Sunday, 16 November 2014

Tetangga Masa Gitu

Kami  memiliki tetangga  di belakang rumah. Kurang lebih lima tahun mereka memberi kami  banyak rasa (dongkol). Baik ibu, bapak maupun kedua anaknya, memiliki perilaku yang sama-sama menggemaskan.

Sering mereka membuang sampah di belakang tempat kami tinggal, tak jauh dari pintu dapur. Padahal tempat sampah yang sesungguhnya ada sekitar 10meter lagi.
Demi kesehatan, jika tidak sedang repot saya singkirkan sampah mereka atau saya bakar. Yaaa,..saya sih mikir positif saja..mungkin kaki mereka rematik semua sehingga sulit untuk melangkah lebih jauh.

Pernah juga mereka memporak porandakan taman di halaman belakang  kami. Tanaman bunga dan buah yang kami rawat dengan jiwa dan raga, potnya pecah dan penyok-penyok, sedangkan rupa-rupa tanaman, daun juga batangnya patah. Rupanya ketika tetangga memarkir mobil, mereka begitu semangat (atau begitu bodoh) sehingga tanaman kamilah yang menjadi korban. Tak ada sepatah kata maafpun dari mulut mereka. Yaaa..kami sabar saja..yang waras ngalah.

Tak lama setelah itu..kami kaget ketika tepat dibelakang rumah kami berdiri dengan semena mena...kandang ayam!
Mereka memelihara ayam potong tapi di "kampungkan". Siang hari dilepas berkeliaran. Kadang ayam-ayam itu masuk dapur kami..(mungkin minta di goreng..).
Aroma kotoran ayampun menelusup ke dapur kami, membuat kami terpaksa harus menutup pintu rapat-rapat. Sewaktu-waktu pintu terbuka, lalatpun berlomba masuk.

Jika saya si ratu tega..bisa saja saya laporkan mereka ke pemda, maka akan disitalah ayam-ayam itu.
Setahu saya sejak kasus flu burung muncul, di Jakarta haram hukumnya ada  ayam (unggas) di pelihara di permukiman penduduk. Kalaupun ada harus memiliki ijin, dan mempunyai standar  kesehatan juga kebersihan yang tinggi. Tapi saya yakin, tetangga ini tak memiliki ijin, lah wong menaruh kandang ayam di belakang rumah kami saja mereka tak ada basa basi ijin, apalagi ijin ke pemda..saya yakin otak mereka tak sampai ke situ.

Yang lebih menyebalkan lagi, disela-sela bau kandang ayam, mereka masih membebani kami dengan keributan ketika mereka saling bertengkar.
Entah apa yang mereka pertengkarkan saya malas menyimak.Yang tertangkap ditelinga saya hanya suara melengking lengking bersahut-sahutan laksana Mantili dan Bramakumbara sedang melawan musuh musuhnya,,hiyatttt..ciatttttt....bak buk..bak buk..gedombrang..gedombreng.
Bahkan kuntilanak yang telah puluhan tahun tinggal dipohon rambutan samping rumah merekapun, tak kuat dengan kebisingan yang mereka timbulkan, sehingga  memilih pindah. Kini tak pernah lagi Mba Kunti muncul atau memperdengarkan tawa misterinya. (Jadi bagi anda yang ingin mengusir kunti, bawa saja tetangga belakang rumah saya, dijamin jiwa dan raga berisik mereka, dibenci hantu sekalipun)

Ya..kami mikirnya positif saja..baguslah mereka melampiaskan emosi dengan bertengkar , daripada dipendam. Emosi yang ditahan konon bisa berakibat pada bunuh diri.

Dan..sudah dua minggu ini.."derita" yang mereka timbulkan bertambah.
Satu anak mereka sepertinya kini memiliki hobi mengotak atik motor. Siang malam kami disuguhi suara deru mesin motor dan knalpot yang menderu-deru laksana badai gurun. Tak kenal waktu dari jelang siang hingga hampir tengah malam, bisinglah dunia kami. Sebenarnya siang hari kami tidaklah keberatan, wong namanya hobi ya silahkan. Masa iya kami mau melarang orang menjalankan hobi positif?
Tapi ketika suara raungan motor terdengar di malam hari hingga hampir tengah malam, membuat waktu Ken belajar terganggu juga Kin yang sedang sakit  bolak balik  terbangun dari tidurnya..kemarahan kami pun luber.
Terpaksalah bapak Si Ken  datangi mereka dan meminta pengertian untuk berhenti.

