Monday, 25 January 2016

Mabuk Di ATM


Saat  di depan ATM sering saya "digoda" oleh pengguna ATM lain. Bukan karena saya kece badai sexy bohay..tapi karena sepertinya mereka paham betul kalau uang di rekening saya tak seberapa.

Begini bentuk "godaaanya" :
Pernah sekali waktu, saya hendak mengambil uang. Begitu masuk ruangan ATM, seseorang baru saja selesai dan keluar sembari menelepon.
Sewaktu saya hendak menyelipkan kartu atm ...olala..ada uang 3 lembar seratus ribuan melambai-lambai, menjuntai menggoda,  tak diambil mas-mas tadi.
Buru-buru saya ambil uang itu lalu berlari mengejar si mas-mas yang ternyata  belum jauh dan masih sibuk menelepon.
Begitu uang saya kembalikan, si mas-nya hanya terbelalak kaget, menerima sembari sedikit membungkuk (mungkin bermaksud berterimakasih)  lalu sibuk kembali dengan teleponnya. Mungkin dia sedang urus  negara..atau urus domestik rumah tangga. Bukan urusan saya lah

Jujur..sebagian hati busuk saya mendapat bisikan..." Ah..kenapa ndak diambil saja, lumayan tuh 300 ribu "
Tapi sebagian hati baik saya menang. Buktinya uang itu kembali kepada yang berhak kan?

Dan kejadian uang tak diambil pemiliknya ini saya alami setidaknya 3 kali dengan jumlah uang yang lebih sedikit. Reaksinyapun hampir mirip..sambil menelepon, terburu-buru dan tak mengucapkan terimakasih. Saya sih ndak papa. Kata emak saya, menolong harus ikhlas. Jangan mengharapkan ucapan terimakasih.

Oh ya...selain uang,  saya seringkali menemukan kartu ATM yang baru separuh menjalankan transaksi, atau memungut kartu ATM yang baru nongol dari mesin.
Reflek, saya langsung berteriak..."Pak/Bu/Mba/Mas...kartu ATM-nyaaaaaaaaa....ketinggalannnnnnn".
Otak busuk saya kadang berpikir. .coba ya, saya tak usah kembalikan itu ATM, saya kuras saja uang di rekening tersebut..siapa tahu isinya ratusan juta.
Tapi jiwa baik saya ternyata masih ada. Saya selalu kembalikan benda pipih kecil itu ke yang berhak.
Setidaknya saya menghindarkan mereka dari bulukaan di antrian CS bank, akibat harus mengganti ATM yang tertelan...iya kan?

Ngomong soal ATM yang tertelan, setidaknya lebih dari lima kali saya mengalami. Suami saya sampai berkata .." Hobi kok lapor kartu ATM tertelan".
Entahlah....sering kali begitu uang sudah dilepeh mesin ATM, saya lupa mengambil kartu.
Mungkin karena pikiran dan hati saya "mabuk" begitu melihat uang.


Wkwkwkwk

Tak (Belum) Bertato


Saya memiliki keloid di tangan kiri, bekas luka kecelakaan motor. Seringkali orang melihat mantan luka ini, lalu melihat wajah saya dengan sebal. Pernah ada yang bertanya..."Bekas tato ya mba...kok dihapus? "
Gubrak....lalu saya teringat cerita teman yang menghapus tato dengan sengaja menyetrika, (kalau dengan bedah plastik mahal ndak terkira).  Mengerikan bukan?
Saran saya, jika punya tato dan sudah sebal dengan bentuk atau historisnya...tutup aja dengan plester luka atau koyo. Dan setrikanya mending buat licinin baju saja.
Wkwkwkw

 Terlepas dari sisi agama dan stigma buruk yang kerap menempel di tato, saya tidak benci tato, tidak pula sangat  suka. Biasa saja.

Kepada pelaku seni tato, mereka saya kagumi. Hebat sekali bisa melukis di bawah kulit, sementara saya melukis di atas kertas gambar saja tak mampu, apalagi di atas air..susahhhh.

