Saturday, 18 November 2023

Cara Naik KRL Di Jakarta

Bagi kamu ingin jalan-jalan di   Jakarta dan bebas  dari kemacetan, naik KRL adalah pilihan terbaik.

Lalu bagaimana cara naik KRL, saya infokan ya caranya.

1. Siapkan kartu pembayaran

Kartu yang diterima untuk bisa naik KRL adalah kartu elektronik yang dikeluarkan oleh perbankan (e- money, flazz, brizzi, jakcard dll). Isi saldonya miminal Rp5000. Pastikan sebelum masuk area stasiun saldo mencukupi ya, karena tidak semua stasiun menyediakan mesin EDC untuk top up kartu elektronik.

Selain itu  kamu juga bisa membeli kartu yang dikeluarkan oleh pihak  PT KAI -KRL, namanya Kartu Multi Trip (KMT), satu kartu harganya Rp30ribu dengan saldo Rp10.000. Untuk KMT, isi ulang bisa dilakukan dengan mudah di loket stasiun atau di mesin pengisi saldo mandiri.


2. Tap In dan Tap Out.

Setelah kartu ditangan, untuk masuk area stasiun kamu harus menempelkan kartu kamu di pintu masuk.Tempelkan kartu pada bagian yang ada tulisan : Tempel Kartu di Sini. Hal yang sama juga dilakukan saat kamu keluar stasiun.


3. Naik/Turun  Dengan Tertib 

Dahulukan penumpang turun. Kamu bisa menunggu di sisi kanan dan kiri pintu. Setelah semua penumpang turun, secepatnya naik, karena kamu hanya punya waktu beberapa detik saja sebelum pintu menutup.


4. Bangku Prioritas 

Bangku ini terletak di dekat sambungan gerbong, hanya memuat 6 orang sisi kiri dan kanan. Utamanya untuk manula, wanita hamil dan penumpang berkebutuhan khusus dan ibu dengan anak balitanya. Jika  kamu tidak masuk kreteria tersebut, sebaiknya hindari. Atau jika memang kamu menduduki karena dalam kondisi kosong, segera berikan bangkumu saat ada penumpang yang berhak .


5. Gerbong Wanita

Gerbong ini terletak di gerbong pertama dan terakhir dalam setiap rangkaian. Jadi untuk penumpang pria, jangan salah naik. Jika terlanjur salah masuk, segeralah bergeser ke gerbong campuran.


Nah...inilah sedikit gambaran bagi kamu yang akan naik KRL. Selamat menikmati perjalanan.




Saturday, 20 August 2022

Bisa Seperti Sarimin

Orang tertawa ketika tahu saya tidak bisa naik sepeda. Menurut mereka, saya  aneh. Orang kok tidak bisa naik sepeda! Monyet aja bisa. 


Iya juga ya? 



Pertanyaan selanjutnya, kenapa tidak bisa naik sepeda?

Ya karena tidak pernah berlatih sepeda. Kenapa?

Orang tua kami sempat membeli sepeda BMX, saat itu sepeda BMX sedang sangat hits ( sekitar tahun 1980an). Masih ingat persis, saya masih TK, dan kakak-kakak saya belajar naik sepeda  di halaman sekolah kami sore hari. Sepeda warna biru muda  itu terlalu besar untuk saya. Jadi saya hanya menonton saja.

Tapi, tak lama sepeda itu jadi milik kami. Sepeda kemudian Bapak jual untuk biaya sekolah kakak.

Setelah itu hingga kami melewati masa remaja, sepeda tak lagi bisa terbeli. 


Saat menikah dan punya anak, Alhamdulilah saya bisa membeli sepeda roda tiga untuk anak saya. Lalu setelah anak  menjelang SD, kami mendapat hadiah sepeda hasil ikut lomba testimoni di Facebook Time Zone. Dari sepeda inilah anak saya bisa belajar sepeda roda dua. Dan saat SD, kembali kami menang undian sepeda dari Indomilk. Alhamdulilah....kami dilimpahi Alloh rezeki sepeda, dan anak juga bisa naik sepeda, tidak seperti emaknya. 


Tapi baru di usia saya 42 tahun, saya bertekad mampu bersepeda. Kebetulan saya mendapat undian hadiah sepeda dari Oreo, sepeda lipat warna merah. Sepeda pun saya tuntun ke taman tidak jauh dari rumah. Taman ini kebetulan sepi dan ada jalur yang bisa buat bersepeda.


Jatuh bangun, hingga memar kaki dan paha saya jalani. Saya bertekad tidak akan berhenti selama belum bisa. Banyak pengunjung taman yang menyemangati, meski ada pula yang menertawai.  

Hasilnya..dalam dua hari saya bisa!


Alhamdulilah..saya sudah tidak kalah dari monyet lagi. 

Saya sama dengan Sarimin*....bisa bersepeda!



*Sarimin adalah nama populer monyet yang mampu bsersepeda di pertunjukan jalanan Topeng Monyet.


Friday, 15 April 2022

Polisi Tidur Dan Naik Banteng

Sering kali di jalanan kita melihat ibu, bapak dan satu atau dua anaknya berboncengan sepeda motor. Buat kamu yang seumur hidup belum pernah membonceng motor seperti itu, pasti  tak tahu rasanya. Jadi saya ceritakan ya. Saya akan cerita dari sisi Si Ibunya.


Saat saya membonceng sepeda motor dengan posisi anak di tengah, kaki saya akan menjadi pijakan kaki anak. Rasanya akan kebas atau kesemutan. Lalu saya hanya akan mendapat sisa bagian jok sesenti dua senti, lalu mentok ujung jok motor saja, yaitu bagian yang keras terbuat dari besi berbalut plastik/karet. Saya juga harus menahan berat badan saya sendiri plus sang anak yang nyender dengan santai. Ini memerlukan tulang pinggang yang kuat ya. 


Saat motor melewati polisi tidur saya harus menahan agar tulang ekor tidak membentur ujung jok motor yang keras. Selamatkan tulang ekor...selamatkan tulang ekor!.

 

Apalagi jika  melewati gang dengan polisi tidur setiap dua meter. Wow....perjuangan akan menjadi lebih keras. Plus, jika yang memboncengkan sedang kesal dengan saya, ia akan dengan kasar melintasi polisi tidur, lalu yang saya rasakan bukanlah seperti sedang naik motor, tapi seperti matador yang sedang naik di punggung banteng!


Turun dari motor....tulang pinggang berasa habis kayang seribu jam!


Dan saat saya mendapat komentar.... kamu mah enak duduk membonceng aja, nyetir lebih susah ! Oh...gitu ya? Intinya..semua punya beban masing-masing ya, baiknya jangan saling meremehkan dan jangan saling merasa paling....


Tuesday, 26 October 2021

Tersesat Ke Kamar Mayat

Hari ini saya menjalani FNAB. Apa itu? Kalau kamu tidak tahu, jangan sedih, masih banyak hal lain yang bisa disedihkan. Saya pun baru tahu apa itu FNAB di umur 42 tahun. Kalau tidak ada tumor di tiroid saya, mungkin saya tidak akan mengetahui apa FNAB. 


