidaklah bisa di dikte..kita bisa bebas berdoa alias meminta apa saja. Artinya...semua jawaban di soal itu adalah benar.

Adakah yang setuju dengan saya?



Notes : Kuter =Kuis Hunter







Tuesday, 2 December 2014

Kaburnya.. Sandra

Dimasa kuliah, saya memiliki teman yang sangat polos. Namanya Sandra. Saking polosnya, kadang saya berpikir bagaimana ia bisa bertahan di dunia yang keras dan kejam ini?

Tapi kemudian Sandra membuat kejutan, dengan mengambil langkah berani luar biasa yang membuat ia masuk televisi nasional !

Begini ceritanya :
Jelang ujian semester, mendadak Sandra menghilang. Sebagai sahabat terdekat, kamipun dipanggil dosen untuk dimintai keterangan. Rupanya orang tua Sandra menghubungi pihak kampus dan memberi kabar jika teman polos kami itu hilang.
Waduhhh...beragam bayangan buruk bermunculan. Apa yang terjadi dengan Sandra? Apakah diculik? Kabur dengan pacar? Ah..setahu.kami Sandra belum punya pacar.
Segera kami bahu membahu mencari kesana kemari. 
Hasilnya...nihil. 
Akhirnya kami memutuskan meminta bantuan radio dan  acara televisi kriminal untuk membantu menyiarkan kehilangan ini.
Maka kamipun menyiapkan data diri Sandra plus fotonya, kemudian mendatangi stasiun televisi swasta dibilangan Gatot Subroto ( saat ini sudah pindah ke Senayan City). 
Bertemulah kami dengan produser programnya. Alamakkkk..ternyata harus antri, karena banyak pula laporan kehilangan yang sudah masuk ke mereka, sehingga berita Sandra hilang tidaklah bisa tayang segera.
Lalu kamipun memohon-mohon....meminta kabar Sandra hilang di dahulukan.
Rupanya produser iba, foto polos Sandra muncul di televisi sehari kemudian di segmen orang hilang. Kamipun senang bukan kepalang dan berharap kabar baik segera datang.

Ternyata...berhasillll..berhasilll..berhasil.
Ada laporan keberadaan Sandra dari salah satu suster di gereja di Liwa Lampung.....
Ampunnnn..jauhnya.
Dan kisah bagaimana Si polos Sandra bisa sampai di Liwa membuat mulut saya ternganga.
Ternyata dia naik bus sampai Tanjung Priok, lalu menumpang truk menyeberang kapal. Setelah sampai Bakauheni iapun kembali menumpang  dari satu truk ke truk yang lain. 
Apa jadinya jika dia menumpang di truk yang salah...yang berisi orang jahat?
Lalu bagaimana ia tidur? Ia tidur digereja atau menumpang di asrama suster. Maka tiap hari teruslah ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain..dari satu gereja ke gereja lain hingga ke Liwa.
Amazing..amazing..manusia sepolos Sandra bisa memiliki keberanian yang saya sendiri belum tentu bisa miliki.

Lalu apa sebenarnya penyebab Sandra kabur? Di jodohkan? Bukan. Putus cinta? Bukaan
Ternyata oh ternyata...karena ia cemburu. Ia cemburu karena kedua orang tuanya mengadopsi bayi laki-laki.
Rupanya belasan tahun menjadi anak tunggal, Sandra khawatir, adik tirinya akan merampas kasih sayang yang selama ini ia nikmati sendiri.
Olala....ternyata..cemburulah yang membawa Sandra ke Liwa.

Air Terjunpun Mati

Jika di Eropa beberapa pemain Sky Ice harus menghindari runtuhan ribuan kubik es, saya pernah mengalami hal mirip...bedanya saya dikejar oleh ratusan kubik kayu gelondongan...!!

Waktu itu saya dan beberapa teman SMA kemping di hutan pinus di kampung halaman kami, Banjarnegara Jawa Tengah
Saking asyiknya mengikuti Elang yang terbang memukau, saya dan dua teman tersesat.
Karena hari akan segera gelap, setelah mengintip kompas, kami memutuskan memotong jalan agar segera kembali ke tenda. Jalan pintasnya....menuruni bukit hampir vertikal !

Berendengan kamipun perlahan menapaki bongkah demi bongkah tanah yang gundul dan rapuh. Bahkan tak ada lagi sisa akar yang bisa kami jadikan pegangan. Duh...kami harus turun lebih dari 100meter.
Lutut saya terasa nyeri menahan takut (ketinggian) dan beban tubuh. 
Tiba-tiba kami mendengar suara gemuruh dan tanah bergetar. Semula saya mengira ada gempa. Dan ketika kami mendongak, astagaaaaa...ada belasan gelondong kayu besar berlomba mengarah ke kami. Kami berteriak saling mengingatkan " Cepat...lari..lari !"
Tak lagi kami perhatikan apapun yang kami pijak.Saat itu yang ada dalam pikiran saya hanya satu "Saya tak mau mati sekarang!"

Dengan ajaib kami selamat. Sampai di dasar bukit, saya merasakan tubuh melayang ringan. Saya telah memaksa tubuh (untuk berlari) sampai batas kemampuan.
Sementara di belakang kami, susul menyusul kayu gelondongan berdebam mendarat.

Di atas bukit terlihat beberapa orang sudah siap kembali menurunkan kayu. Kami mengepalkan tangan, marah. Tapi mereka terlihat tak peduli. Apakah mereka berniat membunuh kami? Apa alasannya? Entahlah.

Dengan sisa tenaga, kamipun bergegas menjauh. Sambil mengatur nafas dan menghilangkan sisa panik, kami berjalan berangkulan.
Tanpa sadar, kami menangis lega.

Lima menit dari peristiwa mematikan itu, kami tiba di sisi bukit yang lain. Ulala.....di depan kami terhampar pemandangan menakjubkan....air terjun yang telah mati!
Tingginya lebih dari 100 meter. Jejak goresan air di dinding tebing membentuk warna yang berbeda dibanding sisi tebing yang lain, seperti garis tegap terang.
Kami bayangkan seandainya masih ada air berjatuhan di sana....betapa indahnya. Sayang sekali air terjun ini terhenti sebelum sempat orang banyak ketahui.
Kenapa?
Penebangan pohon yang membabi buta pastilah penyebab air hilang. Karena bukit-bukit yang memagari air terjun telah bersih dari pepohonan.
Betapa parahnya penebangan di sini. Apakah resmi? Apakah liar?

Beberapa belas tahun kemudian, satu dari beberapa bukit yang kami singgahi itu, runtuh menimpa satu desa dan memakan banyak korban jiwa. 
Salah siapa?
Siapa salah?

Elang yang waktu itu kami lihat pasti tahu jawabnya.