Lalu..kepada pemilik tato,  saya acungi jempol keberanian mereka menanggung resiko seumur hidup. Apalagi jika memilih  mentato nama kekasih, itu artinya anda begitu yakin akan cinta pada orang itu selamanya. Pastikan pasangan anda akan cinta anda pula selamanya. Jika tidak yakin keduanya..maka lebih baik pakai tato netral saja..misalkan gambar sendok dan garpu.

Dan saya bayangkan..andaikan saya pecinta tato saya akan mentato punggung saya dengan tulisan : Emakkkk......i love u.
Kenapa?  Karena memang saya cinta emak..dan saya yakin seyakin yakinnya cinta saya ke emak  dan cinta emak ke saya akan abadi.

No worries......

Monday, 18 January 2016

Supir Taksi Dan Manchu Pichu

Suami saya ketiban rejeki bisa menonton piala dunia di Brasil tahun 2014 lalu. Selama 9 hari di sana, pulangnya Si Ken ngotot ingin menjemput di Bandara Soekarno Hatta. Okelah kalau begitu.

Di ruang terminal kedatangan  kami disapa bapak-bapak yang menanyakan menunggu siapa dan tiba dari mana. Begitu saya jawab menunggu suami pulang dari Brasil, ia terlongo lalu bertanya : "Menonton piala dunia?" Dan ketika saya jawab iya...mukanya langsung sumringah. "Suami mba pemain bola nasional? "
Saya ngakak dalam hati. Boro-boro main bola,  olahraga apapun tak pernah suami saya lalukan. Bahkan sepakbola bukanlah olahraga yang ia sukai.
Maka saya jawab "Bukan Pak". Dan si bapak ini lalu memandangi wajah Si Ken seperti menebak-nebak. "Apakah suami mba, pemain asing asal Latin yang merumput disini? "
Wkwkwk..saya pun menggeleng.
Tak lama kemudian Bapaknya Ken muncul dengan wajahnya yang campuran Cina-Bangka-Jawa-Sunda.
Maka berakhirlah dialog tebak-tebakan menggelikan ini.

Begitu kami duduk di taksi, beruntung kami mendapat pengemudi yang sangat  ramah. Maka perbicanganpun di mulai dengan pertanyaan "Darimana Pak?"
Begitu mendengar kata Brasil, maka terciptalah obrolah yang mencengangkan.
Ternyata pengemudi taksi ini dulunya bekerja di travel agency dan sudah melanglang buana ke 100 negara! Olala..
Semua benua sudah ia datangi. Ke negara anu transitnya di negara ono, berapa jam perjalanan dan lokasi wisata di masing-masing negara,  ia ceritakan dengan detail.
Ia pun berkisah pernah beberapa kali ke Brasil mengantar keluarga pejabat Anu menonton Karnaval Brasil yang kesohor itu.
Menurutnya...keliling dunia itu mudah dan tak harus punya uang banyak. Di masa remaja, ia menolak keinginan orang tua untuk  sekolah teknik dan memilih sekolah pariwisata. Ternyata pilihannya tak salah. Terbukti ia bisa keliling dunia dengan gratis kan?  
"Semua negara Amerika Latin pernah saya datangi Pak..Bu. Terakhir saya ke Peru..ke Manchu Pichu..."
Pyar.....nyessss..nyesss..hati saya langsung berdebar.
Manchu Pichu...!
Lokasi wisata yang amat sangat ingin saya kunjungi.
Manchu pichu yang saya pandangi fotonya setiap hari. Manchu Pichu yang kadang saya mimpikan bahkan dia siang bolong ketika tertidur di bangku kereta.
Rasanya saya ingin mengguncang pundak si pengemudi dengan keras sambil berkata.."Kereennn..hidup Bapak sangat keren!"
Tapi semua itu tidak saya lakukan. 
Saya hanya bengong...lalu membayangkan Manchu Pichu...ribuan tahun lalu.




