Thursday, 15 January 2015

Juara Pancho


Belum lama ini saya kembali bisa terhubung dengan teman SMA saya di kelas tiga.
Ternyata  alasan ia masih mengingat saya karena saya mahir pancho.

Walahhh..saya sendiri malah sudah lupa..dan berterimakasih sudah diingatkan akan kenangan dunia " perpanchoan" itu.


Kala itu di jam istirahat kita memang kekurangan hiburan. Ngerumpi juga tidak ada bahan. Infotaintmen belum marak sehingga gosip artis belum lazim jadi bahasan di waktu senggang. Apalagi ngerumpi ngomong politik nyumpahin pemerintah, bisa-bisa ditangkap hansip. 


Nah..entah dari siapa idenya,  munculah kompetisi pancho. Awalnya perempuan lawan perempuan, tapi berhubung lawan saya habis, akhirnya munculah tantangan melawan pe-pancho laki-laki.
Hahahha..ternyata kaum adam pemilik testosteron pun bisa saya kalahkan...makin serulah pertandingan.
Teman-teman perempuan tentu menjadi pendukung hebat bagi saya..karena ini menyangkut harga diri dan dominasi. Kemenangan saya atas laki -laki ini tentulah meningkatkan kebanggan kami perempuan yang tidak lah melulu dianggap lemah.





Lalu, bagaimana saja bisa menang?  Apa rahasianya? 
Kala itu saya terobsesi dengan Xena dari serial Xena Warrior Princess yang ditayangkan RCTI. Saya bermimpi memiliki lengan sekuat Mba Lucy Lawless. Jadi sayapun rajin push up. Bonusnya ..saya memiliki lengan kuat. Mungkin karena itulah lawan tidak mudah menjatuhkan saya dibawah  15 detik.

Tapi ah..itu masa lalu. Kini saya adalah pemegang rekor RT/RW sebagai  manusia yang  tak pernah berolahraga. 
Sehingga bisa dipastikan kekuatan saya itu tinggalah kenangan. 
Saya yakin, akan tumbang sebelum 3 detik.

Lagipula..sekarang mana ada ngerumpi diisi dengan adu pancho? 

Mending bergosip kan?


Sumber foto : www.vibe.com

Monday, 12 January 2015

Cerita Mie dan Biskuit


Pertengahan tahun 1980-an, mie instant adalah makanan mewah di kampung saya. Hanya orang-orang berada yang mampu membeli dengan mudah.

Kami sekeluarga sangat jarang menyantap mie cantik ini. Jikapun ada, satu bungkus, dimakan beramai-ramai (dengan kuah yang banyak), sehingga bisa menjadi santapan lezat bercampur nasi.


Dimata saya yang masih anak-anak, bungkus mie instant sangat menarik. Maklumlah, saya jarang melihat makanan kemasan. Sehingga jika Ibu memasak mie, kemasannya akan saya simpan dengan hati-hati laksana menyimpan emas batangan.
Bahkan demi mendapatkan bungkus mie lebih banyak, saya rela ke memungutinya di tempat sampah RT sebelah.

Deretan gambar petunjuk memasak di belakang kemasanlah yang saya incar, saya gunting dengan rapi lalu saya simpan dalam kemasan plastik.
Jika sudah terkumpul banyak, sesekali saya membuka "harta karun" saya, menjejerkan dengan runut, dan saya pandangi gambar mie dalam mangkuk, sambil membayangkan aromanya. Hmmmmmm.

Kebiasaan saya memunguti kemasan mie di tempat sampah tetangga, tentu membuat Ibu saya murka. Tapi, diam-diam, saya tetap melakukannya.

Dan tempat sampah yang paling saya sukai, ada di belakang rumah Mbah Carik, orang terkaya di kampung. Di sini tak hanya kemasan mie melimpah tapi juga kemasan biskuit.

Senang sekali melihat kemasan biskuit yang mereka buang, karena wadah plastik didalamnya (bentuknya aneka rupa sesuai bentuk biskuitnya, bulat, segipanjang dan segitiga) sungguh sedap dipandang. Saya tak berani membayangkan kelezatan biskuit-biskuitnya, karena bagi saya kala itu mustahil mencicipi.
Sampah kemasan biskuit saya bawa pulang sebagai wadah indah ketika bermain pasar-pasaran.