FNAB itu Fine Needle Aspirasi Biopsi. Jadi dokter mengambil cairan yang berada di dalam tumor, menggunakan jarum,  untuk mengetahui ganas atau tidaknya Si Tumor.

Sebelum menjalani proses ini saya antri dua pekan. Prosedurnya tidak rumit. Saya hanya diminta berbaring dengan posisi kepala mendongak, tidak boleh menelan saat jarum sudah masuk ke tumor. Dan hanya dalam hitungan 2-3 detik.. selesai.

Dokternya jago. Saya hampir tidak merasakan apa-apa saat jarum ditusukan. Tapi terasa sedikit perih lima menit kemudian.Perihnya dari skala 1- 10, ada diangka 1.  Dokter hanya menyarankan jika terasa sakit minum Parasetamol.


Lalu saya membawa cairan dari tumor  tersebut ke bagian Patologi Analisis (PA). Ya bahasa sederhananya, cairan dari tumor di leher saya akan di uji di laboratorium. 

Suster hanya memberi petunjuk : bawa ke bagian Patologi, dekat kamar mayat.


Saya punya pengalaman ke kamar mayat RSCM,  tapi itu sekitar tahun 2004-2008. Jadi ini semacam dejavu.

Saya pun menyusuri lorong demi lorong hingga akhirnya berada di depan rumah duka, dan  bingung. Sudah jauh berubah. Tidak bisa saya mengenali lagi. Saya pun lalu masuk ke ruangan bercat putih hijau, dan bertanya kepada petugas  di mana ruangan Patologi Analisis. Rupanya saya salah masuk. Itu kamar mayat!

Secepat kilat saya keluar dan pandangan mata saya yang buram kemudian bisa menemukan papan bertuliskan Patologi Analisis .

Saya menunggu sekitar 30 menit hingga kemudian nama saya dipanggil untuk menyerahkan sampel cairan tumor. Hasil PA akan muncul sekitar lima hari kerja. 

Saya pun bergegas keluar dengan pikiran setengah kosong. Tiga belas tahun lalu, saya menyaksikan banyak kematian di sini, korban kecelakaan dan pembunuhan. Saat itu tak pernah terbayangkan saya akan berjuang untuk tetap hidup di sini. 

Dan kamar mayat yang baru saja saya masuki, seperti pengingat..betapa berharganya hidup.


Salemba, Jakarta Pusat,  26 Oktober 2021

Saturday, 23 October 2021

Sebelum Saatnya Tiba

Dalam kamar rawat berkapasitas empat pasien, saya merasakan udara panas dan pengap. Rupanya seorang pasien tak tahan dengan pendingin udara, sehingga 3 pasien lainnya harus mengalah. 


Saya pasien yang menunggu transfusi darah. Si Tak Tahan AC, pasien pasca operasi kista yang akan segera pulang, dan dua pasien lainnya adalah pasien dalam tahap tak lagi bisa disembuhkan, seorang diantaranya tepat di samping saya, seorang lainnya, berada tak jauh dari toilet. 


Dia yang tepat disebelah saya,  tak ada yang menemani. Sesekali ia merintih kesakitan, menyebut nama Tuhan, sisanya senyap. Suster merawatnya dengan baik, penuh simpati. Saya namakan dia : Si Sunyi. 


Sedangkan pasien yang berada di dekat toilet, ia terus menerus bicara, hampir tanpa jeda. Saya namakan ia Si Celoteh. Ada seseorang yang dibayar untuk menungguinya yang juga punya banyak kata. Saya mendengar perbincangan hampir tanpa henti. Kadang si penunggu bayaran ini juga mendekati saya dan bergosip mengenai Si Celoteh.Hingga kemudian perlahan suara  Si Celoteh menjadi cadel. Dokter menyampaikan sel kanker sudah menjalar ke hampir ke seluruh organ tubuhnya sehingga pasien merasakan sesak nafas dan sulit bicara normal.

Si Celoteh pun meminta pulang. Ia menyerah.


Sementara pada  hari kedua saya dirawat, Si Sunyi pulang dalam senyap. Bahkan saya tak menyadari kepulangannya. Saya kaget ketika saya keluar dari toilet tempat tidurnya telah kosong. Semula saya mengira ia ada tindakan di ruangan lain, tapi menurut suster Si Sunyi memilih "menunggu waktunya selesai " di rumah.

 


Merenungi nasib Sunyi dan Celoteh,  saya merasa melihat gambaran kemungkinan masa depan saya. Mungkin lima tahun ke depan atau lebih cepat, saya akan seperti keduanya. Tapi sebelum saat itu tiba, saya akan gunakan sebaik-baiknya.



Salemba, Jakarta Pusat, April 2021

Friday, 22 October 2021

Pria Lima Ratus Juta

Sudah tiga bulan, lingkungan kami kedatangan seorang pria penyandang status Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), berkaus merah, celana hitam robek-robek dan menenteng kantong plastik berisi sampah aneka rupa. Dari mana ia berasal? Masih menjadi misteri.


Tempat tidurnya di teras masjid,  persis di bawah tempat penyimpanan keranda. Tapi meski tidur di masjid ia memilih sholat di sembarang tempat. Bahkan saya pernah melihat ia sholat di jembatan, di bawah gapura,dan di depan warung. 


Seperti pada umumnya orang gila, ia lebih banyak diam, hanya sesekali berkata... " Lima ratus juta... lima ratus juta"

Sehingga kemudian saya menyebutnya : Pria Lima Ratus Juta.


Hampir setiap pagi saat ke pergi ke tukang sayur, saya melihatnya. Kadang ia sedang meringkuk di bawah keranda, atau sedang termenung saja. Makanan dan minuman yang saya sodorkan ia terima tanpa sepatah kata. 



Hingga kemudian saya terpikir untuk mencoba membantu agar ia  mengenakan baju yang layak dan bersih. Tapi ketika baju saya serahkan,ia menolak. Dan saya kaget ketika ia berkata : "Maaf Bu, saya sudah punya istri"


Wow... dia ternyata mengira saya ingin memenangkan hatinya. 

Saya malu..sangat malu. 


Dalam perjalanan pulang ke rumah saya berpikir betapa setianya si Pria Lima Ratus Juta ini. Bahkan dalam kondisi tak waras pun, soal hati dia waras, dia setia.



Jadi buat kalian yang waras, tapi tidak setia.....renungkanlah.




Tuesday, 19 October 2021

Orang Terkenal

Saya pernah sangat-sangat jahat ke artis dan pejabat. Kala itu, di mata saya mereka itu sempurna. Selalu tampak paripurna tanpa cela. Saat bertemu, saya mengharapkan mereka sama persis dengan  sosok seperti yang saya lihat di layar kanca.  

Saya akan kecewa kalau ternyata mereka  berketombe, ngupil, kentut dan betahak. Saya akan kecewa kalau melihat ada cabai di gigi mereka, rambut awut-awutan, apalagi bau jengkol. 