Sumber foto :





Memaksa Modis

Badan saya jauh dari semampai, tapi tidak juga pendek-pendek amat. Tinggi 160 cm pas, sudah tidak bisa ditawar. Jika berdesakan di  kereta, lumayan masih bisa cari udara segar di atas ketek penumpang.
Tapi ukuran badan yang serba nanggung ini, membuat saya tidak bisa ikut mode kekinian.  Berasa apa saja mode yang lagi hits, terlihat mengerikan di badan saya.
Contohnya jogger pant.
Saya beli disalah satu toko online. Bermerek lumayan dengan diskon menawan. Saya bayangkan..aih betapa kerennya jika  saya kenakan. Kekinian seperti artis ibu kota atau setidaknya seperti rekan-rekan kerja saya yang modis abis.
Begitu si celana jogger diantar kurir, dengan grasa grusu saya  coba sembari mematut diri  di depan cermin.
Alamakkkkkk... Loh kok yang nampaklah wanita kucel, jelek dan bantet.
Celana dengan karet di bagian bawah ini membuat saya terlihat begitu pendek. Jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Pita di pinggang  yang saya pikir bisa membuat  tampak feminin malah bikin saya seperti hamil 7 bulan.
Dan ketika suami melihat..ia tertawa sampai perut gendutnya nyaris mengempis.
Katanya : "Bukan modis..tapi kamprui (kampungan)
Nah... saya setuju lah .

Tapi jiwa kekinian saya masih penasaran. Maka ketika ada promo celana serupa dengan warna yang berbeda, sedikit lebih besar dan panjang ukurannya. Maka saya tertarik memesan. Dasarnya bukan lapar mata...saya memang sedang butuh celana. Celana lama saya sudah sobek di dengkul.
Karena harganya murah meriah, maka demi menyelamatkan dengkul yang mengintip saya belilah celana jogger ke dua.
Ketika  saya nekad memakai ke kantor...alamakk...saya ditertawakan teman-teman. Disangkanya saya korban banjir.
"Aih itu celana, jangan dipakai apa..ndak pantas"

Hmmm...maka kembalilah saya ke celana pipa saya yang udzur.

Ternyata benar kata teman saya....Sekali wong kampung ..tetep kampung.

Kwkwkwk....



Saturday, 16 January 2016

Polisi Favorite

Ketika bom Sarinah menyisakan bertebarannya foto-foto polisi dengan seragam Turn Back Crime-nya, (menyebabkan sebagian wanita ngeces), bagi saya, polisi lalu lintas tetaplah favorite. Kenapa? Karena merekalah yang jasanya langsung bisa dirasakan oleh masyarakat tanpa banyak pidato-pidatoan.
Kalau ada mereka, lalu lintas lancar, tak ada angkot atau bus kota yang akan berani ngetem sembarangan, tak ada yang berani saling serobot jalur, tak ada yang menerobos lampu lalin, tak ada yang melawan arus.
Lancar..car..car..car

Jalanan yang wus..wus.. akan membantu suami cepat kembali ke pelukan istri. Ibu-ibu dan bapak-bapak bisa segera berkumpul dengan keluarga. Murid-murid bisa sampai rumah dengan aman sentosa. Pokoknya top lah.
Bayangkan betapa banyak yang dibuat bahagia oleh polisi lalin. Ya kan?

Jadi polisi lalu lintas tak mudah loh. Tiap hari mereka berhadapan dengan jutaan karakter pengemudi yang sebagian minus toleransi. Belum lagi stigma kalau mereka bisa disuap saat menilang.
Ya elah..jangankan polisi yang gajinya segitu..pejabat yang gajinya enolnya baris kaya upacara,  juga masih bisa disuap kok.
Janganlah di pukul rata. Polisi baik itu banyak.

Dan biasakanlah melihat jasa seseorang sekecil apapun. Walau kadang terlihat sepele..tapi...efeknya bisa setara dengan sepeleton.. Iya kan?