Sungguh, saya pribadi berharap mereka migrasi saja ke ujung dunia. Atau setidaknya mereka berobat ke dokter jiwa.

Saturday, 15 November 2014

Lo Mau Apa Gue Ada


Pernah melihat abang-abang keliling menjual aneka jepit rambut, ikat rambut, bando, mobil-mobilan hingga racun tikus? Kadang si abang penjual berjalan kaki, kadang menggunakan gerobak, kadang sepeda onthel. Merekapun bisa ditemukan dimana saja, diluar maupun di dalam angkutan umum.
Saya pribadi adalah penggemar si abang-abang ini. Ia bagaikan toko serba ada yang murah luar biasa. Bayangkan..jika di mall ikat rambut bisa berharga puluhan ribu/buah, abang ini bisa jual seribu perak. Peniti, bross, jarum pentul, jarum jahit, benang hingga TTS seakan berebut bergelantungan memanggil-manggil untuk di beli..."Seribu saja Neng...Seribu saja Neng"

Soal kualitas memang jangan berharap banyak. Jika saya beruntung bisa awet, jika apes biasanya rusak atau hilang karena lupa entah dimana menaruhnya.

Dulu di depan TK Si Ken, ada satu abang yang rajin nongkrong tak jauh dari gerbang sekolah.Hanya sebentar memang, tapi laris di datangi ibu-ibu. Ada yang membeli sponge cuci, lem, juga handphone mainan. Kadang saya beli,kadang hanya sekedar menikmati "kemeriahan" jualan si abang, mengamati rupa-rupa benda,dan mereka-reka bagaimana pabrik di Cina 
membuatnya.

Sayapun kagum akan kemampuan si abang menyediakan segalanya hanya dalam satu tentengan. Dan lebih kagum dengan pabrik- pabrik Cina yang bisa menjual barang dengan begitu murahnya. 
Jika satu set jepit rambut dihargai seribu..berapa kira-kira biaya real produksinya..berapa kira-kira biaya distribusinya mengingat jarak Indonesia-China yang sangat jauh? Ah..sudahlah jangan dipikirkan soal itu. Kalau mau beli ya beli saja. Murah dipertanyakan...mahal di protes.

Meski murah..kadang dengan kejamnya saya masih menawar..."Dua ribu, tiga boleh bang..? "
Dan si abang berkata.." Tidak bisa Neng...coba Neng buat jepit rambut sendiri..Neng itung berapa biayanya ?"
Hahahha..sy tertawa dalam hati...dan nyengir kuda.
Ampun bangggg..





Wednesday, 12 November 2014

TTS vs Tukang Parkir

Saya punya kegemaran yang sering jadi bahan tertawaan. Apa itu? Mengisi TTS.
Teman-teman saya mengatakan, kebiasaan saya ini mirip kebiasaan tukang parkir yang sedang mengisi waktu luang. 

Apa iya ya?

Saya jatuh cinta dengan TTS sejak SMP. Dimulai dari majalah pelajar lokal bernama MOP. Di majalah ini ada lembar TTS sederhana. Dikelas, di jam istirahat saya dan teman-teman sering berlomba cepat tepat menjawab TTS. Senang rasanya jika bisa menjadi yang paling tahu segalanya.

Dulu mengisi TTS juga saya lakukan ketika masih liputan. Berjam-jam menunggu, akan tak terasa jika di temani si kotak-kotak silang. Biasanya saat sedang asyik menjawab, sesekali teman akan mencolek pundak saya sambil berkata " Mba, parkir disini sejam berapa?"
Lalu tawa teman-temanpun berderai-derai.

Pernah saya iseng mengisi TTS di koran Kompas. TTS disini cukup menantang, karena jumlahnya bisa mencapai seratus pertanyaan dan sulit. Iseng pula saya kirim jawaban. Eh..tenyata nama saya muncul sebagai pemenang. Lumayan ada hadiah uang tunai. Bisa buat tambahan beli bumbu dapur.