Lalu saya sadar...loh mereka kan manusia juga seperti saya. Masa iya mereka tidak boleh kentut bau, tidak boleh makan jengkol, tak boleh males sikat gigi, tak boleh males mandi?  Betapa kejamnya saya...apa hak saya mengatur mereka? 


Saya juga pernah benci dengan artis atau pejabat yang menolak foto bareng. Menurut saya mereka sombong, sok populer, sok penting. 


Tapi kemudian saya sadar. 


Coba bayangkan jika mereka disetiap langkah keluar rumah harus melayani foto bersama. Betapa repotnya.


Saya teringat, saat lebaran,  saya merasa segan dan malu  diajak foto bersama anggota keluarga. Padahal  yang mengajak saya foto adalah saudara sepersesusuan, seperkamaran, seperpiringan dan seperbajuan. 

Selain itu, foto di depan Kang Bikin KTP pun, saya grogi. Kegrogian itu mengakibatkan foto yang akan saya pakai sampai mati,  tak ada cakep-cakepnya.

Lalu bagaimana perasaan saya kalau tiba-tiba diajak foto oleh orang yang tidak saya kenal?  Pasti saya menolak. 


Jadi kalau ada artis yang merasa tak perlu melayani permintaan foto bersama di sembarang tempat, menurut saya itu wajar saja. Menurut saya boleh saja meminta foto bersama, tapi di tempat yang memang dikhususkan artis tersebut untuk bertemu penggemarnya. Misanya di acar jumpa fans, kondangan kawinan, kondangan sunatan, launching album, atau di lokasi syuting. Tapi kalau ada yang tak mampu menahan diri untuk mengajak foto sang idola  di bandara misal, mintalah dengan sopan. Jika artis atau pejabat tersebut keberatan, maka homatilah. Dan jika artis itu ternyata bersedia, berarti hatinya pasti seluas Laut Jawa digabung dengan  Samudera Hindia .


Kini saya menyadari,  terkenal dan dikagumi banyak orang tidaklah mudah. Berat..sangat berat. Dan jika masih ada yang berpikir..loh itu kan konsekeuansi dia sebagai orang terkenal? Cobalah sedikit berempati..seujung kuku saja, tak apa.




Monday, 18 October 2021

Berpayung Di Kamar Mandi

 Jakarta hujan deras sejak malam hingga pagi.


Kami sedang menyantap sarapan nasi uduk orek tempe. Tiba-tiba dari arah belakang rumah terdengar suara ..brukkk..krompyang..srek srek.... Dari nada iramanya saya duga genteng jatuh. 


Dan benar..terpampang nyata di depan mata, atap di atas kamar mandi kami porak poranda. Kayu rangka patah mengenaskan. Genteng jatuh remuk redam.


Kejadian ini langsung saya laporkan ke pemilik rumah, Ibu Kontrakan. Tapi, pada masa kini,  rupanya sulit untuk mencari tukang. Jadi untuk sementara Ibu Kontakan menyarankan diperbaiki sendiri dulu. 


Krik..krik..krik  otak saya berpikir seperti jangkrik. Saya tidak punya keahlian membetulkan atap. Sebenarnya lebih tepatnya belum punya ..karena saya belum mempelajarinya. Bodohnya,  kenapa saya selama ini tidak terpikir untuk mempelajarinya?



Hujanpun terus datang dan pergi. Menurut ahli cuaca, hujan akan terus turun dengan bahagia sepekan ke depan.


Kami pun bahagia. Apapula yang perlu disedihkan?

Semua ada masanya...begitu pula dengan atap.

Sudah belasan tahun Si Atap melindungi kami dari hujan (kalau panas,  atap kami  tidak  mampu melindungi,karena  tanpa jendela yang bagus, rumah yang kami sewa panas ..hahaha).


Kami paham, sudah saatnya Sang Atap mendapat rangka baru..genting baru. Sang Atapun ingin bersolek sesekali.

Tapi tunggu ya...karena sepertinya  kami perlu waktu untuk mempersiapkanya

 

Sementara atap belum diperbaiki, saat turun hujan,  kamar mandi kami... meriah. Air mengalir tak hanya dari bawah tanah, tapi juga dari sela plafon yang bocor. Ah..gemericiknya serasa di Hawai. 


Lalu saat kami harus memenuhi panggilan alam, kami jongkok di toilet sambil memegang payung.


Wow....untuk saya yang menyukai hujan, saya bahagia.


Hujan tak pernah gagal menyenangkan saya.


Jakarta, 18 Oktober 2021


Tiga Sendok Nasi

Ketika rombongan ajang kompetisi  putri-putrian datang ke kantor, saya hanya melihat sekilas. 

Bagi mata awam saya, rupa  mereka hampir sama. Tinggi menjulang, langsing bak tiang, dan berambut panjang lurus bak jalan tol. 


Kadang saya heran, mereka makan apa sehingga bisa tegak berdiri? Karena berdasarkan pengalaman saya, saya baru bisa tegak berdiri setelah makan sepiring nasi...itu tidak membuat saya langsing. 


Konon katanya ada diantara mereka tak makan nasi, atau ada  yang makan nasi tapi hanya 3 sendok saja. .Astagaaaa..saya 3 centong saja, itupun kadang nambah!


Tapi menurut teman saya yang bijaksana,kemampuan orang itu berbeda-beda jadi saya tak perlu ikut-ikutan makan 3 sendok nasi, karena meski itu akan membuat saya kurus, tapi tak akan membuat saya seperti putri.



Begini...menurut saya mereka yang ikut ajang putri-putrian,  adalah perempuan terpilih yang cantik luar dalam. Beda jauh dengan pendapat teman saya yang berbunyi : susah mencari orang cantik fisik juga cantik hati. 

Jadi maksud dia rata-rata orang cantik nggak baik hati gitu? 

Wah teman saya kebangetan ini..pendapat ngawur. 

Banyakkkkk....banyak banget orang cantik itu baik hati. Di sekiling saya banyak orang cantik juga baik. Dan rombongan putri-putrian itu juga contohnya. Mereka melalui seleksi sulit dan memenuhi kriteria panitia dalam kategori cantik luar dalam. Meragukan mereka soal kecantikan hati mereka, berarti menghina dewan juri.


Tapi menurut teman saya, tak masalah cantik tapi tak baik. Setidaknya orang cantik itu enak dilihat, itu bagian dari menyenangkan orang lain ...itu kebaikan bukan? 

Orang cantik itu tak perlu susah mendapatkan sesuatu, segala perhatian dan kemudahan akan datang padanya.

Lebih baik cantik tapi busuk hati daripada rupa jelek tapi busuk hati. 


Ah ..teman saya ini..selalu berfikir positif. Saya suka.

Teman Bicara Kelas Dewa

Saya memiliki tetangga, tak tahu siapa nama aslinya, tapi orang-orang memangilnya Mbah Urut. Kemampuan pijatnya di level master.

Saat memijat, ia tak banyak bicara, lebih tepatnya tahu kapan harus bicara.  Ia mempersilakan "pasiennya" jika ingin tidur. Atau jika "pasiennya" ingin ngobrol ia akan punya obrolan menyenangkan.

