Friday, 19 December 2014

Mendadak.... Tentara


Terpesona  dengan film G.I Jane, jelang lulus SMA, saya pernah berniat menjadi tentara. Bukan alasan patriotik untuk membela negara, tapi murni mimpi memiliki fisik dan mental seperti si Mbak Demi Moore.
Persiapan pun di lakukan. Subuh bangun, lari keliling alun-alun Banjarnegara 4 putaran. Push up sit up, setidaknya 500 kali sehari. 
Syarat administrasi saya penuhi, surat ini, itu, anu..semua lengkap.
Dan dengan diantar Bapak, berangkatlah saya ke Purwokerto untuk mencari info pendaftaran. 
Tapi...ternyata oh ternyata, sampai di kantor apa ya (sungguh saya lupa) pendaftaran telah tutup. Huaaaaaaaaaaa..ampunnnn.

Betapa menumpuknya kecewa diwajah Bapak. Rasa bangga anaknya akan menjadi wanita Angkatan Darat musnah sudah. 
Saya pun kecewa, tapi tetap berusaha menghibur.
"Tak apa Pak...mungkin bukan jalan saya kesana".
Dan sepanjang dua jam perjalanan pulang, Bapak tak berbicara sepatah katapun. 
Sementara saya, mencoba melihat dari sisi baiknya, setidaknya, saya sudah memiliki badan kuat dan sehat, lengan sekencang Angelina Jolie dan perut serata milik Jennifer Lopez.

Lalu seiring waktu, ketertarikan saya pada dunia militer pun lenyap. Tak lagi saya mengagumi para tentara. Biasa saja.
Sedangkan umur perut rata saya pun berakhir ketika melahirkan anak kedua.

Ah..saya pribadi tak keberatan perut tak lagi serata jalan raya. 
Mengutip kalimat Mbak Alyssa Milano...bahwa tubuh wanita tidak diciptakan untuk berbikini, tapi diciptakan untuk kenyamanan bayi. 

Siap....Mba...!




Sumber foto : Wikipedia






Thursday, 18 December 2014

Bobot Oh Bobot

Ketika masih sebagai  pekerja lapangan, bobot badan saya tak pernah melewati angka 42 kg.
Dengan tinggi 160cm, saya terlihat seperti tulang berjalan.

Tapi setelah full bekerja di kantor, bobot saya naik 10 kg ke batas wajar, berhenti diangka 52 kilogram.
Meski belum dalam kategori kegemukan,  tetap saja, saya terpaksa mempensiunkan celana panjang lama. Si Ken pun sudah berpesan.."Jangan gemuk Bu..nanti Ibu seperti karung beras". Wow...perumpamaan yang mengerikan bukan?

Hamil anak kedua, bobot saya menembus level 66 kg. Tapi begitu melahirkan, dalam waktu dua minggu, si bobot bisa turun ke 54 kg.

Nah..diangka 54 inilah, bobot saya seakan mati. Sepuluh bulan saya berusaha kembali (setidaknya ke level ideal 52), tetapi jarum timbangan tak pernah bergeser dari angka itu.
Usahanya sih tidak keras. Misalnya, hari ini membatasi jumlah makan, besoknya..kalap. hahhaha.

Sayapun termasuk golongan manusia tak pernah berolahraga. Kemana-mana malas jalan kaki, naik angkutan umum. Bersepedapun saya tak bisa (astaga).

Di kantor, kegiatan lebih banyak duduk di depan komputer. Berjalan hanya saya lakukan belasan langkah, ke ruang rapat, meja produser, meja bos sesekali, ke ruang makan ( ini paling sering) dan ke toilet.
Selain itu, karena bekerja shift sore,sampai rumah lewat tengah malam. Tidur hanya 2-4 jam.
Hidup saya jauhhhh dari gaya hidup sehat bukan?

Jadi...tidak pernah berolahraga, kurang tidur, banyak makan...adalah bom waktu menunggu penyakit berdatangan.

Eits....saya tidak boleh sakit. Jika saya ambruk anak-anak saya makan apa?
Saya harus segera merubah pola hidup. Sakit itu mahal.

Pertama..saya harus tidur cukup. Ini sulit dilaksanakan, tapi bisa saya akali dengan tidur sebisa mungkin, dimanapun kapanpun.
Dan bagi saya, tidur dalam posisi berdiri di kereta adalah biasa. Jadi jika nanti anda melihat ada emak-emak tertidur sembarangan, disegala tempat, mungkin itu saya.

Yang kedua, olahraga.
Menurut Si Anlene, asupan kalsium yang cukup, akan maksimal jika diimbangi dengan gerak (minimal jalan kaki 1000 langkah). Maka sayapun bertekad sebanyak mungkin berjalan kaki.

Dari rumah ke stasiun kereta, semula naik angkot, sekarang saya berjalan kaki. Lima menit sampai, hemat empat ribu perak. Dalam sebulan, setidaknya saya hemat 20x4000. Lumayankan?
Sedangkan, dari depan kawasan industri, yang biasanya saya tempuh dengan ojek 7ribu rupiah, saya lakoni jalan kaki...ternyata tak sampai 10 menit.
Hmmm...dihitung dari uang yang terkumpul jika saya ayun langkah, adalah 7000x2x20 hari dalam sebulan...240.000. Setahun? Angkanya menggiurkan.

Jadi keputusan saya untuk merubah gaya hidup, tidak hanya baik untuk estetika..tapi juga hemat dikantong.

Tu wa ga pat..jalan...jalan
Tu wa ga pat..jalan...jalan

Tuesday, 16 December 2014

Taoge Mix Tahu

Taoge Mix Tahu

Menu ini kesukaan Bapaknya Ken dan Kin. Murah meriah, praktis, enak bergizi.