Setelah menikah, TTS-pun menjadi hiburan dikala senggang, apalagi sebelum memiliki anak.
Saya dan suami sering berlomba mengisi TTS lalu saling ejek atas satu dua jawaban yang masing-masing dari kami tak tahu jawabannya. Saling cela akan kemampuan kami menjawab, menjadi hal yang cukup menghibur.


Ada satu pertanyaan yang terlintas dibenak saya .....apa iya mengisi TTS hanya dilakukan oleh si abang-abang parkir? Kalau iya kasihan sekali produsen buku TTS, karena pasti lakunya tidak seberapa. Jumlah tukang parkir kan tidak banyak. Saya kira di Indonesia akan lebih banyak tukang ngibul dibanding tukang parkir.

Dan saya sarankan, jangan remehkan kekuatan TTS....karena selain untuk menghibur abang parkir, TTS digunakan untuk terapi bagi penderita alzeimer.Gunanya untuk mencegah menurunnya kinerja otak. Karena itulah TTS disebut permainan asah otak.

Secara pribadi, saya penasaran dengan kemampuan otak para tukang parkir yang gemar mengisi TTS...bisa jadi secara kinerja otak mereka lebih cepat dan secara pengetahuan umum mereka lebih pintar dibandingkan beberapa orang kantoran di kawasan Sudirman, Jakarta.

Ya..ya....bisa jadi....bisa jadi


Catatan :
Manfaat mengisi TTS dikutip dari www.teka-tekisilang.com
1. Asah otak
Manfaat pertama adalah untuk mengasah otak. Dengan petunjuk (clue) yang ada, pengisi TTS diharuskan untuk mengisi kotak-kotak yang kosong. Jika satu soal berhasil dijawab, maka akan mempermudah untuk menjawab soal lainnya yang kotak-kotaknya terkait. Sehingga TTS merupakan media asah otak yang menyenangkan.
2. Menambah kosakata
Dalam TTS seringkali dijumpai kata-kata yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia, meskipun sebenarnya kata tersebut termuat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Bermain TTS bisa bermanfaat untuk menambah kosakata. Tak hanya kosakata kata-kata dalam bahasa Indonesia, tapi juga kosakata lainnya, seperti ibukota negara, bahasa Inggris, dan sebagainya.
Seringkali dijumpai soal sinonim di mana pada petunjuk soal, jawabannya adalah sinonimnya. Hal ini sangat berguna untuk menambah perbendahaaraan kata atau mengingat kembali kata yang lupa artinya.
3. Melatih daya ingat
Manfaat selanjutnya yaitu untuk melatih daya ingat. Dalam menjawab TTS, maka kita perlu mengingat-ingat apa yang kita tahu untuk menjawab pertanyaan TTS. Dengan begitu, mengisi TTS menjadikan otak mengingat pengetahuan yang tersimpan di otak.
4. Menambah rasa ingin tahu
Seringkali soal yang tidak terjawab pada TTS membuat rasa penasaran. Jika dengan menggunakan daya ingat tidak bisa dijawab atau sama sekali tidak tahu, bisa dengan menggunakan bantuan buku pengetahuan umum jika soalnya tentang ibukota negara, KBBI jika soalnya tentang sinonim, kamus bahasa Inggris jika soalnya tentang bahasa Inggris, dan sebagainya.
5.  Menambah wawasan
Setelah rasa ingin tahu muncul dan mencoba untuk menjawab soal TTS dengan bantuan, pengetahuan dapat bertambah. Hal ini berarti kegiatan mengisi TTS juga dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
6. Mengatas rasa bosan
TTS dapat bermanfaat untuk mengusir rasa bosan, misal bosan sendirian, bosan saat menunggu di stasiun, dan sebagainya. Namun, dengan banyaknya gadget yang beredar seperti sekarang ini, tampaknya banyak orang yang lebih memilih memainkan gadget ketimbang TTS.
7. Meningkatkan konsentrasi
Dalam mengisi TTS, seseorang harus konsentrasi. Seseorang perlu mengamati kotak-kotak TTS, seperti nomor soal dan letak nomor pada kotak dan jumlah kotak pada soal. Sehingga TTS bisa bermanfaat untuk meningkatkan konsetrasi.
- See more at: http://www.teka-tekisilang.com/2013/09/manfaat-mengisi-teka-teki-silang-tts.html#sthash.yLEkYEYW.dpuf
1. Asah otak
2. Menambah kosakata
3. Melatih daya ingat
4. Menambah rasa ingin tahu 
5.  Menambah wawasan
6. Mengatas rasa bosan 
7. Meningkatkan konsentrasi
 