Tarifnya tak mahal, baginya yang penting punya pelanggan setia itu yang utama.



Diluar urusan pijat memijat ia tetangga yang menyenangkan. Obrolan dengannya akan jadi obrolan level dewa, tanpa cela, tanpa membicarakan keburukan orang lain.....hanya kebaikan. 


Hidupnya bersahaja. Tinggal di kamar kontrakan satu ruangan ukuran 4 kali 3 dengan anaknya usia 30-an tahun.

Mba Urut mengaku menikah muda, usia 16 tahun. Lalu hamil dan  bercerai tak lama setelahnya. Ia pun berjuang sekuat baja membesarkan anaknya dikejamnya ibu kota. Awalnya ia menjadi pembantu rumah tangga seorang pengusaha Jepang, lalu pensiun dan memilih menjadi tukang urut setelah anak laki-laki semata wayangnya mampu bekerja menggantikan posisinya.


Hingga suatu saat ia di vonis menderita kanker di leher rahimnya.


Sejak itu pembicaraan kami menjadi sendu. Di sela obrolan ia kerap meminta maaf dan menangis. Ia merasa hidupnya tak lama lagi. 

Pengobatan di rumah sakit sempat ia dijalani. Tapi kemudian memutuskan berhenti dan pulang  kampung,  pulang ke ibunya yang telah renta. Setahun kemudian saya mendapat kabar ia tiada. Kanker membunuhnya dengan cepat.


Saat mengingat Mbah Urut, terbayang saat ia sedang mengemas bawang putih ke dalam kantong plastik. Ia bilang setiap hari selama sepekan menyisihkan 5 ribu rupiah untuk membeli bawang putih. Dan bawang putih itu akan ia kirim ke Ibunya. Bawang putih terbaik, dari hati yang putih, untuk Ibu terkasih.



Dan kini setelah 10 tahun berlalu sejak kematiannya, saya masih mengenangnya sebagai teman bicara sekelas dewa.


Dokter Muda

Saat pertama kali berobat ke rumah sakit di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, dalam ruang tunggu saya mendengar  seorang pasien menyampaikan ketidaksukaannya  ditangani dokter muda. Menurutnya dokter baru tak akan bisa menyembuhkannya, minim pengalaman dan tak bisa diandalkan.Ia hanya menginginkan ditangani dokter dengan gelar profesor.


Apakah anggapan itu betul?


Selanjutnya, saya menjadi seorang pengamat dokter. 


Selama ribuan hari di rumah sakit, saya bertemu dengan banyak dokter. Dokter muda, setengah muda dan dokter senior.


Saya menjadi saksi  dokter muda  yang canggung mengekor kemanapun seniornya, mencatat, lalu bertanya ini itu. 


Saya sama sekali tidak keberatan ditangani dokter muda. Toh apapun keputusan yang diambil dokter muda itu pasti terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dokter seniornya.

Seorang dokter pemula, mereka bukan orang bodoh. Mereka belajar dengan luar biasa, dengan kecerdasan setara penyelamat nyawa dan saya merasa bangga menjadi bagian dari mereka menuju kematangan profesi.


Saya tidak keberatan mereka belajar dari sakit saya, saya tidak keberatan menjadi obyek medis mereka. Saya tidak takut dianggap kelinci percobaan. Saya tidak keberatan mengulang riwayat sakit saya ke dokter A lalu dokter B,C,D,E..hingga X, karena saya tahu jawaban saya akan memberi pengalaman baru kepada mereka. Saya akan selalu  menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seakan saya baru pernah mendapat pertanyaan itu untuk pertama kalinya.


Jika saya kelak berumur panjang, saya mungkin bisa melihat mereka yang kini canggung, tumbuh menjadi dokter-dokter hebat di bidangnya. Saya akan merasa bangga dan suatu kehormatan bagi saya, jika saya termasuk bagian dari hal yang membuat mereka menjadi hebat.


Sembuh adalah kuasa Tuhan, dan melalui dokter Tuhan bekerja dengan caraNya.


Saturday, 27 March 2021

Alur Transfusi Darah Di RSCM Menggunakan Fasilitas BPJS Kesehatan

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana transfusi darah di RSCM Jakarta. 

Bagi peserta BPJS Kesehatan, alurnya lumayan panjang. Jadi harus benar-benar siapkan stamina. Pengalaman saya, dengan HB* 6 (dari normal 12 ke atas) saya masih kuat mengurus sendiri. 

Begini alurnya :


- Hari ke  1 : Mendaftar di adminsi (lantai 1 ) dengan tujuan  ke Poli ( kalau saya Poli Ongkologi Ginekologi). Ke dokter, saya sampaikan keluhan (pendarahan hebat, lemas, pingsan, pusing dll), lalu meminta dokter agar memberi rujukan ke laboratorium. Dokter akan menghubungkan data saya  ke bagian lab di lantai 3. Proses antri ke dokter di Poli dan meminta  rujukan ke laboratorium  ini akan membutuhkan waktu sehari. 


- Hari ke 2 : Datang ke Lab di lantai 3, dan ambil nomor antrian dengan status non-tunai. Saat nomor antrian dipanggil tunjukan kartu berobat kepada petugas. Lalu petugas akan memberi  kuitansi dan juga nomor  antrian pengambilan darah. Dan antrian selanjutnya adalah antri pengambilan darah. Hasil baru bisa  ambil keesokan harinya. (Kalau saya ada dana, untuk mempersingkat hasil, biasanya selain ke lab BPJS, saya juga ke Lab 24 jam (berada di bagian PJT/Jantung), saya sampaikan ke bagian administrasi bahwa akan tes HB mandiri. Biayanya sekitar Rp95.000, hasil keluar dalam 2 jam)


- Hari ke 3 : Kembali  ke Poli Ongkologi Ginekologi, dan setelah terdaftar ke poli, segera ke lab lantai 3, dan ambil nomor antrian dengan status ambil hasil. Lalu serahkan kuitansi dan nomor antrian. Untuk hasil biasanya antrian tidak lama. 

Segera bawa hasil lab ke dokter. Jika dokter memutuskan  harus transfusi (HB di bawah 10), dokter akan memberi  rujukan ke Poli  Hematologi (dokter memberi selembar kertas warna merah muda, segera foto copy paling tidak dua lembar, fotocopy ada di lantai dua sebelah apotik BPJS).


-Hari ke 4 : Ke Poli hematologi.

Ke bagian admisi (pendaftaran), mendaftar ke Poli Hematologi. Bawa hasil lab dan rujukan dari dokter sebelumnya (lembar warna merah jambu). Jika kuota belum penuh, langsung bisa ke Poli Hematologi dan dapat nomor antrian.