Kini...puluhan tahun berlalu. Kemasan mie dan biskuit tak lagi saya kagumi. Mie instant dan biskuitpun tak lagi jadi barang mewah, tapi justru penyelamat jutaan perut orang-orang sederhana.


Sudah makan mie dan biskuit hari ini?




Sumber foto : Wikipedia

Sunday, 11 January 2015

Jennifer vs Jeniper

Mendengar  kata Jeniper, ingatan saya langsung tersangkut pada Mba Jennip(f)er Lopez, Mba Jennip(f)er Anniston dan juga tante Jennip(f)er Dunn yang sempat heboh dipanggil KPK.

Eng ing eng... ternyata saya salah..Jeniper yang satu ini bukan artis seksi, tapi sebuah botol ukuran 140 ml yang  berisi jeruk nipis peras...disingkat jeniper. 

Hahahahhaah

Si Jeniper ini saya dapat dari rekan kantor yang baru saja pulang kampung ke Kuningan Jawa Barat.

Intip komposisinya  terdiri Sari Buah Asli, Gula Pasir, Air dan Natrium Benzoat (NB), di produksi oleh  CV Mustika Flamboyant.

Dalam kemasan tercantum pula manfaat jeruk nipis antara lain :
Menangkal Radika Bebas (Anti Oksidant)
Mengurangi kolesterol
Mencegah dan mengobati Sariawan.
Menetralisir nikotin
Melarutkan lemak dalam tubuh
Menghaluskan kulit
Menjaga stamina 
Menyegarkan tubuh

Karena tertulis dingin lebih nikmat, Jeniperpun saya ademkan di kulkas selama beberapa jam.

Apakah Jeniper akan sesegar perasan Jeruk Nipis yang berasal dari pohon di samping kolam kami di kampung?





Tibalah waktu mencicipi...
Hmmmmm....ternyata... segar. 
Jeruk nipisnya....berasaaaaa banget.

Jadi ...tak ada salahnya jika mampir ke Kuningan, pulangnya menenteng Jeniper, untuk menemani, Papais, Peuyeum Ketan, Tahu Lamping, Rarawuan juga Kue Satu

Atau Minum Jeniper  sambil dengerin lagu Mba Jenniper  (eh...Jennifer) Lopez  juga boleh..

Mantap pisan  euy......















Rindu Sampai Mati

Ketika Pak Lik  menangkap seekor burung hantu, saya protes. Bahkan sempat berniat melepaskan diam-diam, tapi selalu gagal.  
Kenapa tidak dibiarkan saja disarangnya yang nyaman? Kenapa harus repot mencarikan umpan?  Toh di alam dia lebih jago mencari makan dibanding kita manusia kan?

Duh...membayangkan wajah burung bermuka seram itu murung, saya tidak bisa tidur.

Atas nama perikehewanan, tak tega melihat Si Hantu  kelaparan, saya terima permintaan Pak Lik untuk mencarikan pakan. Sehingga, sepulang sekolah, berkeliaranlah saya di sawah, menangkap katak kecil  juga belalang dan jangkrik.

Mendapatkan katak lebih mudah di musim tanam, dimana genangan air menjadi tempat katak mungil berpesta pora. Sedangkan mendapatkan belalang lebih gampang disetengah musim jelang panen ketika batang dan daun padi masih menghijau.
Sementara, untuk mendapatkan si jangkrik bisa musim apa saja namun butuh kesabaran lebih,
karena harus menunggu jangkrik mengerik, sehingga sarangnya mudah ditemukan.
Ibu selalu mengingatkan jangan sampai saya salah menggali lubang ular.

Jika umpan sedang melimpah, saya senang- senang saja. Tapi ketika katak dan serangga malang itu sulit di dapat, saya ngomel dalam hati. Kenapa harus saya yang repot ? Kenapa tidak di lepas saja?