Pemburu Ubi


Saya mantan "pemburu" ubi. 
Kebun tetangga yang habis dipenen adalah sasaran saya. 
Dua minggu setelah panen, akan muncul tunas-tunas berwarna ungu atau merah jambu. Itu tandanya dibalik tanah ada ubi manis.
Hmm..rasanya seperti menemukan harta karun.
Jika beruntung saya bisa menemukan ubi besar, tapi jika apes bisa saja saya hanya menemukan ubi sebesar kelingking.

Dan setelah menetap di Jakarta, rasanya mustahil menemukan ubi sisa panen. Mana ada orang menanam ubi ? 
Tapi mencari  ubi di Jakarta tidaklah sulit.  Asal dikantong ada uang, maka ubi pun bisa kita bawa pulang.
Di Superindo saya menemukan ubi merah yang sehat, organik loh.  Satu kilogram hanya Rp. 15.390, jauh lebih murah dibanding ubi-ubi lain.
Favorite saya Ubi ungu Kumara
Cocok untuk diet, kecantikan dan kesehatan.
Kumara ubi ungu  (produksi Bionic Farm Organic) memiliki tekstur lembut dan warna yang menarik sehingga cocok untuk hidangan pembuka,  hidangan utama, hidangan pelengkap atau hidangan penutup.
Selain itu, ubi ungu bisa mengontrol gula darah (cocok untuk penderita diabetes)

Untuk yang sedang berdiet, ubi ungu mengandung trispin inhibitor yang bisa mengendalikan nafsu makan. Juga mengandung glutathion yang merupakan antioksidan. 
Ubi ungu juga berfungsi sebagai anti kanker, karena mengandung anthocianin

Ubi  Ungu bisa  di rebus, dikukus, dipanggang, dibakar, digoreng juga untuk membuat kue. 
Ubi ungu bisa dibuat aneka kue tanpa pewarna tambahan, karena warganya sudah sangat menarik.

Ubi ungu Kumara ini 100 persen bebas pestisida dan pupuk kimia. Karena itu, ubi ini wajib rutin saya berikan untuk Si Kin (9bulan)

Informasi lebih lengkap bisa di www.bionicorganicfarm.com 


Duka di Balik Sampel

Beberapa kali saya berkesempatan mencoba sampel kosmetik muahal yang satu set harganya bisa menghabiskan gaji saya sebulan

Dan yang namanya sampel....ya gratis. Dapatnya hanya dibawah 10 ml. Istilah teman saya, hanya sakepret (jika sampel dapatnya 100ml atau 1000ml...bisa saling cakar orang berebut)

Dan berhubung pihak pemberi sampel adalah merk yang konon digunakan artis Hollywood, mupenglah saya. Siapa yang tak mau punya kulit mulus licin bak boneka? Siapa tahu setelah memakai kosmetik ini, wajah saya bisa semirip tante Jenifer Lopez atau mba Katy Perry. Ehem..ehem.

Yang pertama saya dapat, bermerk (inisial) S ..asal Jepang. Diiklannya, jika kita memakai kosmetik ini akan berubah cantik luar biasa. Wajah putih berseri sepanjang waktu dan  pipi halus kenyal  lembab bak kulit pantat  bayi usia sehari

Segeralah saya bergegas ke Mall Pondok Indah Jakarta Selatan (tempat produk ini dijual). Meski sudah puluhan tahun di Jakarta, entah kenapa setiap memasuki mall kelas atas, hati saya menciut tersisa sesenti. Mungkin hati kecil saya gemar membaca nilai akhir saldo tabungah saya, sehingga mall dan segala isinya ini berasa menohok saya. Mall yang bikin isi dompet saya bagaikan setitik debu dipadang pasir.