Tapi Poli Hematologi  kuotanya cepat sekali penuh. Disarankan mendaftar online. Saya pribadi tidak pernah mendaftar online karena tidak kuat antri berdiri untuk print out bukti daftar. Jadi selama ini saya nekat mendaftar manual. Pernah sekali saya tidak kebagian kuota, tapi karena HB saya enam (darurat) saya bisa banding dengan cara meminta kuota tambahan (Langsung datang ke Poli Hematologi, sampaikan kondisi darurat, nanti ada bagian yang akan memberi kita persetujuan penambahan kuota. Suster akan menuliskan "ACC" di lembar warna pink kita). Segara kembali ke pendaftaran (admisi, lantai 1) untuk  mendapat nomor antrian. Lapor kembali ke Poli Hematologi, serahkan bukti pendaftaran di admisi, dan antri untuk bisa ketemu dokter. 


Dokter akan memeriksa kondisi saya dan memutuskan berapa CC darah yang  butuhkan. Suster lalu  mengambil sampel darah saya dan menjadwal kapan transfusi. Suster  membekali saya dengan copy hasil lab pemeriksaan darah saya ,dengan catatan kode P (ini berguna untuk ditunjukan kepada petugas adminstasi saat mendaftar di hari transfusi)


Lalu saya harus ke Satelit Farmasi, serahkan kartu berobat ke bagian administrasi, sampaikan akan transfusi. Bagian ini untuk pemesanan selang infus/selang transfusi). 


Selanjutnya  sampel darah saya serahkan ke  bank darah yang berada di bagian belakang RSCM Kirana (RSCM Khusus Anak-Anak). Bank darah akan menginfokan apakah darah yang kita butuhkan ada atau tidak. Jika ada, oke..saya  akan diberi kertas yang berisi keterangan darah tersedia. Dan saya  tinggal datang di hari jadwal transfusi.


Jika darah tidak ada,  saya  akan mendapat pengantar pemesanan darah ke PMI dan saya  harus membawa pendonor (bagian ini yang paling repot karena kita harus mencari sendiri pendonor dan membawanya ke PMI Pusat di Kramat -Jakpus). Jarak PMI tidak terlalu jauh dari RSCM, naik ojek online hanya sekitar Rp 13 ribu ongkosnya.

Setelah membawa pendonor ke PMI, PMI akan memberi surat keterangan bahwa saya  sudah membawa pendonor  dan memesan darah ke PMI. Selang dua jam kemudian, bawa surat dari PMI   ke bank darah di RSCM. Nanti darah akan dikirim dari PMI ke RSCM. Jika bank darah RSCM bilang...oke, darah sudah ada. Done..selesai, tinggal datang ke Hematologi untuk transfusi. Untuk tahap hari ke empat saya biasanya pukul 06.00 WIB sudah di RS dan selesai sekitar jam 18.00 WIB (jika darah ada di bank darah) dan sampai pukul 22.00 WIB jika harus membawa pendonor ke PMI. Panjang ya.....xixixi.. jadi harus makan yang banyak...sebakul...kwkwkwkw.


Catatan : Saat saya akan transfusi ada catatan dari pihak bank darah yang mengharuskan saya mengetes darah saya dulu ke PMI Kramat Jakarta, karena dikhawatirkan ada reaksi penolakan di badan saya. Pentugas menyebutnya Kontes. Lalu saya mendapatkan surat dari pihak PMI yang intinya saat transfusi dan sesudahnya saya harus mendapat pantauan khusus untuk mengantisipasi adanya reaksi atau efek samping transfusi darah. Dan surat dari PMI ini harus saya laporkan ke petugas di bagian Hematologi setiap saya akan transfusi. Di bagian ini seharunya saya mengantar sendiri sampel darah ke PMI Kramat, tapi petugas kasihan melihat saya sendirian (dengan konsidi HB 6 harus bolak balik ke PMI), jadi beliau menawarkan diri menolong mengantarkan sampel darah saya ke PMI. Semoga Alloh membalas kebaikan beliau.


Hari ke 5 : Transfusi

Pagi hari datang ke bagian administrasi (pendaftaran), minta ke petugas (petugas berkemeja putih yang mengurus antrian administrasi) nomor antrian kode P dan sampaikan akan transfusi. Lalu kita akan diarahkan ke admisi dengan kode antrian P. Sampaikan ke bagian administrasi lembar dari bagian Hematologi (copy hasil lab dengan catatan kode antrian P) . Setelah mendaftar segera datang ke Poli Hematologi, lalu serahkan bukti pendaftaran di administrasi). Dan segera kita bisa transfusi.Jika darah yang kita butuhkan lebih dari 500 cc biasanya transfusi dilakukan dua hari. Perhari maksimal 500 cc. Dan di RSCM transfusi diberikan dengan kondisi pasien duduk di sofa, tanpa rawat inap. Setelah tranfusi pasien bisa pulang.

Tapi saran saya, jangan langsung pulang. Tunggu setidaknya satu jam. Ini untuk mengantisipasi adanya efek samping dari transfusi. Berdasarkan pengalaman saya, setelah transfusi saya merasakan gatal-gatal, ruam. Dokter akan menyuntikan obat yang efeknya mengantuk luar biasa. Saya tertidur setelahnya dan rasa gatal hilang dengan cepat. 



Hari ke 6 : Datang ke lab BPJS lantai 3, cek darah. Cukup menujukan kartu berobat. Mengulang langkah seperti di hari ke 2 ya. 


Hari ke 7  : Ambil hasil lab dan lapor ke dokter Poli Ongkologi Ginekologi. Jika HB belum 10 mengulang ke tahap awal seperti di hari ke 1 . 



Hahahhahaha... Seru ya tahapannya. Terlihat panjang dan ribet, tapi nikmati saja. Itu menambah pengalaman hidup, ujian fisik dan mental.



Jadi, demikianlah  sekelumit rumit pengalaman saya transfusi darah di RSCM menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Semuanya gratis ya, tapi memang prosesnya panjang sepekan dan harus sabar.

Jalani dengan rasa syukur Insyaalloh dimudahkan. Aamiin.



Catatan : Kondisi di atas tidak berlaku untuk kondisi HB 5 ke bawah. Jika HB 5  segera datang ke IGD dan bisa mendapat transfusi dengan proses secepat kilat.


Catatan lagi hehehe : Untuk pasien baru di Hematologi adanya di  hari Kamis ya. Jadi kalau baru pertama akan transfusi hanya bisa mendaftara di hari Kamis




*Hemoglobin merupakan komponen dalam sel darah merah yang berperan penting  untuk mengikat oksigen dalam darah. Ketika tubuh kekurangan hemoglobin, maka akan terjadi anemia yang dapat menimbulkan sejumlah keluhan dan gangguan kesehatan.





Saturday, 28 November 2020

Cara Asyik Konsumsi Pepaya

Saya sebenarnya tidak terlalu suka Pepaya, aroma getahnya enggak banget. Padahal getahnya yang namanya papain itu  bahan top untuk kosmetik yang bagus sekali untuk kesehatan kulit (mencegah jerawat dan mencerahkan kulit). 

Pepaya itu super banget untuk pencernaan, anti radang, anti radikal bebas, cegah diabetes, sakit jantung dan yang pasti efeknye meningkatkan  daya tahan tubuh.