Tak sampai enam bulan...Si Hantu mati. 
Saya menangis sedih. Apakah saya salah memberi makan?
Tidak...saya memberinya belalang dan katak seperti hari-hari sebelumnya.

Saya mengira..Si Hantu kesepian...dia rindu terbang menembus malam, rindu berburu belalang, dan amat sangat rindu dengan sarangnya yang nyaman.

Rindu teramat sangat, mengantarnya pada kematian.

Sejak saat itu, saya benci melihat orang yang memeliharan burung dalam sangkar.


Wednesday, 7 January 2015

Gagal Ke Jepang


Saat itu kuliah  semester satu, teman mengajak saya mendaftar pertukaran pelajar yang digawangi Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta.
Maklum, anak kampung, saya sempat minder. Paling hanya akan jadi penggembira. Tak mungkin saya mampu bersaing dengan anak kota, dengan segala fasilitas pendidikan mewahnya. Lah wong sekolah dasar saja saya nyeker alias tak bersepatu..kok ya berani mimpi belajar di negeri orang.
Tapi teman terus meyakinkan  untuk tak ada salahnya mencoba.

Setengah hati dan minus percaya diri, saya memilih Jepang sebagai tujuan. 

Hari pertama test diikuti 300 peserta, berlokasi di Gedung Pramuka, Menteng Jakarta Pusat. Aih...saya nyusruk di pojokan. Ngeri melihat penampilan anak-anak kota yang terlihat cerdas tangkas dan trengginas.

Sebelum soal diedarkan, ada sesi tanya jawab. Hati saya makin menciut manakala seluruh peserta yang bertanya menggunakan Bahasa Inggris yang amboiii....indahnya di telinga. Bagaimana saya menandingi mereka?
Tapi berhubung apa yang mereka tanyakan tak mewakili penasaran saya, maka saya beranikan diri bertanya. "Tes manakah yang paling menentukan lolos? Apakah tes tertulis, sesi wawancara atau sesi pentas seni?"
Hmmmm....semua mata memandang saya heran, seakan berkata...."Eh..ada tampang kampung, ngomong pakai bahasa Indonesia pula "
Setelah mendapat jawaban, saya mengkerut lagi di pojokan.

Eng ing eng
Soal ujian pun di bagikan..silang, silang, silang...hanya pengetahuan umum dan Bahasa Inggris.
Dengan tanpa beban saya menjawab, karena 100 % sudah yakin gagal.


Setelah ujian, saya dan dua sahabat saya, menunggu pengumuman  tahap pertama dengan perut kelaparan. Maklum..uang di kantong tak cukup untuk jajan di kawasan Menteng hahahha.

Jam 17.00 WIB, pengumuman di tempel. Hanya ada 15 nomor peserta. Amboiiii..rasanya badan seperti melayang terbang ke atas pohon Angsana..ada nomor saya disana !

Dibawahnya ada  tulisan, yang berisi keterangan bahwan tes berikutnya esok yaitu wawancara dan lusa untuk tes seni. Wawancara  wajib  menggunakan baju putih.

Weladalah....baju putih yang saya pakai hari ini sudah berwarna coklat terpapar debu dari metromini yang melintas. Bagaimana besok?

Di jalan pulang, bukannya senang..(sambil berdesakan diangkot) saya malah bingung. Baju putih siapa yang bisa saya pinjam?  Seni macam apa yang saya tampilkan nanti?

Saya mulai melihat diri dengan seksama. 
Kemampuan seni apa yang bisa saya pamerkan? Tak satupun alat musik yang bisa saya mainkan. Pengalaman bermusik selama ini hanya sekedar menabuh kentongan di malam takbiran. 

Menyanyi? Suara saya saat menyanyi sungguh mengerikan untuk di dengar, bahkan oleh telinga saya sendiri.

Menari? Ya..harusnya saya bisa menari.Tapi terakhir kali saya menari adalah di malam seni perkemahan pramuka ketika SD kelas 4. Itupun bukan tarian tradisional tapi Tarian Kreasi diiringi lagu Getuk Asale Soko Telo (meski tarian saya kala itu dapat piala juara satu, tapi tarian itu tak layak ditampilkan di dunia internasional).