Bahan :
Taoge satu mangkok besar
Tahu putih 4 buah, potong dadu
Cabai merah 6 buah, iris halus
Bawang merah 8 butir,iris halus
Bawang putih 4 butir,iris halus
Teri medan 4 sendok makan
Minyak goreng 4 sendok makan

Cara membuat :
Tumis bawang merah, bawang putih, daun bawang dan cabai, hingga harum.
Masukan teri dan tahu, aduk hingga matang.
Tambahkan taoge. Aduk hingga taoge layu.
Angkat.
Sajikan selagi hangat.

Untuk 4 orang
Lama memasak 15 menit.

Catatan :
Jika teri sudah asin, tak perlu tambahan garam.
Teri bisa diganti dengan udang, atau bisa pula ditambahkan jamur.

Selamat mencoba.



Mie Keju

Mie Keju

Keni suka sekali mie instant. Nggak sehat kan jika sering-sering? Jadi saya mencari akal bagaimana membuat mie goreng sehat.
Begini hasilnya :

Bahan :
Mie Telur 1 bungkus
Telur 1 butir
Bawang merah 8 butir, iris halus
Bawang putih 4 butir, iris halus
Daun bawang 1 batang
Daun  seledri 1 batang
Keju parut 1 mangkuk sedang
Kecap manis 2 sdm
Saus Tiram 1 sdm
Minyak goreng 6 sdm
Garam sesuai selera

Cara membuat :
Rebus mie 3 menit. Angkat, tiriskan. Tambahkan kecap, suas tiram dan 2 sdm minyak. Aduk hingga merata. Sisihkan.
Tumis semua bumbu dengan minyak yang tersisa. Masukan mie, dan keju. Aduk hingga menyatu.
Angkat.

Untuk 4 orang
Lama memasak 20 menit





Kampung-Kampungan


Wahana wisata dengan konsep kampung, berjamur dimana-mana. 
Tinggal pilih sesuai kantong dan lokasi. Sudah seperti wajib pula bagi anak-anak sekolah datang ke sini dengan judul "field trip".
Namanya juga beragam, Kampung A, B, C, dll.
"Menu" yang disajikan juga hampir sama, menanam dan memanen padi, menangkap ikan, dan rupa-rupa permainan tradisional.
Untuk anak kota, merasakan suasana kampung,bisa jadi menyenangkan, sebagai selingan dari kunjungan rutin ke mall dan restoran modern.

Sedikit saya merenung. Membandingkan masa kecil saya dan Ken.
Dulu saya menanam padi dan memotong padi, bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk mendapatkan satu dua periuk beras. Menangkap ikan  juga bukan untuk berwisata, tapi agar bisa dijual ke pasar. Kedua kegiatan itu jauh dari menyenangkan. Lelah, dengan hasil yang tak sebanding.
Dan kini, anak kota harus membayar untuk bisa merasakannya.

Kemarin ketika Ken pulang dari salah satu kampung wisata A di kawasan Bogor, sayapun iseng bertanya
"Ken..asyik nggak kampungnya?"
Sambil makan ikan yang ia tangkap sendiri di kolam lumpur, Ken menggeleng?
"Enakan di kampung Mbah, Bu...Yuk pulang kampung saja sekarang.Sekarang juga".

Saya tersenyum sendiri.

Bagaimanapun kampung yang sesungguhnya lebih menyenangkan dibanding kampung gadungan.



Monday, 15 December 2014

Oncom Leunca

Oncom saya kenal di Jakarta.
Pertama mencoba, saya tak suka karena rasanya yang aneh. 
Tapi, setelah iseng masak sendiri dengan dicampur leunca dan daun kemangi yang banyak..ternyata enakkkk.
Yuk..masak bareng saya.

Bahan :
Oncom1 papan lebar
Leunca 1mangkok
Daun bawang 2 batang, iris halus
Daun kemangi 2 ikat, buang batangnya
Bawang putih 4 butir, iris tipis
Bawang merah 8 butir, iris tipis
Garam secukupnya
Minyak goreng 60ml

Cara membuat :
Hancurkan omcom, sisihkan.
Panaskan minyak, masukan semua bumbu kecuali daun bawang.
Tumis hingga harum. Masukan oncom, masak hingga kecoklatan lalu masukan leunca, daun bawang dan daun kemangi. Angkat

Untuk 4 orang
Durasi : 15 menit



Smashed Tempe


Smashed Tempe

Pagi-pagi buka kulkas...hanya menemukan tempe. Mau ke tukang sayur,  tak mungkin bawa dua anak dalam kondisi gerimis. Saya mikir, bagaimana caranya tempe ini akan disukai anak-anak?
Munculah ide membuat Smashed Tempe..

Berikut bahanya :
2 papan tempe
1 sendok makan mentega
4 sendok makan minyak goreng
1 mangkuk kecil keju parut
4 sendok makan mayones
4 siung bawang putih iris tipis
8 siung bawang merah iris tipis
1 sdm saus tiram
1sdm kecap manis
Garam secukupnya

Cara membuat :
Hancurkan tempe. Sisihkan
Panaskan mentega dan minyak goreng
Masukan bawang merah dan putih hingga harum. Tambahkan mayones dan keju parut. Lalu masukan tempe, kecap, saus tiram dan garam.
Masak hingga tempe kuning kecoklatan. Angkat

Untuk 4 orang
Waktu masak 20 menit

Catatan : Jika anda penyuka pedas, bisa ditambahkan cabai yang di giling halus.

Selamat mencoba.