Nah ...setelah tahu manfaatnya dan harganya yang terjangkau (lebih murah dibanding buah-buahan lainya) saya pun mencoba menyukai si buah asal Meksiko ini.

Saya akali dengan cara menyantapnya. Jus tidak menjadi pilihan saya, karena kental dan aromanya yang ishhh..enggak saya suka. Lebih menarik selera saya dengan cara dinginkan dulu pepaya di dalam kulkas, kupas dan  potong dadu, lalu saya lumuri dengan air jeruk nipis. Wahhhhh rasanya segarrrr. Manisnya pepaya menyatu dengan asamnya jeruk nipis. 


Atau bisa juga dengan ditaburi cia seed. Dua superfood jadi satu. Keren kan.


Saturday, 31 October 2020

Sandal Jepit

 


Saya mengenal seseorang  yang tidak bisa memakai sandal jepit. Ia terbiasa memakai sadal selop. Saat dipaksa mencoba sandal jepit ia sulit berjalan. 


Tapi, bagi saya sandal jepit itu juara. Sewaktu saya kecil, sandal jepit yang putus menjadi  sangat istimewa karena bagian pelat (jepitannya) bisa di tukar dengan kerupuk berbentuk angka delapan ke Tukang Rongsok keliling.

Bahkan kadang saya rela keliling RT mencari sandal jepit putus yang dibuang pemiliknya (kala itu bagian pelat sendal terbuat dari plastik, kalau sekarang sebagian besar berbahan karet  yang tidak bisa ditukar ke Tukang Rongsok).

Jadi, sandal jepit saat putuspun sangat bisa membuat saya bahagia, bisa memberi saya cemilan kerupuk angka delapan. Wkwkwkw.


Saat kuliah saya juga  memakai  sandal jepit. Pernah saya diusir dari  ruang kuliah karena memakai sandal jepit. Sang Dosen bilang " Kamu mau kuliah apa mau ke WC? ") . 


Menurut saya sandal jepit  itu nyaman dipakai. Selain tentunya harganya murah. Tidak seperti bersepatu, bersandal jepit itu ringan, adem, tak lembab. Tak perlu berkaos kaki. Perawatannya juga sederhana. Tak harus repot menyikat terlalu lama dan cepat kering. Apalagi saat musim penghujan, basah bersandal jepit pasti lebih ringan dibanding basah bersepatu.

Lalu derita bersandal jepit paling sebatas kaki gosong kena matahari dan berdebu. Tapi gampang lah, kalau berdebu, tinggal cuci kaki saja, kalau warna kulit gosong..dari bayi udah gosong kok , apalagi yang harus dikeluhkan.


Lalu teman saya bertanya," Ke mall mewah berani nggak lo pakai sandal jepit, ke hotel berbintang lima berani ngga lo pakai sandal  jepit kebanggaan lo itu ?" Mungkin lo berani, tapi lo mampu nggak ke tempat mewah itu? Sebenarnya menurut gue bukan soal sandal jepitnya, tapi soal siapa yang memakai sandal jepitnya. Kalau yang makai sandal jepit Luna Maya, ya pantes-pantes aja keluar masuk tempat mewah pakai sandal jepit. Luna Maya cakep, bersandal jepit pun  pakai mobil mewah...Lahhhh elooooo...paling banter pakai bajaj!. Jadi bukan soal nilai sandal jepitnya, tapi siapa yang makai! Paham?"



Hahahahah..iyaaaaa. Teman saya sekali lagi benar.


Friday, 30 October 2020

Ngabuburit Tahun 1980-an

 


Tahun 1980-an, di desa kami,  anak-anak dan remaja  menunggu waktu berbuka dengan berjalan-jalan menyusuri pinggir Sungai BTW. Sungai ini mengalir di sepanjang jalan penghubung antar desa.

Jam 16.00 WIB, beramai-ramai saya dan teman-teman berangkat menuju pinggir sungai dan menyusuri sepanjang 300 meter.  Jalan tanah berkerikil yang diapit sungai dan sawah menawarkan angin senja sejuk segar . Tak perlu takut ada kendaraan yang melintas. Saat itu di kampung kami paling top orang memiliki sepeda onthel. Jalanan benar-benar milik kami. 

Di sisi kanan dan kiri jalan rerumputan tebal menjadi bantalan duduk yang nyaman. Ditambah ada rerumputan berbunga (entah apa namanya)  yang bunganya bisa kami rangkai menjadi bando cantik.


Sementara sungai menjadi daya tarik tersendiri. Saat haus menahan dahaga puasa, melihat sungai membuat hati menjadi adem. Di sungai yang kadang bening kadang butek, kami bisa melihat warga sekitar mandi, mencuci baju, mencuci sayur dan beras juga buang air besar (ehhhhhh..wkwkwk). Oh ya,sesekali ada warga yang melarung plasenta ke sungai. Sangat menarik menyaksikan plasenta yang diletakan di dalam kendil perlahan menjauh, diiringi doa agar kelak sang anak bisa sukses merantau, mendapat segudang pengalaman dan kekayaan. Aamiin.


Oh iya...saat ngabuburit ini juga digunakan remaja untuk saling tebar pesona dengan gebetan. Tenang, mereka sangat sopan kok, paling hanya sekedar ngobrol ringan atau sekedar saling lirik saja. Dari sekian banyak yang ngabuburit, ada satu remaja putri yang sangat menarik perhatian saya. Ia sangat cantik dan pintar. Saya sangat ingin menjadi seperti dirinya. Ia selalu menjadi pusat perhatian siapa saja. Setiap ia datang, bak putri, saya terlongo mengaguminya. Bahkan kadang saya sengaja berada di dekatnya hanya ingin menyimak apa yang ia bicarakan, atau ingin melihat kulitnya yang putih bening dan rambutnya yang lurus panjang terkepang. Kata-katanya halus lembut tertata. Kadang saya sangat berharap ia menyapa saya, tapi itu tak pernah terjadi.


Eh, bener ngabuburitnya hanya cari angin saja? Iya. Tak ada tukang jualan layaknya ngabuburit di perkotaan. Makanan buka dan sahur ya makanan rumahan. Kolak buatan emak kami masing-masing tiada duanya. Jadi ngabuburit kami  benar-benar hanya duduk-duduk di pinggir jalan melihat sungai dan sawah. Sesekali jika beruntung bisa melihat barisan burung Kuntul di pematang. 

Istimewa. 


Sunday, 25 October 2020

Temanku, Pelinduku

"Pandemi Covid-19 begini kamu masih berani naik angkutan umum dan bekerja full 5 hari dalam sepekan? ". Teman saya memasang muka kaget seperti melihat Dinosaurus beranak Gajah.  Saya pun ngakak. 

Memang seperti itulah. Saya menggunakan kereta dan ojek untuk menuju kantor. Tentunya dengan mematuhi aturan ya..pakai masker, jaga jarak (sebisa mungkin) dan cuci tangan.

Perusahaan tempat saya bekerja tidak memungkinkan untuk work from home.

Jalani saja lah ya, jangan mengeluh. Malah kudu bersyukur masih bisa bekerja.