Melukis? Saya hanya bisa melukis gambar pemandangan dengan dua gunung bersisihan dilengkapi jalan plus  sawah di bawahnya. Ini adalah gambar standar anak SD yang baru belajar melukis.

Saya sungguh gundah gulana. Bagaimana saya bisa melewati besok? Malah akan lebih melegakan kalau tidak lolos 15 besar, bisa tidur nyenyak sambil mimpi jalan-jalan ke Jepang.




Sampai kost, saya segera mencuci baju yang baru dipakai. Berharap angin kencang berbaik hari mengeringkan sehingga subuh bisa disetrika. Hanya itu pilihan saya.

Selesai mencuci, munculah  pemikiran bahwa satu-satu yang saya bisa adalah membuat puisi. 
Saya memutuskan akan tampil membaca puisi. Tak ada pilihan lain, walau saya tahu, puisi saya pun tak akan layak diperdengar di dunia internasional.


Hari kedua test pun tiba...wawancara berlangsung dua kali dalam bahasa Inggris, yaitu dengan senior eks pertukaran pelajar, lalu dengan salah satu pegawai pemda. Pertanyaannya sederhana, apa tujuan saya ikut pertukaran pelajar. Saya jawablah dengan cas cis cus..menggunakan Bahasa Inggris yang saya pelajari dari film-film box office di RCTI. Pewawancara kedua juga mengajukan pertanyaannya simpel.."Apa yang akan saya perkenalkan ke dunia luar tentang Indonesia? Bla..bla bla..cas cis cus..ngecaplah saya. ....berbusa-busa..

Wawancaranya sih tidak mengerikan..yang mengerikan adalah ketika menunggu giliran. Saya bagaikan itik buruk rupa ngedeprok di depan angsa-angsa.


Tes hari ketiga. Pentas Seni
Sungguh menakutkan. Semua datang dengan kostum lengkap. Diantar oleh keluarga mereka dengan gegap gempita. Ada yang malah dari rumah sudah mengenakan kostum Srikandi lengkap dengan anak panah dan busurnya. Astaga....aduh biyung.....tolong anakmu.

Dengan hanya diantar sahabat saya, kami mojok, memperhatikan peserta lain, tengak tengok seperti kucing kehilangan induk. Saya ingin pulang saja, saya pasti kalah.
Tapi teman saya dengan santai berkata "Jangan terintimidasi. Coba perhatikan....dihari pertama kita test, yang berpenampilan meyakinkan, ngomong  Inggris bak Margaret Tacher, mereka tertendang di babak pertama. Kamu lebih baik dari mereka, karena kamu lolos ke babak ini. Tenang saja"

Jujur kalimat sahabat saya sama sekali tidak menghibur dan tidak menenangkan

Di belakang panggung, saya melihat sebagian peserta sedang berlatih. Salah satunya berkata.."Ini tahun ke tiga saya lolos kebabak final. Dan selalu  gagal di babak seni. Saya sampai kursus menari. Saya tidak mau gagal lagi " 
Oh...saya kagum..betapa hebatnya dia. Diam-diam saya berdoa semoga dia berhasil. 
Saya pandangi naskah puisi gubahan saya, dalam bahasa Inggris yang entah betul atau tidak grammar-nya. Rasanya saya ingin menangis dan lari saja.




Ketika giliran saya tampil. Juri terlihat sebal. Mungkin karena saya tampil 2 nomor jelang akhir, mereka sudah lelah, yang mereka harapkan adalah penampilan memukau..tapi..yaelahhhhh..yang muncul malah saya dengan  wujud berantakan. Baca puisi pula. Tatapan mereka ke saya ..sungguh tatapan melecehkan.

Dengan hati terluka sayapun turun panggung.
Sepanjang jalan pulang saya mengutuki diri sendiri...
Beginilah nasib orang yang tidak punya jiwa seni....

Hasilnya bisa ditebak...saya gagal lolos ke Jepang.