Akhir kata, saya temuilah Mba SPG-nya. Sambil menyodorkan copy email yang merupakan bekal saya untuk mengambil sampel, sayapun pasang tampang sepercaya diri mungkin. Tapi akting saya tak berhasil. Tampang bersahaja saya tak bisa bohong. Tampaklah setengah hati si mbak melayani. Ehemm..dalam hati mungkin si mbak.berkata..."Ah..tampang begini maunya gratisan doang..ndak bakal mampu beli..ndak bakal bisa saya prospek.".
Maka ketuslah si mbak melayani saya.
Dengan hati luka...sayapun meninggalkan mall itu diiringi dendam membara.
Dalam hati saya berjanji..jika kelak saya diijinkan kaya..saya akan beli mall ini beserta isinya plus SPGnya. Hahahhah..(mengkhayal kan boleh saja....gratis....gratis laksana sampel)
Maka..sampel yang hanya 10 ml itupun habis....hasilnya, wajah saya masih ndeso-ndeso saja. Harapan cantik seperti J-Lo pun tinggal kenangan.

Lalu..kesempatan kedua..ternyata datang lagi. Kali ini merknya berinisial EL. Wuihhhh..saya pernah membaca merk ini dipakai juga oleh mba-mba Hollywood, dan di London.
Eng ing eng...sayapun langsung mengkhayal wajah saya bisa semulus puteri London.
Dengan menguatkan hati, pergilah saya ke Mall kakap di kawasan Senayan. Dan perlakuan yang saya terima dari Mba..eh..Mas SPB-nya sama saja. Dengan wajah sebal si mas menyerahkan ke saya sampel cream malam segede upil.
Pulanglah saya dengan hati luka lara. Kelak jika saya kaya..mall ini juga akan saya beli lalu saya jadikan pasar ikan.
Malamnya..sambil membayangkan muka mas mas jutek itu...sayapun  mengoleskan sampel cream malam ke wajah saya dan berharap ketika bangun esok, wajah saya secantik Kate Middleton!

Dan ternyata oh ternyata..saya memiliki kesempatan ke tiga untuk mencoba sample kosmetik ternama lainnya. Kali ini  berinisial L. Berdasarkan email yang sama terima saya bisa mengambil sampel isi sekepret itu dikawasan Kemang. Ah sudah terbayang perlakuan yang akan saya terima.  Jadi kali ini saya mati minat. Saya tidak ingin bersumpah untuk ketiga kalinya..saya tidak ingin membeli mall itu.wkwkkwkw.
Saya sudah mengubur mimpi memiliki kulit cantik ala Hollywood.

Biarlah kulit saya tetap buluk saja. Tak mau lagi hati saya terluka.

Tuesday, 11 November 2014

Marmalad Morin : Mad About Marmalade

Selai yang pertama saya kenal, ya Morin. 
Meski kemudian saya mengenal rupa-rupa merk selai, lidah saya sudah jatuh cinta  ke Morin. 
Dan  dari semua produk Morin, favorite saya adalah Morin rasa Orange Marmalade (Jeruk Marmalad). Rasanya jerukkkk banget. Alami bangettt. 

Apalagi jika dioles ke roti, lalu dibakar hingga roti kuning renyah..hmmmm..aroma jeruknya akan makin menguar menggugah selera.


Marmalad yang dibuat di Bekasi Jawa Barat (PT Astaguna Wisesa) ini, benar-benar membuat saya penasaran dengan bahannya.
Lalu apa dan darimana sih  Marmalad?
Marmalad  terbuat dari sari dan kulit buah citrus. Saat dimakan ada kombinasi rasa manis, agak asam, dan sedikit pahit dengan tekstur kulit jeruk yang kenyal. Marmalad selalu menambahkan potongan buah, kulit buah (biasanya jeruk) di dalamnya. Tekstur marmalad juga tidak pekat  karena buah yang digunakan (jeruk) tidak mengandung banyak ampas/pati

Dengan kata lain, marmalad adalah makanan yang diawetkan seperti jeli berisi potongan buah jeruk dan kulitnya. Pertama kali tercatat di Inggris pada awal abad ke-16. Diambil dari bahasa Portugis “marmelo” yang berarti buah-buahan. Aslinya marmelade dibuat dari dari buah dan bahasa Portugis “Marmelada” berarti selai buah.