"Emang kamu sakti ya? Kamu kebal Corona? "

Lahhhhhh..mana bisa. Digigit semut aja saya masih teriak seperti digigit buaya, bagaimana mau sakti?

Selain patuhi protokol kesehatan, yang utama menurut saya asupan makanan dan minuman sih. Kita harus pastikan apa yang masuk ke tubuh kita itu mendukung sistem imunitas ya.  Lawan dari dalam, karena yang kita lawan kan tidak kelihatan..virus.


Teman saya pun terlihat cemas. Meski dia mulutnya setajam parang tapi hatinya sebening batu es di kulkas . Ia pun kemudian memberondong saya dengan segala macam nasehat. Nasehat baik agar saya bisa aman dari Covid-19. Dan kata-kata pamungkas dia diakhir nasehat adalah...."Apa yang  bisa aku bantu?" So sweet. Ini yang bikin hatiku meleleh seperti lilin yang mati terbakar. 


Teman saya ini ahli ilmu perherbalan loh. Kalau dia tiba-tiba menghilang coba cari di bawah pohon jahe, atau di bawah pohon kunyit...bisanya dia nongkrong di situ. wkwkwkwkwk. Pokoknya dia sehat sentosa berkat herbal. Tapi karena dia tahu saya itu tak pandai bertanam rempah, tak cakap merebus dan meracik herbal, dia pun menyarankan saya minum Herbadrink. Semua dia suruh saya coba  mulai dari Herbadrink Sari Jahe, Wedang Uwuh, Temulawak, Kunyit Asam, Kunyit Asam Sirih Madu. 

Pokoknya saya tidak perlu repot, hanya tinggal seduh. Tapi teman saya masih bertanya begini " Bisa masak air kan, tinggal seduh air panas bisa kan? Gak usah banyak protes, minum!" Wkwkwkwkkw 

Siappppppp 



Berdasarkan petunjuk teman saya itulah, saya makin percaya diri menghadapi pandemi. Pertama yang saya coba rasa Jahe. Si Jahe ini saya juluki Si  Kuat Antiinflamasi yang kaya nutrisi. Herbadrink Jahe saya minum pagi sore ya, sebelum berangkat dan setelah pulang kerja.  Kalau malam jelang tidur  saya minum Herbadrink Wedang Uwuh. Kalau sedang mens minumnya yang Kunyit Asam atau Kunyit Asam Sirih Madu. Kalau badan terasa penatttt banget karena banyak begadang,  saya cocoknya minum Herbadrink Temulawak.

Hasilnya..sejak awal pandemi delapan bulan lalu hingga kini saya tidak pernah sakit. Saya bisa bekerja tanpa gangguan kesehatan. Dan apa yang saya minum juga  untuk melindungi dua anak dan suami saya loh. Karena dari kami berempat saya lah yang paling banyak beraktivitas di luar sehingga paling berpotensi membawa kuman dan terinveksi virus. Apa jadinya kalau saya terpapar dan kemudian menularkan. Intinya..saya sehat, keluarga saya juga sehat. 


Petunjuk dari teman saya soal Herbadrink  ini benar-benar luar biasa. Dia melindungi saya dan keluarga  dengan caranya.


Sudah dulu ya..saya mau seduh Herbadrink Jahe dulu.... Oh ya,yang mau ketemu teman saya...coba cari di bawah pohon Temulawak ya..siapa tahu dia lagi tiarap di situ. Wkwkwkwkwk












Monday, 19 October 2020

Cara Mudah Jadi Chef


Ketika saya bilang tak bisa masak, teman saya mencibir dengan luar biasa. "Emang kamu siapa, keturunan konglomerat? Istri konglomerat? Kalau mau makan ngundang Chef ke rumah untuk masakin? Atau setiap mau makan tinggal delivery order?  Belagu kamu"
Lhaaaaa...saya kan jadi tak enak hati. Padahal saya memang tak bisa masak ala-ala chef. Saya masak hanya bisa tumis menumis dan goreng menggoreng. 
Tapi anehnya ketika saya kemudian bilang : "Oke... saya bisa masak ",  teman saya juga tak percaya. " Sombong banget. Bisa masak apa kamu? Bikin bakwan saja kamu gagal".
Lhaaaaaa.. salah lagi..salah lagi.

Demi membuktikan pada diri sendiri kalau semua orang itu bisa masak, saya pun bertekad untuk belajar memasak. Belajar dari siapa? Kursus masak dengan pengajar chef? nanti teman saya akan bilang.... "Belagu kamu, kaya istri pengusaha aja". 
Hahahha... saya belajar dari Aplikasi Memasak Yummy  saja kok. Tidak repot hanya cukup download di playstore atau appstore  (https://yummy.onelink.me/Fhn6/YummyBlogComp)

Begitu membuka aplikasi,  saya langsung disapa sebagai Chef..hehehe.. senangnya. Berasa sejajar sama Chef Renata..wkwkwkwkwk.

Di Yummy Ada begitu banyak rekomendasi masakan, mulai dari yang sederhana sampai yang jauh dari sederhana.  Saya praktekan mulai dari yang sederhana dulu, seperti aneka telur dadar, tahu crispy, dan aneka makanan berbahan dasar mie.

Kenapa saya suka aplikasi Yummy?  Karena disitu ada petunjuk yang sangat jelas, perkiraan waktu yang dibutuhkan saat memasak, dana yang dibutukan, porsi untuk berapa orang,  hingga kehalalan masakan ( ada keterangan tanpa babi atau tidak). Jadi sangat menolong bagi pemula, atau bagi orang yang terlambat belajar masak seperti saya. Terlambat banget karena setelah 41 tahun saya baru sadar kalau kemampuan memasak saya masih biasa-biasa saja. Wkwkwkwk.

Oh ya, teman yang mencela ketidakmampuan memasak saya, jago masak loh. Dia emang seperti lahir untuk menjadi ahli dapur. Sejak kecil digembleng ibunya memasak . Saya ingat 20 tahun lalu saat kami masih kuliah, ia menunjukan pada saya buku resep masakan milik neneknya, tulisan tangan, dan diwariskan turun-temurun. Ada resep sambal hingga masakan rumit macam rawon. Dulu saya iri dengan buku resep teman saya itu karena saya tidak boleh menyonteknya. Menurut teman saya itu rahasia keluarga yang menjadikan garis keturunan keluarganya unggul dan dijamin disayang suami dan anak (karena jago masak). Wow.

Tapi sekarang saya rasa, saya bisa menandingi buku resep masakan sakti milik teman saya itu dengan aplikasi Yummy . Iya kan? Heheheh. Eh iya..di aplikasi Yummy bisa juga berbagi resep masakan, dan nantinya bisa dapat poin yang bisa di redeem atau diuangkan. Wahhhh bisa nambah penghasilan kan. Ini sih poin yang bikin saya nambah semangat belajar dan bercita-cita kelak bisa share juga resep masakan, sehingga bisa menambah penghasilan. Keren banget yak ini aplikasi Yummy.