Intinya, polisi yang  baik..dimanapun ia bertugas, pastilah berjasa bagi bangsa dan negara karena melayani rakyat sesuai amanat. Tapi jika ditanya polisi apa yang paling saya sukai ya...polisi lalu lintas lah. Tanpa harus memegang pistol dan menembaki penjahat, tapi cukup dengan peluit dan gerakan tangan sebagai aba-aba...itu bagi saya ...heroik!


Selamat bertugas Pak..jangan lupa makan.





Friday, 15 January 2016

Resolusi 2016

Sebagai pengguna jasa KRL Commuterline, setiap hari saya berhadapan dengan orang-orang yang maunya enak sendiri. Lebih butuh perjuangan keras untuk turun dibanding naik si ular besi ini.
Pokoknya dalam otak dangkal sebagian besar calon penumpang, begitu pintu terbuka yang penting adalah naik secepat mungkin, persetan dengan penumpang yang mau turun.
Jadi begitu akan turun,  yang saya hadapi adalah orang yang menerjang masuk laksana Banteng dan saya harus punya kekuatan seperti Bison untuk melawan.
Himbauan dahulukan penumpang tak mampu otak mereka cerna.

Seringkali saya melihat penumpang  yang akan turun sampai menangis karena tak mampu keluar dan tak kuasa melawan penumpang naik  tak tahu aturan (yang berprinsip kepentingan diri sendiri adalah segalanya).
Selama ini saya akan menegur keras siapapun yang menerjang masuk tanpa aturan. Memarahi mereka dengan sengit dan mendorong balik dengan tanpa ampun.

Karena itu resolusi saya tahun 2016 adalah bisa lebih mendisiplinkan diri sendiri dan orang lain agar bisa naik dan turun kereta dengan tertib. DAHULUKAN PENUMPANG TURUN.
Hal sederhana yang akan sangat membuat transportasi umum di Jakarta menjadi lebih manusiawi.



Tulisan ini dimuat di Jawa Pos,  kolom Happy Wednesday edisi ulang tahun alias edisi ke-52, Rabu 6 Januari 2016.
(Dari 3000 resolusi yang masuk ke redaksi Jawa Pos, dipilih 30 resolusi terbaik yang berhak mendapat hadiah uang tunai )

Pagi Buta

Dalam hati, pernah saya mengeluh karena harus berangkat kerja pagi buta.
Disaat sebagian orang masih ngiler di balik selimut, saya sudah harus mengejar commuterline.  Kantukpun masih merajalela. Badan rasanya memanggil menghiba : tolong istirahat.
Tapi hidup memang berat..seberat tubuh saya.

Pantaskah keluhan ini?
Tentu saja tidak!
Sampai di stasiun, bertebaran orang yang harus berangkat lebih pagi dari saya. Lihatlah masinis yang sudah duduk manis dibalik kemudi. Lihatkah petugas tiket yang terpaksa sarapan sambil melayani calon penumpang. Lihatkah petugas pengamanan yang sudah berdiri gagah siap siaga? Kurang pagi apa mereka?

Maka sayapun malu.

Harusnya saya bersyukur...bersyukur bisa bekerja menghidupi anak-anak saya.
Soal tidur..bisalah dimanapun. Dibangku kereta, dibangku stasiun, tinggal merem saja.
Ketiduran hingga kebabalasan? Tinggal balik saja.
Gitu aja kok repot.

Jangan iri pada yang masih tidur. Belum tentu mereka lebih bahagia dari saya. Belum tentu mimpinya indah membahana. Karena sesungguhnya keberuntungan dan keberhasilan seseorang bukan diukur dari waktu tidur mereka.
Tapi tentu saja diukur dari jumlah uang tabungan mereka. Hahahaha

Lalu berapa jumlah uang ditabungan saya? Rp. 149.000.


Jadi pantaskah saya mengeluh?
Ayolah..saatnya bekerja keras ..sekeras tubuh saya bisa menanggungnya.


Bekerjalah sampai Tuhan berkata...Stop!



Yuks..mareeeee