Marmalad dikembangkan pertama kali pada tahun 1561 oleh ahli fisika dari Mary, Ratu Skotlandia. Ketika ia mencampurkan jeruk dan gula kasar untuk mengobati mabuk lautnya. Pada akhir abad 18 di Skotlandia, James Kellier membawa sejumlah besar jeruk yang dibelinya di Spanyol dengan harga yang murah. Ternyata jeruk tersebut rasanya sangat pahit. Karena tidak bisa dijual dia membawanya pulang dan diberikan pada istrinya. Sang istri membuat eksperimen di dapurnya dan jadilah marmelade yang kita kenal saat ini.


Hmmmm...ternyata sejarahnya seru juga ya

Bikin roti bakar isi marmalad yuk....pastinya pakai Morin



 

Sakitnya Tuh Di Sini


Sejak menikah dan punya anak, saya kehilangan selera mendengarkan musik. Mungkin karena terlalu lelah mengurus anak dan pekerjaan, sehingga waktu luangpun nyaris tak ada.
Telinga saya hanya numpang dengar musik klasik punya Ken dan Kin (sebelum mereka tidur) atau lagu yang dibawakan pengamen di angkot.
Tentu saja saya juga tidak tahu siapa penyanyi-penyanyi baru. Penyanyi-penyanyi yang saya kenal sebatas  Nia Daniati, Dian Pisesha, Pance Pondaag, Obie Mesakh dan tentunya Rhoma Irama...( Astagaaa)

Sayapun tidak fanatik dengan musik tertentu. Semuanya biasa-biasa saja. Pop, dangdut, rock, keroncong,  tak ada yang saya benci....tak ada yang saya suka. Mampir ditelinga ya...silahkan...tidak dengar ya tidak mencari.

Hingga kemudian, dua minggu lalu, tetangga baru datang. Mereka menyewa rumah selisih satu rumah dari tempat saya tinggal.  Kecintaan mereka dengan musik dangdut aje gile..olala bebeh....cethar membahenol tiada tara.

Pagi hari, ketika burung baru satu dua kepak mengerakan sayap, baik si burung ataupun saya terkesima dengan musik dangdut yang menggelegar laksana teriakan Gundala Putra Petir. Sumbernya ya berasal dari rumah tetangga baru.
"Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku..."  demikian bunyi lirik lagunya. Diputar berulang-ulang lebih dari 20 kali. Setelah itu akan terdengar lagu berbeda. Liriknya.. " Aku janda jomblo....aku janda jomblo ". Lagu ini diputar sekitar 10 kali....lalu menyusul  lagu berikutnya dengan lirik direfrain begini.." OMG hellow hari gini kok masih jomblo...Oh MG hellow"
Luar biasa bukan?
Jika sudah bosan, dan mungkin si empunya rumah sudah selesai memasak, maka akan terdengar suara orang berkaraoke.Suaranya melolong-lolong...aduhai membuai telinga siapa saja yang mendengarnya.

Awalnya, sebenarnya lagu-lagu itu membuat saya tersenyum-senyum kocak. Tapi setelah sekian hari...dan volumenyapun makin kencang laksana toa orang hajatan...saya mulai tak kuasa lagi menyunggingkan bibir. Justru saya ingin menunggingkan itu tape dan speakernya.
Sungguh sangat menggangu. Apalagi jika saya ngantor malam dan tidur jelang pagi. Baru saja mata merem...eh..Gundala Putra Petir sudah membahana.
Lebih kesal lagi jika sudah susah payah menidurkan Si Kin...eh...dangdutan dimulai. ...ala makkkkkk mahakarya eyang Mozartpun suaranya ditimpa oleh nyanyian si mbak-mbak yang mencurahkan isi benaknya.

Waduh......sakitnya tuh bukan lagi sekedar di gendang telinga.....tapi tuh di sini....di sini...di dalam hatikku....di dalam hatiku

Pak polisi......tolongggg...tolonggggg