Wednesday, 7 October 2020

Tangan Panas

Meski pernah bercita-cita menjadi insinyur pertanian, tapi hingga menua saya tidak tergerak untuk menanam tumbuhan ini itu. Padahal sejak pandemi Covid-19, di medsos berseliweran orang berfoto dengan tanaman bunga dan sayur hasil berkebun sendiri. Cantik sekali. Sayurnya cantik, yang nanam juga cantik dan ganteng. Segerrr liatnya.



Hingga kemudian saya menonton Channel Liziqi di Youtube. Wah...kehidupan yang sangat indah. Dia tinggal di pedesaan dengan segala rupa tanaman sayur buah dan rempah yang Mbak Liziqi tanam sendiri. Sayapun berkhayal  hidup seperti Mba Liziqi. 


Tapi keindahan khayalan memang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Tanah sejengkalpun saya tak punya. Halaman rumah kontrakan depan belakang sudah disemen semua. Mau nanam di mana? Teman saya memberi saran..tanam aja di ketek lo. Ihhhh..asemmmmm.



Lalu teman saya yang mulutnya tak pedas, memberi saran agar saya membeli media tanam. Kemasan segede bantal hanya Rp10 ribu.

Baiklah saya melipir ke tukang tanaman. Berasa bangga bisa beli media kehidupan bagi sayur mayur saya di masa depan.


Segera saya mengumpulkan apa saja yang bisa jadi pot bunga. Benih beli di warung 2 ribu perkemasan. Ada 3 jenis benih, bayam,tomat dan pakcoy.

Berbekal kemasan mie instant cup, dan bekas es krim saya tabur lah benih-benih kehidupan nan mengkilat dan imut.


Tiga  hari kemudian..emejing rasanya melihat pakcoy tumbuh dengan cantik..bergerombol hijau dengan daun mungil.

Wahhh saya langsung sombong..pamer di grup whats up, japri teman, lalu upload di story instagram. Saya sombong tingkat dewa. 


Hari ke lima muncul menyusul tunas bayam...wahhh..jumawa saya dan nafsu ingin pamer melanda..meronta.. .

Dan hari ke 10...munculah tunas tomat. Waahhhhhh..keriyaan saya membuncah tumpah.

Setiap saya akan berangkat  bekerja..tunas kehidupan itu saya pamiti, saya ajak bicara dengan harapan mereka cepat tumbuh. Bayangan panen bayam, pakcoy dan tomat menari-nari di kepala saya yang sok sudah jadi ahli pertanian.


Tapiiiii..memasuki minggu ketiga...tunas berhenti tumbuh. Teman saya ketawa sampai seperti gila. "Lo nanam bayam,tomat dan pakcoy kok dibonsai..Yang dibonsai itu pohon beringin kek...Makan tuh sayur bayem dengan daun selebar 3 mili...yelip di gigi lo juga gak keliatan"



Teman saya terus menganalisa dengan cerdasnya. Menurut dia, tangan saya panas. Semua tanaman akan mati di tangan saya. Saya ini pembunuh benih-benih kehidupan. Saya ini anak petani yang gak becus bertani. 

Dan teman saya  benar.


Saturday, 29 August 2020

Kereta "Hantu"


Sebagai pengguna KRL setiap hari, cerita adanya kereta hantu sudah sering saya dengar. Apalagi saya dulu sering naik kereta terakhir. Terlepas dari benar atau hanya kabar kabur, tapi saya pikir tak ada  salahnya waspada. Seorang teman memberi tahu,ciri-ciri kereta hantu adalah selama perjalanan, terasa hening. Tak ada penumpang yang berbicara, semua wajah penumpang juga akan kaku dan dingin atau bahkan terlihat ngantuk dan tertidur .

Baiklah... maka saat naik kereta malam saya selalu waspada. Begitu kereta terlihat hening, saya akan lebih banyak berdoa. Selama masih terdengar suara masinis atau suara penumpang berbincang saya lega. Tapi memang kereta malam itu tak terlalu jauh dengan ciri-ciri kereta hantu, pasti banyak orang yang mengantuk, wong hampir tengah malam tentu orang sudah lelah bekerja.



Eit, itu dulu. Sebelum ada Corona. Sekarang setelah Corona, siang dan malam sama saja ..KRL mirip kereta hantu. Penumpang dilarang berbincang baik berbicara langsung maupun melalui telepon. Wajahnya pun tentu kaku, karena tertutup masker. KRL menjadi hening, hanya ada suara iklan dan masinis yang tak bosan mengingatkan agar kami tidak berbicara dan jaga jarak. 


Tiba-tiba saya rindu kereta yang dulu,yang penuh gelak tawa, canda ria, saling ejek,bahkan saling memaki karena kaki terinjak,terdorong dan terjepit. Bahkan juga terkadang ada "adegan" saling pukul dalam perkelahian yang sengit.


Rasanya,  dulu, KRL begitu banyak warna, begitu banyak cerita.


Jadi apa bedanya ya KRL masa Corona dan KRL Hantu?

Pengalaman Pertama Makan Burger

Saat itu saya kelas 4 SD, sekitar tahun 1988, saya untuk pertama kalinya datang ke Jakarta. Rasanya, bingung. Terasa Jakarta begitu wah dan asing. 

Malam hari, saya diajak Bu Lik (tante) ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Sebagai anak yang pengalaman tertinggi hanya ikut Bapak ke pasar ikan, saya sungguh canggung. Bingung bagaimana harus bersikap, bingung saat naik eskalator. Rasanya pas turun eskalator badan seperti terdorong mau nyusruk. 

Lebih bingung lagi saat ke Food Court. Bu Lik dan Pak Lik mengajak saya ke sebuah gerai makanan cepat saji. Begitu disodori menu makanan, dan diminta memilih, kepala saya langsung pening. Nama-nama makanan yang terasa asing. Sebagai anak yang pengalaman makan tertinggi adalah bubur ganyong dan rebusan angkrik, nama burger dan kentang goreng tentu tak terbayang rasanya. Harganya pun membuat saya merinding, karena uang seharga satu porsi  burger pun belum pernah saya miliki.

Akhirnya saya memilih menu yang sama dengan Bu Lik dan Pak Lik. Mungkin karena Bu Lik memahami keterasingan saya, diputuskan kami memesan untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, burger dan aroma kentang goreng menggoda perut saya yang lapar.

Tapi begitu Burger dibuka, saya bingung, ini bagaimana makannya? Apakah perlu sendok dan garpu, apakah rotinya yang berada di lapisan paling atas harus dimakan dahulu,baru kemudian daging dan sayurnya? Apakah perlu di potong kecil-kecil dengan pisau?

Melihat wajah saya yang bingung, Pak Lik saya lalu memberi saya contoh : Begini Gi,pegang dengan kedua tangan  lalu gigit. 

Ohhhhhh..begitu. Lalu saya pun mencoba burger untuk pertama kalinya. Rasanya aneh. Sayuran mentah,daging dan roti yang digigit bersamaan, waduhhhhhh, kalau boleh saya ingin menukar saja dengan tumis kangkung,ikan asin dan sambel terasi dengan nasi hangat. 

Hahahahah