Foto :











Tuesday, 6 January 2015

Karaoke

Saya bukan penggemar dangdut, jadi saya tidak menyukai Cita Citata.
Tapi belakangan sepertinya ramai benar dibahas soal dia pernah bekerja sebagai gadis pendamping tamu di karaoke.
Lah emang kenapa ? Masalah buat lo?
Saya bukan membela Si Cita, hanya berusaha melihat dari sisi baiknya.



Okelah Citata itu pernah mengadu nasib sebagai pekerja karaoke plus-plus. Dan jika sekarang dia sudah mentas dari tempat remang itu dan sukses di panggung hiburan..kenapa orang malah mencibir? Bukankah harusnya kita hargai usaha dan keberhasilannya keluar dari dunia yang dekat dengan kemesuman itu? Bukankah lebih baik mantan orang jelek dibanding mantan orang baik?

Sebagian manusia memang ada yang menderita jika melihat kesukses, tapi bahagia bersorak sorai menyaksikan kesusah. Orang-orang ini biasanya pengidap sakit iri bin sirik.

Tidak seperti artis lain yang kadang sibuk menutupi masa kelam hidupnya,  Citata mengatakan dengan tegas bahwa benar dia pernah bekerja di tempat karaoke. 
Butuh jiwa besar untuk mengakui itu. Berapa artis yang mampu melakukannya? Itunglah kancing baju.

Hidup itu berposes mas bro..ada sebagian orang yang harus susah dulu sebelum sukses, karena tidak semua orang lahir dari ibu bapak kaya raya tujuh turunan.

Jadi daripada sibuk mencela..lebih baik karaokean saja.
Lanjutttt....



Sumber foto :

www.tribunnews.com



Sunday, 4 January 2015

Ketika Cinta Telah Hilang


Jaman Eric Cantona, Del Piero, masih moncer, dan David Beckham baru muncul (dengan wajah unyu-unyu), saya penggila sepak bola. Tak ada satupun pertandingan Liga Inggris dan Liga Italia saya lewatkan. Bahkan setiap menonton, saya membuat statistik pertandingan sendiri, mulai nama stadion, nama wasit, line up, kartu kuning merah, lemparan ke dalam, tendangan bebas dan tentu saja goal...komplit plit..plit.




Sayapun rela berjalan kaki berkilo-kilo demi membeli Tabloid Bola. Puluhan poster pemain bola menempel di dinding kamar. Bahkan saya berburu poster-poster tua di gudang teman-teman (tabloid koleksi bapak-bapak mereka) sehingga bisa menemukan poster Ian Rush, Bobby Robson dan Maldini muda. Wahhhh...seperti menemuka harta karun. 
Dan kecintaan saya pada olahraga yang lelaki sekali ini, dianggap tidak lazim kala itu, sehingga jadi bahan omongan seantero kampung.




Di masa kuliah kegilaan pada bola sepak masih berlanjut dan mendapat wadahnya. Saya bergabung dengan pecinta bola di kampus. Klub lokal yang saya pilih cintai adalah Persija Jakarta. Dan setiap mereka bertanding di Stadion Lebak Bulus Jaksel, kami berombongan lengkap dengan kaos dan syal The Jak menyetop truk lewat untuk mendapat tumpangan gratis. Jika uang dikantong cekak....di luar stadion kita duduk tenang dulu hingga setengah pertandingan berjalan, karena biasanya di babak kedua pintu  telah bebas di buka, tak ada lagi pemeriksaan tiket alias bisa nonton gratis..tis.
Wah...rasanya sungguh beda dengan duduk manis menonton di depan televisi. Tempat favorite kami di belakang gawang. Teriakan dan yel-yel penyemangat sungguh membuat andrenalin saya terpacu. Saya bisa teriak sepuasnya...sehingga lupa akan uang semesteran yang terlambat di bayar. Hahahha




Namun entah kenapa cinta saya pada sepak bola berakhir ketika menikah. Apa sebabnya saya sendiri heran. Mungkin ketidaksukaan suami dengan bola sepak menular ke saya...hahaha.

Jika dulu, koran bergambar Patrick Kluivert bekas bungkus terasipun saya koleksi....kini membaca berita bola saya enggan.

Pengalaman ini membuat saya percaya..bahwa cinta bisa hilang tanpa sisa.
Aihhhhh